NABIRE - Virus African Swine Fever (ASF), merupakan penyakit pada Babi yang sangat menular dan dapat mengakibatkan kematian pada hewan ternak tersebut hingga 100 persen, belum ditemukan di Kabupaten Nabire.


Meskipun demikian, guna mencegah penularan ASF, Dinas Peternakan (Disnak) Kabupaten Nabire melakukan pencegahan agar virus itu tidak masuk Nabire dengan pelarangan masuknya hewan atau produk pangan asal hewan dari daerah tertular virus ASF melalui pengawasan lalu lintas hewan dan produknya di pelabuhan ataupun Bandara.


Disampaikan Pemerintah Kabupaten Nabire melalui Disnak Nabire, ternak Babi di Nabire belum ada terkena virus ASF ini, namun telah melakukan pencegahan dan pelarangan masuknya hewan atau produk pangan asal hewan dari daerah tertular.


Kepala Disnak Nabire, Drh l Dewa Ayu Dwita, saat ditemui awak media di ruang kerjanya, Senin (25-3-2024) menjelaskan, menghindari virus menyebar di Nabire, peternak Babi diharapkan untuk sering membersihkan kandang dan melakukan penyemprotan desinfektan menyeluruh di sekitar kandang.


"Bila ada Babi yang mati mendadak segera lapor ke Dinas Peternakan, agar segera bisa diketahui penyebabnya. Karena penyakit Babi bukan hanya ASF saja, ada juga Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan Classical Swine Fever (CSF)," ujarnya.


Untuk diketahui, ASF adalah penyakit pada Babi yang sangat menular dan dapat mengakibatkan kematian pada Babi hingga 100 persen, sehingga mengakibatkan kerugian ekonomi yang sangat besar. ASF tidak bersifat zoonosis, artinya penyakit ASF tidak menular dari hewan ke manusia.


Ciri-ciri klinis ASF pada Babi, seperti, lesu, bercak merah pada kulit, diare atau konstipasi, leleran mata dan hidung, demam (41-42 derajat celcius), Babi mati mendadak dan banyak dijumpai babi liar yang mati.
ASF dapat menyebar melalui, kontak langsung, serangga, pakaian, peralatan peternakan, kendaraan, pakaian yang terkontaminasi.


Untuk pencegahan ASF tidak masuk kandang, untuk babi hutan, kandangkan ternak Babi. Untuk Babi bibit atau pemacek, harus dari sumber terpercaya dan babi tidak terkena virus ASF. Vektor, pengendalian hama. Kendaraan tidak boleh masuk ke area peternakan. Pakan dan air harus dari sumber yang bebas kontaminasi atau lakukan pemanasan sebelum digunakan.


Untuk Babi yang terkena penyakit ASF, segera dilakukan isolasi hewan yang sakit dan peralatan serta melakukan pengosongan kandang selama dua bulan.
Sementara itu, ketika ditemukan Babi mati karena penyakit ASF, segera dikuburkan oleh petugas untuk pencegahan lebih luas. Tidak menjual Babi yang terkena penyakit ASF serta tidak mengkonsumsinya, lantaran hingga saat ini belum ditemukan vaksin untuk mencegah penyakit ASF.


"Langkah strategis utama dalam mencegah terjadi ASF adalah melalui penerapan biosekuriti dan manajemen peternakan Babi yang baik serta pengawasan yang ketat dan intensif untuk daerah yang beresiko tinggi," pungkasnya.(amd)