Dua ‘Zendeling’ Jerman Bawa Kabar Sukacita untuk Papua
NABIRE - Pada tanggal 5 Februari 2018, Gereja Kristen Injili (GKI) di tanah Papua bersama seluruh umatnya dan segenap rakyat Papua be
Bagikan
NABIRE - Pada tanggal 5 Februari 2018, Gereja Kristen Injili (GKI) di tanah Papua bersama
seluruh umatnya dan segenap rakyat Papua beserta denominasi Gereja-gereja telah
merayakan Hari Ulang Tahun ke-163, masuknya Injil di tanah Papua. Dimana, kabar
sukacita itu telah dibawa masuk seiring dengan mendaratnya 2 (dua) orang
Zendeling (Penginjil) asal Jerman, Carl Willem Ottow dan Johann Gottlob
Geissler di Pantai Pasir Putih Pulau Mansinam, di depan bibir Teluk Doreh, yang
kini dikenal dengan nama Teluk Doreri. Dimana, kala itu, setelah Ottow dan Geisler menginjakkan kaki di tanah Mansinam, mereka berjumpa
dengan wajah-wajah sangar dan tidak bersahabat dari penduduk pulau tersebut,
yang mana bahasanya pun belum diketahui oleh Ottow dan Geissler, yang saat itu
hanya ditemani seorang anak muda bernama Fritz (12), dan Fritz merupakan anak
dari seorang guru di Ternate, yang diserahkannya kepada kedua zendeling guna
menjadi pelayan mereka. Kedua penginjil tersebut, sempat dipandang oleh orang asli Pulau Mansinam tersebut sebagai
orang asing yang hendak datang untuk merampas kebebasan mereka, sehingga cepat
atau lambat keduanya harus disingkirkan. Perjalanan Ottow dan Geissler dari negeri Jerman itu ke tanah Papua pada tahun 1855 berlangsung
dalam waktu tiga tahun sebagaimana ditulis dalam buku, Fajar Merekah di Tanah Papua : Hidup dan
Karya Rasul Papua Johann Gottlob Geissler (1830-1870) dan warisannya untuk masa
kini, yang disunting oleh Pdt. DR. Rainer Scheunemann, terbitan Panitia
Jubelium Emas 150 Tahun Hari Pekabaran Injil di Tanah Papua, tahun 2004 silam.
Kisah Sekretaris Komisi HAM, Perdamaian, Keadilan dan Keutuhan Ciptaan, Badan
pekerja GKI Manokwari, Yan Christian Warinussy, SH. Kata Christian, perjalanan panjang ke tanah Papua dimulai dari Berlin-Jerman ke Belanda pada
tahun 1852 yang menurut catatan Geissler, Tanah Papua (New Guinea) adalah
tujuan dan kerinduannya. Dari Berlin ke Belanda perjalanan mereka sebagian
besar ditempuh dengan berjalan kaki untuk menghemat biaya. Pada tanggal 26 Juni 1852 malam hari, Ottow dan Geissler berangkat dari Rotterdam, Belanda
menuju Batavia (kini Jakarta) dengan menumpang Kapal Abel Tasman. Pada 17
Oktober 1852 mereka tiba dengan selamat di Batavia dan kesabaran mereka diuji,
karena mereka harus menunggu disana selama kurang lebih 2 tahun, yaitu tepatnya
pada bulan April 1854 barulah ada kesempatan untuk mereka meninggalkan Batavia
untuk menuju tanah kerinduan mereka, yaitu Papua. Kenapa mereka menuju Pulau Mansinam? Karena di Batavia ada seorang saudagar muda bernama Ring
yang telah mendirikan sebuah perkumpulan misi, dan dia mendapat informasi bahwa
di pulau kecil Mansinam dekat Manokwari hidup orang-orang yang terbuka. Menurut
catatan bahwa waktu itu (1854), tanah Papua tertutup dan penduduknya dianggap
buas serta menolak orang asing. Perjalanan dari Batavia menuju ke Ternate, wilayah otoritas pemerintahan Kesultanan Tidore saat
itu, dimana Sultan Tidore sendiri tidak keberatan apabila kedua rasul tersebut
datang ke Mansinam. Hal itu ditandai dengan diberikannya surat jalan kepada
kedua Zendeling oleh Sultan Tidore yang oleh penduduk Pulau Mansinam diakui
kekuasaannya dibawah Pemerintahan Belanda waktu itu. Pelayaran dari Ternate dengan menumpang kapal Ternate pada bulan Januari 1855 itu akhirnya
tiba di Pulau Mansinam pada 5 Februari 1855 tepat pukul 06.00 (WIT) pagi hari,
bersamaan dengan fajar yang merekah di Ufuk Timur tanah Papua, jangkar kapal
dibuang untuk berlabuh di Teluk Doreh. Keberadaan mereka di Pulau Mansinam dimulai dengan tinggal sementara waktu di sebuah gubuk
peninggalan pelaut di tepi pantai pulau tersebut dan berupaya untuk dapat
mencapai pantai Manukwar (kini Manokwari) dengan mulai membuat perahu. Ketika mereka berhasil membuat sebuah perahu yang dapat mengantar mereka berdayung hingga
tiba di bibir pantai Manukwar, mereka mendapati seluruh pantai dipenuhi hutan
rimba. Sehingga beberapa hari harus bekerja menebangi pohon-pohon dan pada
malam harinya mereka kembali ke Mansinam. Akibat keras bekerja itu, maka mereka bertiga (Otow, Geissler dan Fritz) sempat jatuh sakit secara
beruntun, walau akhirnya mereka bisa pulih setelah diserang penyakit malaria.
Akan tetapi semangat mereka untuk membuka tabir peradaban hidup orang Papua
yang dipandang primitif, sangar, buas dan tidak bersahabat telah mendorong
mereka untuk terus kuat bertahan dan bekerja selama mungkin. Hasilnya, untuk kepentingan komunikasi, maka mereka mempelajari bahasa lokal penduduk Mansinam,
yaitu Bahasa Numfor (Mafoor), dan mereka juga berhasil menyusun sebuah kamus
berisi 1500 kata dalam bahasa Numfor yang diserahkannya kepada komisi ilmu
pengetahuan Belanda yang diutus ke Mansinam pada tahun 1858. Dengan modal memahami bahasa Numfor dengan ditambah pemahaman atas bahasa Melayu, maka
proses penginjilan dapat berjalan dengan semakin baik di Pulau Mansinam dan
Manokwari, sebagai tempat pertama Injil Kristus mulai ditanamkan oleh kedua
Rasul tersebut. Hal itu terbukti nyata, ketika mereka berdua dapat mengajarkan Doa Bapa Kami dalam bahasa Numfor
yang menjadi alat ampuh untuk semakin mendekatkan pemahaman dan hubungan dalam
konteks penginjilan dengan orang-orang asli di Pulau Mansinam pada masa
tersebut. Tantangan dalam penginjilan juga dihadapi bukan saja dari penduduk asli Pulau Mansinam, tetapi
juga dari para bajak laut yang seringkali datang ke pulau tersebut dengan
tujuan merampok dan membunuh. Ottow dan Geissler seringkali terlibat dalam upaya mereka membela penduduk pulau ini
dengan mengejar dan berupaya membebaskan para tawanan bajak laut tersebut.
Pembebasan itu tidak dicapai dengan cara-cara mudah, karena kedua zendeling
juga harus terlibat pertarungan fisik yang sengit dan melelahkan dengan para
bajak laut tersebut. Ini menjadi bukti betapa tantangan yang dihadapi para pembawa
injil tersebut tidak mudah dan sangat berat saat itu. Pada 9 November 1862,
Ottow meninggal dunia di Manokwari dan dimakamkan di Kwawi, Kabupaten
Manokwari. Kemudian Geissler wafat pada tanggal 11 Juni 1870 di Siegen, Jerman. Meskipun kedua zendeling tersebut sudah wafat, tetapi buah dari pekerjaan mereka yang pertama
kali mendaratkan Injil di Pulau Mansinam, tanah Doreri tersebut hingga saat ini
telah berbuah dan bertambah banyak memenuhi seluruh persada tanah Papua.
Sehingga senantiasa diperingati oleh kalangan Gereja Kristen maupun dengan
dukungan pemerintah daerah ini sebagai suatu waktu dimana peradaban orang-orang
asli Papua telah dirubah dari sebutan dahulu sebagai bangsa biadab menjadi
bangsa yang beradab dan memiliki martabat dan hak asasi yang sama dengan
seluruh penduduk bumi ini. (cad)
Bagikan artikel ini



