NABIRE - Seorang anak kehilangan nyawa, sementara seorang anak lain harus berhadapan dengan hukum akibat tragedi pembunuhan di Waroki, Nabire. Peristiwa kelam yang melibatkan anak di bawah umur ini tidak hanya menjadi catatan kriminal biasa, melainkan sebuah luka mendalam bagi dunia pendidikan di Kabupaten Nabire.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Nabire, Dra. Dina Pidjer, M.M, menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas kejadian tersebut. “Cukup. Ini harus jadi yang pertama dan terakhir,” ujar Dina dengan suara lirih, namun tegas saat ditemui usai upacara HUT ke-81 RI di Lapangan Sapta Marga, Makodim 1705/Nabire, Senin (17/8/2026).

Dina mengingatkan, waktu belajar anak di sekolah sangat terbatas, sementara sebagian besar waktu mereka dihabiskan di lingkungan rumah dan masyarakat. “Kejadiannya di luar jam sekolah. Di situlah peran kita sebagai orang tua, sebagai tetangga sebagai masyarakat, diuji,” tambahnya.

Ia mengajak seluruh orang tua untuk memberikan perhatian yang lebih besar kepada anak-anak mereka dengan cara memeluk, mendengarkan serta menegur dengan penuh kasih sayang. Menurutnya, anak yang tampak diam di luar sering kali sedang memendam keinginan untuk mendapatkan perhatian.

Menanggapi pertanyaan publik mengenai nasib pelaku dan potensi pengeluaran dari sekolah, Dina memberikan penjelasan secara hati-hati. “Tidak. Kami tidak mengeluarkan. Kami hanya memberhentikan sementara,” tegasnya sembari memahami kemarahan yang dirasakan oleh masyarakat.

Ia menegaskan, pihak sekolah tidak berhak menghakimi masa depan anak sebelum adanya putusan hukum yang sah dari pengadilan. “Setiap anak berhak mendapat pendidikan, itu amanat Pasal 31 UUD 1945. Jika nanti harus menjalani hukuman, hak belajarnya tetap kami penuhi lewat jalur nonformal,” tuturnya.

Hingga saat ini, pihak keluarga pelaku belum mendatangi dinas dan Dinas Pendidikan serta Kebudayaan Kabupaten Nabire juga belum menerima pengaduan resmi terkait kasus tersebut.

Sebagai langkah responsif, dinas pendidikan berupaya agar kejadian ini tidak sekadar menjadi duka tanpa solusi konkret. Para guru diminta untuk meningkatkan kepekaan sosial, tidak sekadar mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi pendengar yang baik bagi para murid.

Selain itu, sekolah-sekolah di wilayah setempat didorong untuk bertransformasi menjadi rumah kedua yang benar-benar ramah anak. Berbagai pamflet serta brosur kampanye anti-perundungan dan anti-kekerasan mulai dipasang di dinding-dinding kelas, termasuk di sekolah tempat pelaku sempat menempuh pendidikan.

Langkah preventif tersebut bukan bertujuan untuk memberikan penghakiman, melainkan sebagai pengingat bahwa tindakan kekerasan di kalangan anak-anak tidak pernah muncul tanpa sebab.

Dina berharap peristiwa di Waroki ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh masyarakat Nabire agar lebih waspada dalam mengawasi pergaulan anak.

“Anak-anak kita adalah titipan. Jika kita lalai sehari saja, penyesalannya bisa seumur hidup,” pungkasnya dengan mata berkaca-kaca.

Tragedi di Waroki menyisakan duka mendalam bagi Nabire atas dua anak yang masa depannya ikut terenggut hari itu. Dari kepedihan tersebut, terselip harapan besar agar masyarakat dapat memperkuat penjagaan dan perlindungan terhadap generasi masa depan. (amd)