Kiai Romli
Rombongan Muktamar ke 35 sudah pada pulang ke tempat asal masing-masing.

Cerpen : Pace Munib
Rombongan Muktamar ke 35 sudah pada pulang ke tempat asal masing-masing. Termasuk rombongan kiai kampung yang dikordinir Kiai Slamet. Bagi kiai kampung ikut Muktamar bukan untuk dukung-mendukung siapa mau jadi ketua, siapa mau jadi Rois Ngam. Bagi kelompok kiai-kiai nyleneh ini ikut Muktamar bertujuan untuk napak tilas perjuangan bangsa Indonesia melalui perjuangan para Kiai Sepuh Nusantara. Mereka tidak berorientasi pada struktur. Mereka berorientasi pada gerakan kultur.
Jangankan mereka di tingkat desa, pengurus MWC kecamatan saja tidak punya hak suara. Kalau MWC diberi hak suara mungkin Muktamar akan lebih heboh lagi. Menantang bandar, sejauh mana uangnya bisa mengendalikan gelombang suara MWC yang jumlahnya bisa 7 ribuan. Kalau MWC jebol dapat dibeli juga, pasrahkan suara pada PAC. Kita akan lihat kekuatan uang apakah bisa mematahkan ranting-ranting Nahdliyin ? Sepertinya susah. Tapi perlu diuji supaya diketahui sejauh mana virus Tukang Olah menjalar dan menjangkit ke tubuh Nahdliyin.
Secara administratif rombongan Kiai Slamet ini tak punya undangan Muktamar. Hanya inisiatif datang sendiri. Makanya segala sesuatunya tidak disiapkan oleh seksi logistik panitia Muktamar, baik itu akomodasi. transportasi, konsumsi maupun administrasi. Kiai Slamet tidak mendapat kartu. Yang boleh masuk arena Muktamar hanya yang punya kartu peserta yang dicetak khusus.
Selama Muktamar kali ini rombongan kampung seperti Kiai Slamet dikategorikan Rombongan Liar. Muktamirin menyebutnya Romli. Di Muktamar banyak sekali Kiai Romli. Hampir dari seluruh daerah.
Barangkali istilah itu sedikit menyindir nama pencetus NU Garis Lurus, kiai Idrus Romli. Yang belakangan ternyata Humas Baklawi setelah klan itu dibongkar kepalsuannya oleh Kiai Imad. Dan jadi masalah tersendiri dalam tubuh Nahdliyin. Barangkali juga sekedar singkatan biasa saja menanggapi kecenderungan belakangan PBNU yang hobi mengotak-atik AD/ART untuk kepentingan Tim Sukses.
Untuk Romli tingkat desa penginapannya dititip di masjid dan langgar desa. Dititip di desa yang radiusnya jauh dari titik pusat Tambak Beras. Yang Romli tingkat kecamatan dititip di seluruh kecamatan yang ada. Kiai Romli level kebupaten dititip di pelbagai kantor dinas seperti Perpustakaan Daerah, BPBD, Satpol PP, Islamik Center, Balatkop maupun gedung Pramuka.
Sedangkan Rombongan Kiai Selamet ditampung di sebuah langgar di Desa Diwek. Desa kelahiran pelawak bertarap Nasional, Asmuni Kumis Hitler. Pembesar Srimulat. Rajanya pemain watak.
Tidur berserakan di dalam langgar dalam kondisi darurat. Makan di warung pasar desa yang lauknya sederhana. Harganya murah. Bagi Kiai Slamet hidup alami dan serba darurat sudah terbiasa. Selama rokok kretek dan kopi hitam masih tersanding, persoalan lain jadi kecil. Termasuk persoalan NU dalam tiga muktamar terakhir yang diserang dengan pola serangan dari dalam. Sebelumnya serangan selalu dari luar, sejak jaman Belanda, Jepang, DI/TII, PKI, rezim Orde Baru dan sekarang NU diserang virus TO. Alias tukang olah.
"Pak Yai kelihatannya sudah tiga muktamar ini NU diserang dari dalam. Di Tebu Ireng oleh NU Garis Lurus. Di Lampung dan kali ini politik uang masuk NU, " tanya Kang Jalal, santri dalam rombongannya.
"Kalau mau ditarik ke belakang sekali, Sejatinya NU itu gerakan budaya. Irisan awalmya ada pada Pangeran Benowo, putra raja Pajang, Kanjeng Sultan Hadiwijaya. Pangeran tidak mau masuk arus politik kerajaan. Namun memilih mengajar masyarakat. Membangun swadaya. Membuat arus besar gerakan budaya. Lha kok sekarang ikut politik uang itu bagaimana ? Begitu lho Kang," Kiai Slamet membuka diskusi ringan usai sembahyang isa.
"Ngapunten Kiai, apa keadaan NU sekarang tidak seperti yang digambarkan Al Quran : Perumpamaannya seperti orang yang menyalakan api dan memberi terang di sekeliling, lalu Allah menghilangkan cahayanya. Dan ditinggalkan dalam keadaan gelap tak dapat melihat ? Dulu Mbah Holil Bangkalan dan Mbah Hasyim menyalakan api itu.Kini Gus Gus cuan memadamkannya, " tanya seorang santri terinspirasi oleh gambaran Al Baqarah ayat tujuh belas kepada Kiai Slamet.
"Ya kita perlu waspada. Jangan sampai NU begitu karena kebebalan kita dan kelengahan kita. Tapi kita senang ada Wa Ja'a Rojulun Min Aqsa Almadinah. Ada PWI LS yang melakukan otokritik dari dalam masyarakat Nahsliyin sendiri. Jangan sampai seperti Kaum Samud. Al Quran mengabadikan kisah mereka sebagai contoh masyarakat yang keseluruhannya takluk pada kezaliman. Tanpa menyisakan satu orang pun yang kritis. Pembesar Tsamud mau membunuh Unta Larangan, umat semua diam, makanya kena azab semua. Begitu, menurut saya Kang."
Malam memancarkan bintang di langit terang desa Diwek dalam pranata mangsa puncaknya musim Katiga yang panas. Di hamparan tebu yang diterpa Angin Wilis, semilir dingin dan kering menjalar dari Laut Selatan. Menyuburkan bawang merah di lahan pertanian Jombang - Nganjuk. Anugerah Allah berupa angin dan topografi. Seperti Angin Kumbang di Brebes dan Angin Bromo di Probolinggo.
*
Rombomgan Kiai Kampung lain ditampung di desa Mojorejo, Tunggorono dan Menturo Desa yang disebut pertama adalah desanya Cak Durasim. Seniman pejuang jaman Jepang yang terkenal parikan Begupon omahe doro, melu Nipon tambah soro. Ikut Jepang malah tambah sengsara. Di langgar Mojorejo ditampung Kiai-Kiai Kampung dari Jawa Tengah. Dipimpin oleh Pimpinan Anak Ranting paling gaul, Kang Solikin.
Santri-santri Kang Solikin memperdebatkan PC NU memilih AHWA.
"Bagaimana ini Kang ? Anak-anak kecil PCNU kok dibiarkan memilih Kiai Sepuh. Ini tradisi NU diinjak-Injak. Kiai sepuh kok dipilih Kiai Enom. Qadiyah lazimnya yang memilih diatas yang dipilih. Allah memilih Nabi. Allah lebih tinggi dari Nabi. Kiai sepuh itu punya kwalifikasi dan kompetensi menjadi Ahli Halliy wal Aqdiy dari jam terbang, ketekunan dan pencapaian personalnya memimpin pondok besar dan penguasaan pelbagai ilmu agama. Bukan karena dipilih dari pengurus kabupaten. Lha PC NU memilih AHWA berdasarkan hawa nafsu mereka lantaran faktor uang. Sangat miris. AHWA singkatan dipilih Ahwa'akum (hawa nafsu kalian PC NU," ujar Budiono Ratu santrinya Kang Solikin.
Santri lain mengutip ayat lain. Katanya : Maka, ketika Talut keluar membawa bala tentara(-nya), dia berkata, “Sesungguhnya Allah akan mengujimu dengan sebuah sungai. Maka, siapa yang meminum (airnya), sesungguhnya dia tidak termasuk (golongan)-ku. Siapa yang tidak meminumnya, sesungguhnya dia termasuk (golongan)-ku kecuali menciduk seciduk dengan tangan.
"PC NU telah pecek. Minum air terlalu banyak. Suara satu PC bisa 300 juta sampai 400 juta. NU bukan lagi ajang jihad dengan pengorbanan harta dan jowa. Malah orang rebutan jadi pengurus NU untuk cari harta. Minum bukan seciduk tangan. Tapi pakai cangkir besar. Muk. Isi jus kurma. " tambah santri lain itu. Menambah gayeng suasana diskusi di langgar desa Mojorejo membahas NU kekinian.
*
Sedangkan Tunggorono adalah desa tempat dimakamkan Maestro Ludruk Garingan Cak Markeso. Sosok seniman miskin yang mampu memikul kesenian dalam lakon kemiskinan dirinya sendiri.
Setelah ditinggal mati isterinya - Suminah, Markeso berhenti total berkesenian Ludruk Garingan dan tinggal bersama anak angkatnya di Tunggorono sampai meninggal.Tampaknya ketulusan, pengorbanan dan penghormatan isterinya lah yang membuat kesenian Ludruk Garingan itu masih hidup. Sehingga ludruk garingan mati bersama dikuburkannya Suminah.
Di desa ini ditampung rombongan kiai kampung dari Jawa Barat, Banten dan Jakarta. Dari daerah Banten pipimpin Abuya Muhyidin dan dari Jawa Barat dan DKI dipimpin Mama Ajengan Anom Cibogo Hilir.
"Abuya, jangan-jangan nasib NU sama dengan nasib Ludruk Garingan Cak Markeso. Ketulusan, pengorbanan dan penghormatan Suminah yang membuat ludruknya Markeso selama ini hidup. Begitupun NU selama ini dihidupi oleh ketulusan, pengorbanan dan penghormatan Kiai-kiai di kampung. Lha sekarang pilih pengurus PC saja pakai main uang ? " tanya Kang Cecep kepada Abuya.
"Lain NU bae nu keur genjlong (bukan NU saja yang sedang terguncang). PBB atau UN juga sedang goyang. Krisis kepercayaan pada sistem lama. Mau tidak mau, suka tidak suka dunia baru akan merujuk pada sistem Iran. Sistem yang paling memungkinkan untuk tegaknya masyarakat adil makmur," ujar Abuya Muhyidin. Abuya juga salah satu tokoh dibalik pembentukan pemuda Nahdliyin pro Iran. Ini bukan soal mazhab Sunny-Syiah tapi persoalan siapa petualang penyulut perang selama belakangan ini yang membuat dunia kisruh? Jawabnya Amerika.
"Tapi NU baik baik saja toh, Abuya ? "
"Insya Allah. Dulu Mbah Holil menyuruh bsngkit dari desa. NU yang kacai sekarang dari MWC ke atas. Desa masih aman."
"Mungkin kah ke depan pilih ketua PBNU seperti Pilpres langsung. Setiap pemilik Kartanu punya hak suara ? "
"Kita lihat nanti."
Tidak terasa jam yang tergantung di dinding langgar desa Tunggorono menunjukan pukul 30.30. Beberapa santri terbangun dari tidur lelap. Untuk berburu penggalan sepertiga malam. Mereka sudah tahu disitu ada apa.
*
Sedangkan rombongan Kiai Kampung dari Madura mereka ada di titik pusat kampung Menturo. Tepatnya di Langgar Kiai Haji Muhamad Abdul Latif, bapaknya Emha suami Novia.
"Kalau NU dibesi-tuakan kira-kira dijual laku brempa (berapa) ya ? " tanya seorang santri yang jengkel dengan tradisi baru jual suara di Muktamar dalam logat Madura.
"Ja' caca sembarangan be'en (jangan bicara sembarangan kamu," tegur santri lain.
Sedangkan rombongan kiai kampung yang paling liar adalah mereka yang datang hanya untuk ziarah kubur ke makam Mbah Hasyim Asy'ari, Mbah Wahab Hasbullah dan Mbah Bisri Samsuri. Habis itu pulang. Rombongan model seperti ini dipimpin Kiai Mansur Tebulandu. Mereka tidak peduli dengan ramainya pasar rakyat yang diakibatkan tumpah ruahnya Nahdliyin rombongan liar yang menutup kota Jombang di segala sisi. Juga tidak peduli dengan proses suksesi pemilihan ketua. Bahkan ketika pulang ditanya siapa ketua PBNU terpilih mereka tidak tahu.
*
Bagikan artikel ini



