Sketsa Bareks
Cerpen : Pace Munib

Cerpen : Pace Munib
Bareks baru mengerti bahwa sesuatu itu harus dibaca polanya terlebih dahulu. Menguji-cobanya lalu terus menguliknya. Tanpa pernah puas untuk berhenti. Juga soal bisnis. Percakapan antara Bareks dan Aku seringkali berkutat pada persoalan pola yang ada pada bisnis. Bagaimana ekonomi dunia diputar oleh para pelakunya. Dalam pola besar Tuhan sedang ditantang perang melalui praktik riba internasional.
Pada diri Bareks terkumpul praktisi wirausaha, kualifikasi akademik sebagai doktor ekonomi dan terakhir ia menekuni filsafat hikmah. Sehingga dari kawanku ini banyak sekali pandangan ekonomi yang menarik.
Bareks dan Aku lahir besar di desa. Dari jalan Pantura desa kami berjarak sekitar 30 kilometer. Kami dua lahir di dekade enam puluhan. Merekam apa saja sejak dekade tujuh puluhan.
Kami tahu persis pemerintahan Orde Baru memperkenalkan pupuk Urea ke petani di desa dengan program Bimas Inmas. Menekankan setiap petani wajib berhutang pupuk, nanti bayar saat panen. Kalau tidak mau ambil utangan pupuk akan dicap menentang Orde Baru.
Begitu lah adanya dahulu, pemerintahan Indonesia yang dijalankan secara tentara. Di sekolah dan di pidato Kepala Desa selalu dikumandangkan Tinggal Landas ketika Repelita sudah dua puluh lima tahun katanya. Tapi ternyata semua itu tidak kunjung datang. Malah Krismon yang ada di penghujung rezim Orde Baru itu. Mahalnya biaya sarjana ketika harus menghabiskan sawah dua bau. Tapi pendidikan itu untuk mencetak buruh tenaga kerja.
Mulai dari awal dekade tujuh puluhan itulah, rakyat desa kami mulai mengenal menghutang dalam jumlah banyak. Sebelumnya namanya menghutang hanya dikenal rakyat buruh tani untuk meminjam satu atau dua kati beras dari orang kaya desa yang akan dikompensasi dengan tenaganya dalam pengolahan lahan.
Sekitar 170 tahun sejak hutan rawa Gadung itu dibuka oleh Buyut Rakinten, kini rakyat desa itu sudah hidup menyesuaikan daerah lain di Indonesia. Punya rumah tembok. Motor dan mobil. Kerja di luar pulau bahkan luar negeri. Desa itu seperti sanktuari burung-burung. Ada yang terbang jauh. Ada yang terbang pendek. Ada yang seputaran dahan-dahan pohon saja.
Rata-rata generasi yang hidup di desa itu sudah mencapai kisaran tujuh atau delapan turunan silsilah. Bareks selalu membaca perkembangan penduduk desa itu dari waktu ke waktu.
*
Menurutnya satu desa yang dikaji dengan mendalam, adalah laboratorium yang dapat diterapkan pada seluruh desa di Indonesia. Perbedaannya terletak pada potensinya yang berbeda-beda. Selebihnya sama saja. Bareks sangat terobsesi dengan janji Tuhan dalam Kitab Suci : Jika penduduk suatu desa beriman dan bertakwa maka Tuhan akan membuka berkah dari langit dan bumi. Bareks ingin sebab akibat ini terjadi di desanya.
"Kita harus menginventarisir semua pola usaha di desa. Dan hubungannya dengan bagaimana dunia ini dikelola oleh pendesainnya. " Bareks dan aku hari itu berjalan di pematang sawah menuju gubuk untuk berteduh.
"Kelambatan ekonomi negara kita harus ditemukan obatnya, " kataku.
"Persis. Evaluasi pertama adalah formula pendidikan kita yang meniru Barat seratus persen dalam pedagogi Taksonomi Bloom. Itu sebenarnya proses ajar dan semua muatannya empirisme kapitalis. Pesertanya disiapkan untuk jadi buruh kaum pemodal. Pengajaran hanya untuk mengolah subjek benak. Tidak ada pola Didik untuk subjek jiwa, membangun karakter. Ini yang nihil. Makanya koruptor bangsa ini mewabah dimana-mana dari atas sampai bawah. Karena soal moral diserahkan di rumah masing-masing dan kegiatan agama masing-masing. "
"Bagaimana caranya kita merubah ini? " tanyaku.
"Banyak cara. Bangsa Nusantara punya karakter perlawanan terhadap kezaliman. Sejak bangsa Barat hendak menaklukan Nusantara selalu ada siklus 70 tahunan kebangkitan perlawanan. Kali ini kita perlu ekonomi perlawanan. Kita sedang berada di penghujung sebuah siklus Jaman Latah. Memasuki era Kesadaran Dunia. Di era multipolar bangsa kita punya banyak peluang. "
*
Sambil duduk bersila di gubug sawah kami berdua melanjutkan pembicaraan. Aku masih menyimak pernyataan demi pernyataan Bareks tentang memahami dan membangun ekonomi bangsa yang sesungguhnya. Hamparan padi dan kebun jagung membawa suasana diskusi semakin dalam.
"Kita mulai dari mana? " tanyaku memancing lagi
"Kita mulai dari teori perubahan versi Tuhan. Dimulai dari kebangkitan satu jiwa. Kita membuat bangunan desain utamanya yang kokoh. Bahan navigasinya harus klir. Buat pondasinya yang tahan segala cuaca. Karakter dan pola pikir adalah kekayaan yang ada dalam diri setiap orang namun sering kali tertutup oleh frame pada umumnya yang asal ikut ramai saja. Yang diluar diri ada tiga : aset, relasi dan sistem. " Bareks melanjutkan bahan diskusi selanjutnya.
Ia mulai membuka kertas kosong. Lalu membuat corat-coret. Bareks menggambarkan satu kepal es salju yang kemudian menggelinding menjadi bola besar. Bola salju.
"Ini yang dinamakan bola salju, " ujarnya.
Dia kemudian menarik garis-garis pront yang disiapkan untuk kekuatan portovolio agar orang dan korporasi masing-masing dapat punya harga diri dimata bank manapun. Katanya seluruh hitungan bisnis harus aksiomatik. Presisi atau mendekati perhitungannya. "Di Planet Bumi ini tak apa lah kiranya kalau di tiap kabupaten punya sepenggal surat tanah, " jelasnya.
Kertas putih itu hampir keseluruhannya penuh tarikan pena Bareks. Di sudut kertas itu ia menggambar pohon mangorve diatas lumpur.
"Lihat akar-akarnya yang banyak dan kokoh. Tak membuat pohon itu tumbang walau diatas tanah pecek. Berguru lah pada rakyat kecil bagaimana mereka bertahan dan beradaptasi. Tapi dari semua ini kita jangan pernah serakah. Minumlah hanya secidukan tangan saja. Agar tetap ada hujah ketika tuduhan perbudakan dilontarkan. Inilah yang kita namakan Gerakan Jihad Ekonomi."
"Keren sekali gambaranmu tentang konsep ekonomi ini. Ini sudah paripurna? " tanyaku.
"Belum.Masih perlu mamasukan ekosistem. Seperti hutan ia membuat seluruh ekosistem alamiah secara sempurna. Juga basis ilmu pengetahuan. Dan faktor imajinasi harus masuk juga. Sumbangsih bagi bangsa berupa mengawal narasi kebangsaan. Selalu ingat faktor kali. Jangan bernafsu cepat untung besar. Pikiran harus luas. Seluas wilayah Sabang Merauke. Belajar lah pada rakyat tentang semuanya. Merekalah guru terbaikmu. "
Bareks memuat semua itu dalam gambar di kertasnya.
"Apa kau akan memasukkan juga politik? "
"Tentu. Ekonomi dan politik tak bisa dipisahkan. Semuanya dapat dijadikan alat untuk menjawab amanat penderitaan rakyat. "
"Barangkali kau sudah mempersiapkan namanya? "
"Sudah."
*
Maghrib memenggal diskusi kami. Bergegas mengambil air sembahyang di kolam bawah saung. Menjalar diatas kolam tanaman labu. Membuat suasana rindang di gubuk beratap alang-alang itu. Sementara Indung Peuting melai bertebaran di ufuk. Meneguhkan sandekala. Mengintip impian dua pemuda desa,
"Kawan. Kita koma dulu kah? " tanyaku.
"Tanggung. Sisa sedikit lagi. Kita sempurnakan dataran konsep ini. Harus klir semua. Jangan ada ambigu yang terselip. "
Bareks menatap kertasnya. Lalu memotret kertas itu pakai gadgetnya.
"Kau kan wartawan. Nanti deskripsikan hasil pembicaraan kita. Dokumentasi itu penting. Ini sebuah cetak biru untuk lintas generasi. Kedepan kita harus menggembleng generasi yang bisa orang kerja dan uang kerja. Kedepan manusia ekonomi akan digantikan manusia budaya. Kita hanya ikut menggelar karpetnya. Suka atau tidak suka. Mau atau tidak mau. Tuhan lah yang menggembalakan jaman ini. "
"Sepertinya kau yakin sekali dengan konsepmu itu? "
"Ketika teks Proklamasi dibacakan hari Jum'at bulan Ramadhan. Orang banyak masih belum percaya. Kini Indonesia jadi bangsa dan negara besar. Hanya pejabatnya saja yang masih doyan korupsi. "
Lembayung sudah menghilang. Ufuk Barat tak lagi menampilkan layar terkembang pertanda senja telah ditelan malam. Bunyi tonggeret semakin ceta di telinga. Menyimpan impian dua anak muda yang mencoba mensketsa masa depan bangsanya.
*
Bagikan artikel ini



