Kajian Ilmiah Pers (64)
Kebutuhan Jurnalistik kepada Metafisika

Warna Pers Indonesia sejak Orde Baru lebih condong ke Barat. Masa itu ditandai dengan mulai munculnya merek produk pers terkenal seperti Kompas, Tempo, dan Jawa Pos. Pada Era ini jurnalistik mengidentifikasi diri pada pola penalaran induksi. Dan mempersepsi deduksi seperti opini, artikel, kolom, karya ilmiah populer, dan esai sebagai yang bukan jurnalistik tapi tetap masih menjadi isi media.
Dalam Kajian Ilmiah Pers yang telah menjadi tradisi koran harian Papua Pos Nabire, Abdul Munib menjelaskan bahwa, dalam penalaran induksi maupun deduksi keduanya memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri.
"Pada keduanya hanya ada perbedaan titik start saat memulai berpikir. Induksi start dari partikular atau dari materi yang terindera. Sedangkan pola penalaran deduksi dimulai dari benak pikiran mengkonsepai hal universal. Pada keduanya ada tiga kesamaan. Sama-sama mengarungi samudera realitas. Sama-sama menimba sumber dari realitas. Dan sama-sama bertujuan kepada proposisi-proposisi, " ujar Munib.
Menurut Munib, realitas ada yang fisika ada yang metafisika. Realitas yang fisika dapat dijangkau panca indera, untuk diferivikasi dan dinilai oleh benak. Fisika berada dalam plat atau lempeng yang dapat dilihat, didengar, diraba, dicium dan diditeksi asin, manis dan pahitnya.
Sementara metafisika tergambar dalam level-level dan berhulu pada metafisika mutlak yakni Tuhan. Dalam kegaiban mutlaknya yang bahkan ilmu para nabi pun tak dapat menjangkaunya. Pada titik inilah bangsa Indonesia yang berjati-diri Pancasila dengan sila pertamanya berkebutuhan mutlak pada penalaran Metafisika yang dinafikan di tradisi berfikir masyarakat Barat. Mazhab Imperium kapitalis materialisme empiris.
Pers Nasional yang bercokol di Bumi Nusantara yang ber-DNA Pancasila sudah otomatis berkebutuhan kepada penalaran Metafisika. Konsekwensi menjadi bangsa berTuhan adalah mengikuti aturan-Nya, yang populer disebut agama atau syariat. Semua kitab suci sudah pasti akan cenderung pada realitas metsfisik
Dan hanya sekedarnya membahas konten fisika alakadarnya. Karena realitas fisika pola-polanya terus digali oleh ilmuwan sains.
Hal nomor dua mengapa jurnalistik berkebutuhan pada metafisika adalah karena insan pers adalah seorang manusia. Dimana pada diri manusia selain raganya ada level lapisan metafisika, yakni benaknya, perasaan-perasaannya, suasana hatinya.
Walhasil menurut Munib pelaku jurnalistik, dengan karya-karyanya yang dibaca masyarakat adalah entitas yang mengandung fisika dan metafisika. Dari sisi fisika manusia sama dengan binatang primata. Dari sisi metafisika dia terbedakan oleh level kesadaran yang tidak dimiliki oleh binatang. Secerdas-cerdasnya binatang mereka berada dalam level kesadaran yang tak layak diberikan kemerdekaan padanya dan dimintai tanggung-jawab disisi Tuhan.
Bahkan metafisika mutlak adalah eksistensi mutlak. Satu-satunya keberadaan yang tak didahului ketiadaan. Satu-satunya realitas yang tak mengenal kata akhir. Disinilah Pers Nasional kita ditantang untuk menembus cakrawala langit metafisika, agar segenap tulisannya tersungkur dalam sujud peribadatan menyembah makna Tuhan yang telah disadari sepenuh dan seutuhnya. Hadir jelas dalam hari-harinya, menyempurnakan segala upaya kecil hambanya.
Karena justru metafisika lah yang melahirkan fisika. Maka boleh dikata, asal fisika dari metafisika mutlak. Asal metafisika dangkal, seperti adanya entitas jin, juga berasal dari metafisika mutlak. Oleh sebab itu jurnalistik berkebutuhan urgen pada metafisika. Independensi yang sering menjadi dasar jurnalistik adalah berupa tekad jiwa wartawan, yang berdiri awas dan waspada, agar dapat menghindar dari kepentingan kedagingan yang bisa jadi datang dari sumber berita, pemilik media, atasan dalam tugas bahkan diri wartawan sendiri. Independen berada dalam sikap jiwa yang metafisik.
Yang ketiga kebutuhan jurnalistik kepada metafisika terdapat pada wartawan sebagai seorang beriman. Muatan agama paling banyak adalah perkara realitas metafisika. Surga, neraka, malaikat, jam, barzah semuanya adalah perkara metafisika. Hanya sedikit sekali muatan fisika dalam Kitab Suci. Perkara fisika dilkembangkan oleh akal manusia melalui membaca pola alam yang hasilnya disebut sains. (amd)
Bagikan artikel ini



