SEMARANG – Kamis (14/5) mahasiswa Papua Semarang yang tergabung dalam Koalisi Mahasiswa Papua Anti Militerisme (Komapam) menyikapi terkait penembakan yang terjadi di Kabupaten Dogiyai dengan mengadakan aksi damai. Aksi damai yang dilaksanakan mahasisiwa Papua Semarang berawal dari peristiwa ironis yang terjadi di Kabupaten Dogiyai yang menewaskan dua orang ditabrak truck dan disusul tertembaknya tiga orang warga sipil.     Menurut Komapam, peristiwa yang terjadi di Dogiyai telah menewaskan dua warga sipil yang ditabrak truck. Sedangkan tiga warga sipil tertembak oleh aparat.   Dengan melihatnya peristiwa itu, mahasiswa Papua Semarang telah menggelar aksi damai yang dipimpin ketua koordinator lapangan, Yance Iyai dan beberapa senior yang berdomisili di Semarang. Aksi damai ini dihadiri berbagai mahasiswa Papua Semarang dengan jumlah masa aksinya 30 orang.   Aksi ini, star dari depan Universitas Diponegoro Semarang kemudian seluruh mahasiswa Papua yang ikut berpartisipasi dalam aksi ini menuju Bundaran Simpan Lima sambil orasi hingga titik akhir di depan Polda Jawa Tengan Semarang. Dalam aksi tersebut yang menjadi juru bicara adalah Bernardo Boma yang saat ini sedang menimba ilmu di Universitas 17 Agustus 1945 Semarang.   Dalam sela-sela aksi yang sedang berlangsung, salah satu orator mengajak  seluruh mahasiswa Papua yang ikut berpartisipasi dalam aksi damai ini. Dirinya mengajak untuk tidak terlena dengan masalah-masalah yang terjadi di Papua. Tetapi kita harus bangkit dan lawan terhadap terorisme yang terjadi di Papua dan juga kita harus menjadi anti militerisme. Dengan demikian melalui berbagai penyuaraan yang selalu dilaksanakan di seluruh Indonesia dapat membuahkan hasil yang memuaskan dan bangsa Melanesia atau bangsa Papua dapat mementukan masipnya sendiri diatas tanah leluhurnya.   Aksi damai berakhir di depan Polda Jawa Tengah. Setibanya di depan Polda, orator-orator berorasi tentang pelanggaran HAM yang terjadi di Papua  salah satunya adalah peristiwa yang terjadi di Dagiyai pada tanggal 6 Mei 2014 silam.   Setelah semua orasinya berakhir, Yance Iyai sebangai koordinator aksi damai menyampaikan pernyataan sikap sebagai tuntutan menyikapi peristiwa penembakan yang terjadi terhadap warga sipil Kabupaten Dogiyai. Pertama, negara bertanggung jawab atas penembakan tiga warga sipil di Dogiyai. Kedua, pecat secara tidak terhormat dan adili pelaku penembakan yang menembak tiga warga sipil di Dogiyai. Tiga, adili pelaku penabrak (sopir) yang menewaskan dua warga sipil di Dogiyai, sesuai dengan hukum yang berlaku di negara ini. Keempat, Komapam juga meminta Kapolri untuk mencobot sejumlah pejabat di lingkungan kepolisian dari tingkat Polsek hinga Polda yang dinilai tidak menjalankan sesuai tugas dan tanggung jawab konstitusi Polri. Kelima, Bupati Dogiyai, Kapolda Papua dan Kapolres Nabire diminta untuk segera menarik pos Brimob dari Kabupaten Dogiyai. Keenam, stop pendekatan militerisme dalam penyelesaian masalah Papua.   Pernyataan sikap diterima Sudirman sebagai KASUBAK Umum mewakili Kapolda Jawa Tengah. Sudirman mengaku bersedia meneruskan kepada pihak yang terkait, sepertinya Kapolda, Presiden dan Kapolri berserta jajarannya. (ist)