Esai ; Abdul Munib*

Judul diatas diambil dari sebuah proposisi yang terkenal dalam ilmu makrifat dan hakikat. Man arafa nafsahu fa qad arafa rabbahu, siapa mengenal dirinya akan mengenal Tuhannya. Ada juga yang membaliknya pada terjemahan bebas : Siapa menganal Tuhannya maka akan mengenal dirinya. Kedua proposisi bertolak belakang ini sesungguhnya hanya sarana untuk mencapai satu penghayatan saja.

Bahwa pada mulanya ilmu manusia berkisar pada yang terkait dengan dirinya. Seorang bayi yang baru berusia sehari dia mencari pengetahuan pertamanya yakni puting susu ibunya. Di dunia yang baru dikenalnya ia juga pertama kali mendapati dirinya lapar, untuk itu ia butuh asupan. Ia mencarinya dengan alat tangis sambil bergerak sebisanya. Setelah beranjak besar anak-anak mengenal alam disekelilingnya dan kehidupan sosial dalam masyarakatnya. Proses mengetahui terjadi pada setiap orang. Hanya saja setiap orang, - meski punya potensi akal yang sama, tidak mengaktualisasi secara sama. Ada yang sangat tekun dan punya biaya untuk sekolah setinggi-tingginya. Ada yang pemalas apalagi ditambah tidak punya biaya untuk sekolah.

Ilmu pengetahuan manusia dalam perjalanan peradabannya berangsur menguak foenomena-fenomena. Baik fenomen alam, fenomena metafisika, fenomena rasionalitas, fenomena kitab suci dan fenomena lainnya. Atau bahkan gabungan dari dua fenomena atau lebih. Para ilmuwan mengawal perkembangan ilmu pengetahuan tiada henti waktu demi waktu. Namun majhul (hal yang belum diketahui) masih lebih banyak dari yang telah diketahi (ma'lum). Masih berupa misteri yang menunggu dikuak oleh ilmuan berikutnya. Bencana alam semisal Banjir Nuh lah, yang dapat menghentikan perkembangan ilmu pengetahuan seiring dengan binasanya peradaban manusia. Untuk kemudian memulainya lagi dari nol.

Dari sekian banyak disiplin ilmu pengetahuan yang dijaga dan dikawal oleh ilmuwannya masing-masing, tidak semuanya trending di tengah masyarakat. Ada kekuatan trend politik internasional maupun nasional yang dengan tangan kekuasaannya membuat skala prioritas untuk menaruh salah satu disiplin ilmu pengetahuan berada di prioritas utama dan pertama. Peradaban Barat bahkan menegasikan ilmu-ilmu non-sains. Menurut mereka yang layak jadi ilmu pengetahuan adalah fenomena yang dapat terindera. Di negara kita misalnya membelah sekolahan ke dalam dikotomi sekolah umum dan sekolah agama dalam kurun waktu yang cukup lama. Seolah kalau sekolah agama nanti anaknya berakhlak tapi tidak bisa dapat melamar kerja. Dan kalau sekolah umum nanti gampang dapat kerja tapi anaknya badung (nakal).

Apalagi ilmu pengetahuan terkait filsafat metafisika, ilmu logika maupun ilmu irfan. Di Indonesia jarang sekali mendapatkan perhatian. Padahal hanya dengan memahami wujud (eksistensi) secara baik, kita dapat membedah Pancasila tanpa menggunakan teologi-teologi agama-agama. Ilmu teologi hanya layak dibedah dan diperdengarkan di ruang keumatan masing-masing agama. Tidak bisa dipakai dalam ruang kebangsaan Indonesia. Jika digunakan tentu akan silang sengkarut pada subjektiitas teologinya masing-masing.

Karena salah satu amanat konstitusi kita di dalamnya ada Mencerdaskan Kehidupan Bangsa, maka seharusnya ilmu-ilmu yang layak untuk menopang Pancasila dapat diajarkan secara gratis kepada seluruh rakyat Indonesia atas inisiatif dan dukungan negara. Sila pertama secara urgensi membutuhkan ontologi. Yang dengannya eksistensi dapat difahami secara kokoh dan mendasar.

Dalam satu hadits Kudsi, Tuhan berkata bahwa dirinya adalah Perbendaharaan yang samar dan rindu untuk dikenal. Dalam salah satu proposisi irfan dikatakan bahwa pada mulanya Tuhan memuji diri-Nya dan pujian itu menjelma menjadi makhluk pertama yaitu Nur Muhammad, yang darinya alam semesta dan isinya berasal dan berawal.

Walhasil karena memakrifati diri dan memakrifati Tuhan itu identik, maka tidak bisa diletakan dalam urutan waktu. Namun melalui teori disposesi, dinyatakan bahwa dari yang material lah kita mengenal yang immaterial (metafisika). Melalui Muhammad bin Abdullah, makhluk sejarah (fisik) yang menjadi Nabi terakhir, kaum muslimin mengenal Allah (metafisik). Kepada Tuhan yang dikenal melalui Muhammad lah kaum muslimin menyembah. Tentu ketika dalam injil dikatakan : Tidak akan sampai kepada Allah terkecuali melalui aku, itu juga syah menurut teori disposesi yang ditemukan oleh filsuf Bagir Sadr. Manusia tak dapat mengenal Tuhan langsung tanpa keterangan dari Nabi utusan. Dalam realitasnya kadar atau level kedalaman dalam memakrifati makna Tuhan setiap orang berbeda-beda. Tapi cukup dengan makrifat makna Tuhan seadanya, seorang awam dapat melakukan penyembahan.

Manusia wajib menyadari bahwa dirinya terlahir dari rahim ibunya sebagai manusia, terkategori ke dalam entitas berakal. Akal adalah suatu amanah, yang manusia di alam Aradna (penawaran) telah terlanjur menerimanya, setelah langit dan gunung menolak amanah itu. Untuk itu kepada manusia diberikan kemerdekaan (free-will) satu paket dengan pertanggung-jawabannya. Yang pada akhirnya untuk manusia disediakan jalan bercabang dua untuk pungkasan nestapa abadi (neraka) dan pungkasan kemuliaan abadi (surga). Sebagai reaksi dari pilihan-pilihan yang diambilnya selama hidup dan pertanggung-jawabannya, dua jalan bercabang di akhir harus diterimanya.

Manusia sebagai entitas berakal wajib membuka kesadaran tingkat tingginya, bahwa dirinya bersama entitas lain di jagad raya ini adalah kontingen (wujud mumkin) yang bergantung mutlak kepada Dzat Niscaya Ada (wajibul wujud). Seperti semesta, jiwa manusia hakikatnya adalah kebergantungan itu sendiri. Orang Sunda mengatakan Fenomen diatas dalam peribahasa Sunda : Dharma Wawayangan Wae, seperti bayangan - suatu realitas berkebutuhan total kepada Tuhan Sang Maha Kaya (Al Ghani).

Sehingga seorang manusia yang telah mengenal dirinya dengan penghayatan sangat dalam akan mengatakan bahwa yang paling jelas dan nyata sebagai realitas itu adalah Tuhan saja. Meskipun Tuhan tak terindera atau tak terkonsepsi oleh abstraksi akal. Sementara para makhluk bernisbat kepada eksistensi (wujud) hanya karena eksistensi luberan atau limpahan dari Sang Wujud Mutlak, Tuhan.

Memahami sila pertama Ketuhanan yang maha esa perlu penghayatan yang terus mendalam. Sebagaimana kita diberi peritah untuk tazabur kitab suci, sebagai bangsa Indonesia kita perlu tazabur Pancasila. Sila pertama perlu kita hayati sedalam-dalamnya sebagai Tauhid Bangsa. Salah satu cara mengenalnya dengan makrifat diri kita. Dalam hierarki piramida semesta, kesadaran rasional yang ada pada manusia menduduki posisi tertinggi. Sehingga layak diseru oleh wahyu. Karena wahyu kitab suci tidak menyeru entitas batu, tumbuhan maupun hewan.

Secara materi pada mulanya kita bisa saja nasi atau sayur kangkung yang dimakan oleh kedua orang tua kita. Lalu sari makanan itu diedarkan melalui pembuluh darah, terkonversi menjadi nutfah. Lalu sperma atau air mani itu bercampur mengalami pembuahan. Segumpal darah yang nempel di dinding rahim ibu kita tercinta seperti lintah menempel di dinding gua. Dengan percikan ruh-Nya, Tuhan meniupkan lalu jadilah janin manusia. Kecebong manusia yang dikandung sembilan bulan. Ikatan materi dan ruh itu terpatri dalam kesatuan simpul yang dinamakan Nafs atau Jiwa. Orang Jawa mengatakannya Sukma. Jiwa itu berkeabadian. Maka setelah engkau mengenal diri sejatimu, tak mungkin kau mengganggap kehidupanmu akan berakhir di sebatas kuburan.

Sila pertama harus membangkitkan dimensi kalbu atau hati sebagai sumber kekuatan, sebuah tekad kuat dari sebuah bangsa Pancasila yang akan dapat menembus ujung-ujung langit. Penyair Chairil Anwar dalam satu puisinya mengatakan : Meski susah sungguh Mengenal-Mu penuh seluruh.

Walhasil dalam peroses mengenal diri dan mengenal Tuhan tidak akan mencapai kata finish. Karena, dalam hal spiritual, kita pantang menemukan. Kita hanya mencari. Aku jauh, Engkau jauh Aku dekat, Engkau dekat, kata Bimbo.

Esais ; Penanggungjawab Harian Papua posisi Nabire dan Papuapos TV