NABIRE - Pemerintah Kabupaten Nabire melalui Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) resmi mengantongi data terbaru terkait prevalensi stunting yang akan dijadikan acuan utama dalam perencanaan program tahun 2027.

Data resmi tersebut bersumber dari hasil pengukuran langsung yang dilakukan oleh petugas di tingkat bawah, baik melalui Puskesmas, Pustu maupun kunjungan langsung ke rumah-rumah warga per Juni 2026.

“Data itu sudah dirilis dan resmi kami gunakan untuk intervensi stunting tahun 2027 nanti,” ujar Kepala Bidang Sosial Budaya Bapperida Kabupaten Nabire, Luis Marthen Inggesi, S.Sos., M.M., saat ditemui di Aula RRI pada Rabu (30/9/2026).

Berdasarkan hasil pendataan di lapangan, petugas kesehatan telah mencatat dan melakukan pengukuran terhadap lebih dari 9.000 bayi di Bawah Dua Tahun (Baduta) di seluruh wilayah Kabupaten Nabire.

Dari total 9.000 lebih Baduta yang diukur tersebut, petugas menemukan adanya indikasi stunting pada sekitar 1.500 anak yang tersebar di berbagai wilayah kabupaten.

“Dari 9.000 sekian itu terdapat sekitar 1.500an bayi yang indikasi stunting, jadi indikasinya itu untuk tahun ini, untuk tahun 2026 ini ada 1.500,” kata Luis menjelaskan rincian temuan data tersebut.

Data riil hasil pengukuran lapangan ini selanjutnya telah diserahkan kepada tim lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD) agar terintegrasi langsung ke dalam Rencana Kerja (Renja) OPD maupun dokumen Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD).

Dengan keterlibatan lintas sektor ini, intervensi penanganan stunting pada tahun 2027 mendatang dipastikan akan terarah secara spesifik dan tepat sasaran kepada 1.500 Baduta terindikasi tersebut. (sam)