Pers Bertanggungjawab yang Merdeka
OLEH : ABDUL MUNIB

OLEH : ABDUL MUNIB
Apakah bisa juga dikatakan Pers Merdeka yang bertanggungjawab ? Karena ada dalam satu koin dua sisi, sebenarnya maknanya keduanya identik saling terkait. Tak ada kemerdekaan tanpa tanggungjawab, sebagaimana juga tak ada tanggungjawab tanpa kemerdekaan.
Namun dari rasa bahasa judul diatas akan mewakili keadaan yang hendak menertibkan pemikiran kita tentang Pers selama ini. Bahwa kita wartawan Indonesia selama ini terlalu sering dijejali slogan Kemerdekaan Pers yang absurd sehingga sering kali lupa bahwa sistem koin rasionalitas manusia berdasar pada Kemerdekaan dan Tanggungjawab yang saling kait antara keduanya.
Penjejalan pemahaman kebebasan pers yang salah kaprah sering membuat mental wartawan arogan, semena-mena dengan kekuasaan ujung pena di tangannya. Menakut-nakuti, memeras, mengintimidasi, membujuk dengan menjual Pers dengan harga murah dan murahan.
Dengan mendahulukan Tanggungjawab dalam penyebutan diharapkan Pers Kita berbenah, melihat kondisi kekinian dunia yang semakin ditarik kesana kemari oleh kepentingan-kepentingan antar negara atau antar blok. Judul Pers Bertanggungjawab yang merdeka akan mengandung konsekuensi pada pembobotan urutan mendahulukan tanggungjawab. Apa tanggungjawab Pers dalam situasi kekinian itu ?
Kegelisahan tentang semakin menurunnya kepercayaan publik kepada pers sudah terjadi sejak akhir abad 20. Dikatakan Bill Kovach dalam buku Sembilan Elemen Jurnalistik, bahwa para wartawan senior dan redaktur kawakan Amerika berdiskusi tentang anjlok drastisnya kepercayaan publik pada jurnalistik. Dan mereka bingung ini fenomena apa dan bagaimana mencegah keruntuhan kepercayaan ini. Maka diterbikanlah sebuah buku tadi itu. Tapi walaupun buku itu terbit kecenderungan menurunnya kepercayaan publik pada jurnalistik tetap saja trendnya terjun bebas.
Apalagi dalam era Pers Digital. Jasa penghimpun atau pemungut informasi dan mengkemasnya, tidak terkapitlisa dengan layak. Di media cetak fisiknya jelas untuk orang beli koran, dan pasang iklan. Kedua barang dan jasa, - yakni fisik koran dan jasa iklan, ini lah yang menciptakan pasar media cetak berabad-abad. Dan ibarat Pasar Jin, di era digital ini pasar itu hilang sekejap mata.
Hampir semua raja kecil era media cetak babak belur, tumbang bergelimpangan kehilangan bumi pijakannya. Mereka tersungkur di tanah menatap ke langit dunia maya tanpa batas, yakni dunia digital yang mana manusia telah hijrah semua kesana. Pelan-pelan bibirnya terkatup, "Mungkinkah kami yang bodoh ini mengkavling langit? "
Yang paling mendasar sekali sikap Pers dalam menghadapi kuatnya tarikan kepentingan, sehingga jadi alat paling efektif untuk framing, propaganda, perang narasi bahkan perang kognitif.
Jadi makin sempurna lah kekuatan untuk mengancam eksistensi Pers tetap berdiri tegak seperti sebelumnya yang menjadi kegelisahan para jurnalis Amerika di akhir abad 20 itu. . Hilangnya pasar potensial era cetak. Flatform media di tangan orang lain. Kuatnya tarikan kepentingan global dan nasional. Pers harapan publik bisa jadi akan terus turun dan terjun bebas sampai di titik nadir LOSTTRUST.
Pada situasi seperti ini boleh dikata Pers yang selama ini kita kenal telah mengalami Kiamatnya. Pers yang selama ini berinduk semang para kertas cetak dan frekwensi, dia mengalami KIAMAT di induk semang platform digital.
Maka setiap wartawan yang bermazhab kepada Pers yang selams ini kita pahami harus menuliskan kata terakhirnya : Sudah habis kepercayaan publik pada Pers ini, maka dengan ini saya sebagai wartawan menutup Mazhab Pers yang sudah hidup sejak Johanes Gutenberg menemukan mesin cetak.
Tugas pertama Pers bertanggungjawab yang merdeka adalah menjawab kekusutan abad 21, yang sedang memuncak pada perang Ukraina dan Gaza. Mamou menjelaskan kejatuhan Barat, oleh karena pondasi pemikiran atau pandangan dunia mereka yang rapuh, yakni penolakan mereka pada METAFISIKA. Mereka sendiri yang memasang sumbatan pada otaknya, agar hanya bekerja pada wilayah yang terindera.
Barat sedang melakukan apa yang dinyatakan oleh kaum Nabi Musa : Ketika mereka mengatakan, Wahai Musa kami tidak akan beriman sampai kami dapat melihat Tuhan dengan mata telanjang. Mereka mengklaim bahwa kebenaran adalah sains dan teknologi, yang mana keduanya ada di tangan mereka. Maka artinya kekuatan pun ada di tangan mereka,.
Hanya dengan kemampuan mendalami kesalahan pandangan dunia Barat inilah, kita di Indonesia juga akan bisa mendiagnosa. Bangsa Indonesia sudah pada stadium berapa dalam level keterpaparan PANDANGAN DUNIA BARAT. D
an harus segera disembuhkan melalui Energi Pancasila yang levelnya terus dimaksimalkan.
Berat memang seorang pengumpul dan pengkemas kabar hari ini, dimana publik sudah cuek. Pers ini ada atau tidak bagi publik sama saja. La yamutu fiha wala hahya, mati tidak hidup pun tidak. Publik buang muka tak percaya lagi dengan jurnalistik. Kelak mungkin kalau ada calon mertua diberi tahu bahwa calon menantu kerja di jurnalistik, ia akan berkata "Itu di PLN kah? " Oooohhh, ternyata calon mertua kedengaran di telinganya Jurnal Listrik.
Tapi jangan khawatir sahabat-sahabat Wartawan se Indonesia, sebenar lagi akan lahir Mazhab Baru Pers kita. Namanya Mazhab Pers Indonesia. Dia akan menjadi percontohan dunia. Sebagai kewajiban pertama Pers pada kebenaran, kita akan buatkan pondasinya yang lebih kokoh, anti keropos dan anti karat.
Hal-hal lain setelah pondasi dan kewajiban pertama, akan dibuat skema sesuai dengan seluruh kondiai kekinian dunia. Daya tariknya ada pada potensi manusia, dimana Tuhan berkata : Aku lebih tahu sesuatu (tentang manusia) yang kalian tidak tahu.
Sesuatu itu adalah manusia dan segala potensi yang tertampung dalam kemungkinannya, ketika Para Malaikat meng-under estimate-nya dengan ungkapan : Apakah Engkau akan menjadikan khalifah yang merusak bumi, mengalirkan darah, sedangkan kami senantiasa bertasbih memuji Mu dan mensucikan Mu. Wartawan Indonesia saatnya bangun dari tidur panjang yang diasyikan dengan mimpi main saudagar-saudagaran. Eyang Cipto Adi Suryo telah memanggil kita semua. Bangsa Indonesia sedang membutuhkan kalian. "TANGI LEE NYAMBUT GAWE. "
Bagikan artikel ini



