Kajian Ilmiah Pers (63)

Ketika Pers Tak Sekedar Penyebar Kabar
Di jaman Medsos yang gila-gilaan ini, kata Doktor HC Dahlan Iskan, ada yang disebut Kebenaran Baru. Jadi kebenaran saja tidak cukup. Kebenaran saja sudah kuno. Siapa saja yang mengejar kebenaran itu sudah ketinggalan. Kenapa ? Karena ada Kebenaran Baru. Demikian dikatakannya pada sebuah acara wisuda di IAIN Madura.
Kebenaran Baru ini berbeda dengan kebenaran. Kebenaran Baru ini nanti dasarnya bukan fakta. Jadi fakta tidak mencerminkan kebenaran. Ini betul-betul Kebenaran Baru. Jadi kalau kita berbantah di Media Sosial dengan cara menyampaikan fakta-fakta tidak ada gunanya. Karena fakta tidak lagi menjadi bagian dari kebenaran.
Kebenaran Baru itu datang dari yang disebut persepsi. Jadi kebenaran lama bertumpu pada fakta dan Kebenaran Baru ini bertumpu pada persepsi. Jadi persepsi menjadi dasar kebenaran. Dan persepsi dibentuk bukan oleh fakta tapi persepsi dibentuk oleh frame, yang disebut framing.
Untuk apa gunanya Perguruan Tinggi kalau orang bisa mendapat kebenaran lewat framing. Ini persoalan besar bagi sarjana ilmu sosial untuk menyelesaikan itu. Dan dimasa gila-gilaan seperti ini fakta tidak lagi menjadi penting. Yang dianggap penting itu framing dan aksi atau langkah berikutnya adalah yang disebut buzzer. Jadi para pendakwah akan kalah dengan buzzer. Jadi fakultas dakwah harus diganti Fakultas Buzzer. Ini yang disebut Kebenaran Baru.
Menanggapi ungkapan gurunya tentang Kebenaran Baru, Munib berpendapat bahwa fakta peristiwa dan fakta perkara tetap melibatkan intreprestasi wartawan ketika menjadi tulisan. Kebenaran baru yang didefinisikan oleh Dahlan Iskan dicurigai sebagai kerja mesin algoritma yang dikendalikan pemiliknya. Sebuah persepsi yang disusupkan atau dipaksakan ke ruang publik dengan kawalan ketat dengung buzzer. Narasi sebagai alat perang korteks, membutuhkan pengulangan bahkan terkesan dipaksakan, menjejalkannya di ruang publik
Di era lama persepsi atau interprestasi wartawan atas fakta material dan verbal sudah ada. Pola epistemologinya tetap sama. Hanya saja pada karakter medium digital, setiap orang bisa ngomong asal-asalan dan diulang-ulang. Bisa beli algoritma dari pemiliknya.
Dalam ungkapan yang lebih kekinian, kata Munib, apa yang dikatakan Dahlan Iskan juga dinamakan Pasca Kebenaran. Dikatakan bahwa dunia pasca-kebenaran, berita bukan untuk memberi tahu. Ia untuk membentuk <9p8dan menentukan siapa yang harus publik cintai, dan siapa yang harus dibenci. Isi berita yang hanya memuat penggiringan opini seakan hanya ingin mengotak-kotakkan pikiran manusia antara pro-kontra tanpa mencoba mengembangkan isi pikiran mereka sendiri.
Di era ketika satelit memata-matai niat sebelum tindakan. Dan algoritma membaca isi pikiran sebelum kita menulis status, media tak lagi menjadi penyampai kabar, melainkan penyusun naskah panggung global. Salah satu panggung favorit mereka adalah serial sinetron “Trump vs Imam Ali Khamenei: Siapa yang pecundang ? Imam Al Khamenei telah syahid dan mendapat kehormatan dari rakyat Iran, Irak dan dunia. Sedang Trump gagal maning gagal maning.
Demikianlah narasi kini menjadi bukan saja alat perang psikologi (psywar) dan perang kognitif, melainlan penyusun naskah panggung global. Dalam bukunya Pers sebagai Falsafah Ratu Dunia, Adinegoro, menjelaskan tentang anggapan umum. Pers sebagai pemimpin gagasan atau opinion leader. Menurut Munb kini kendali itu tak lagi berada di tangan Pers. Melainkan tarik menarik diantara kedua belah pihak yang sedang berperang antara nilai unipolar melawan rivalnya yang makin tangguh yakni nilai multipolar.
Jadi persoalannya tidak tiba-tiba begitu saja muncul Kebenaran Baru. Melainlan kita harus merunut ke belakang pada lima dekade awal Pers Indonesia abad 20, dimana tulisan pers didominasi oleh Esai. Sedangkan berita peristiwa dan seremonial terkelompokan dalam kategori Kronika. Berita kronika inilah yang dimaksudkan untuk memberi tahu atau penyampai kabar.
Ungkapan fakta itu suci yang sering diungkapkan wartawan senior diduga kuat berasal dari pandangan empirisisme dan positivisme ideologi Barat yang meresap di Pers Barat. Pondasi falsafah Barat menafikan metafisika, dan mengklaim kata ilmiah khusus hanya untuk ilmu berbasis materi. Jika kita tengok kesana, pandangan fakta sebagai kebenaran lama sebenarnya berasal dari rumah filsafat Barat.
Untuk itu kita perlu mebagi perjalanan sejarah Pers Indonesia pada periode awal sebagai Ibu Kandung Bangsa Indonesia yang mengandung gagasan kebangsaan dan kemerdekaan, selama 45 tahun. Dan mempertahankan kemerdekaan pada era perang revolusi 1945-1950. Menilik kembali tumbuh kembang pers ditengah berkembangnya bangsa ini akan membawa kita kepada persepsi-persepsi baru yang jarang sekali manusia lain ingin menguliknya.
Kita bisa buka arsip media pada era Perang Dingin dan multi partai di tahun 1950-1965. Disana nuansa perang ideologi tampak pada media Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha melawan Harian Rakyat yang komunis. Dan sejak Orde Baru, pers kita dipakai oleh Industri Pers sampai akhirnya terdisrupsi di era digital.
Yang luput dari sorotan adalah watak dari medium tak terbatas pada era digital. Bahwa Pers, yang di Indonesia memiliki Undang-Undangnya sendiri, eksistensinya bergantung pada bentuk atau wahana yang terbatas. Sama halnya dengan eksistensi manusia, dimana eksistensi kemanusiaan itu melibatkan bentuk jasadnya yang terbatas. Ketika anasir kejasadannya hilang yang kekal hanya jiwa. Pers berjasad melawan era digital yang tidak memiliki batasan, terdengar seperti perang yang tidak akan mungkin dimenangkan, daud dan goliath pun masih terdengar lebih logis daripada nasib pers di perang ini.
Perang narasi bukan barang baru. Bahkan dalam kitab Mahabarata karya Mpu Viyasa, raja Amarta Samiaji Darma Kusuma dikisahkan berbohong tentang kematian Aswatama. Kabar gugurnya Aswatama merebak diseantero Padang Kurusetra. Bisik-bisik antar prajurit santer tentang matinya Aswatama.
Maka Pandita Drona pun sebagai bapak yang sayang anak risau hatinya. Jiwanya sebagai pengatur strategi perang hancur luluh. Fokusnya pada perang jauh menurun. Ia harus pergi ke Raja Darma Kusuma yang tidak pernah berbohong seumur hidupnya. Mengetahui Drona menuju ke Sitinggil Raja, Kresna membunuh seekor gajah yang ia namakan Aswatama. Kresna memberitahu Raja bahwa Aswatama telah terbunuh. Maka ketika Drona mendengar Aswatama terbunuh dari raja Amarta, ia pun lunglai. Badannya lemas rubuh ke tanah. Padahal Aswatama yang anak dia belum meninggal. Begitulah sebuah narasi diolah dalam sebuah perang.
Narasi Barat lewat pers, film, kesenian pop selama ini berhasil membangun persepsi bahwa mereka kuat dan tak terkalahkan. Orang negara berkembang menganggap dirinya imperior yang tak berdaya. Dan mereka menganggap Barat perkasa tak bisa dikalahkan. Mereka kalah sebelum bertanding. Tapi setelah perang 600 hari di Gaza, Laut Merah dan Iran, kekuatan Barat bahkan tak mampu mengalahkan milisi Hammas, Hauoti dan IRCC. Seakan memberikan tamparan yang mengingatkan dunia Barat pada perang Vietnam dan Irak, bedanya kali ini mereka tidak bisa melakukan propaganda lewat Rambo lagi.
Dahlan Iskan bukan orang filsafat. Ia belum secara mendalam dapat mengurai makna dari kata fakta. Bahwa bagi filsafat Barat kata fakta adalah suci, hanya bermakna fakta material. Tidak memasukan realitas metafisika. Seperti yang digambarkan oleh mereka yang mengimani sesuatu yang ghaib (metafisis). Sebenarnya fakta material itu tak bisa berdiri sendiri ketika dia dijadikan narasi. Disana ada keterlibatan wartawan sebagai penafsir fakta atau sebagai sang interpretator dari fakta empiris itu. Sebuah fakta, baik materi maupun non-msteri, ia pasif. Baru dapat teraktifasi oleh tafsiran atau intrepretasi seorang penulis.
Konspirasi, frame, hoax apapun namanya itu sudah dibahas dalam ilmu mantiq, yang biasa dibahas pada bab mughalathah atau logika falasi. Fungsi ilmu logika pada kebanyakan kasus di negara kita terbiasa untuk retorika pada orasi dan debat. Padahal ilmu logika adalah dasar dari epistemologi yang digunakan sebagai sumber dan nilai pengetahuan dan perkembangan penelitiannya, namun ketika logika dan filsafat dipakai pada ruang-ruang non akademis, ia seakan menjadi olokan orang banyak, orang-orang yang sudah duluan otaknya dikotakkan oleh framing Media Barat.
Matinya industri pers yang sudah berkibar di Indonesia selama setengah abad sejak awal Orde Baru atau berakhirnya Perang Dingin di Indonesia, diakibatkan disrupsi digital. Sama dengan matinya sejumlah usaha lama karena tidak relevan lagi. Mudah dan murahnya membuat media, membuat jumlah media booming dan tak layak secara teori ekonomi. Pilihan pers hari ini hanya dua, jadi corong atau jadi alat framing.
Kesimpulannya, kata Munib, kita tetap harus optimis sebab dunia akan selalu butuh pengetahuan dan pengetahuan bersumber dari proposisi dan teori disposesi. Artinya, betapapun pesat dunia Artificial Intelligence (AI) pada fotografi, videografis atau desain grafis, tetap saja bergantung pada narasi. Narasi Agung Bangsa Indonesia musti dicanangkan dan dipancangkan kembali dengan lebih kokoh. Yang sedang terjadi hanya putaran model saja. Saatnya pers kembali pada perlawanan dan esai sebagai pijakan utamanya. Bahwa pers kedepan tak akan hidup di tangan bakul blantik dan wartawan peliharaannya. Di jaman ini saatnya Cipto Adi Suryo bangkit kembali dari kubur Kebangkitan Bangsa, mengawal lahirnya masyarakat Adil Makmur yang dijanjikan oleh para pendiri Bangsa.
Sebagai ibu yang rahimnya dipakai untuk jadi inkubator bagi tumbuh berkembangnya gagasan kebangsaan, Pers Indonesia punya kisah dan posisi tersendiri dalam bangsa Indonesia. Lima puluh persen lebih dari 76 anggota BPUPKI adalah wartawan pemilik media. Maka hiduplah di bumi pertiwi ini sesuai takdirnya. Jangan tertipu makan umpan, sebab diseberang sana akan menjemput kematian. Bangsa yang waspada akan terbangun melalui media yang memiliki Narasi Agung Kebangsaan. (amd)
Bagikan artikel ini



