NABIRE - Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Nabire mengakui masih menghadapi tantangan besar dalam hal keterbatasan tenaga psikolog spesialis untuk mendampingi korban dan pelaku kasus kekerasan.

Kendala tersebut disampaikan langsung Kepala Seksi Perempuan dan Anak DP3A Kabupaten Nabire, Nurmawati, saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis, (13/08/2026). “Sementara kami masih mengupayakan adanya tenaga psikolog,” ujar Nurmawati kepada Papuapos Nabire.

Meski dihadapkan pada keterbatasan tenaga ahli, pihak dinas tetap berupaya memberikan pendampingan awal secara maksimal agar pihak pelaku mau bersikap kooperatif selama proses penanganan berlangsung.

“Pendampingan sementara kami memberikan rasa nyaman, supaya pelaku ini bisa menyampaikan, setiap perkara yang dia sudah lakukan, dia sampaikan dengan rasa nyaman, tidak dalam tekanan,” jelasnya lebih lanjut.

Sementara itu, bentuk pendampingan yang diberikan kepada pihak korban lebih difokuskan kepada keluarga dan orang tua guna mencegah munculnya trauma psikologis yang berkepanjangan di masa depan.

“Pendampingan untuk lebih pada orang tua sebenarnya, agar tidak ada rasa trauma ke depannya, kalau memang butuh psikolog, nanti kami mungkin bisa menghadirkan psikolog untuk keluarga,” terang Nurmawati.

Sebagai langkah lanjutan, DP3A telah menjadwalkan kunjungan langsung ke kediaman keluarga korban dalam beberapa hari ke depan guna memantau kondisi mental sekaligus memastikan pemulihan psikologis mereka berjalan dengan baik. (sam)