Biasakan Menulis Esai Sejak Dini

Menulis esai itu harus konsisten. Terus menerus. Di era jaman yang sangat menyita waktu, tetap saja menulis esai harus selalu dilakukan. Karena disamping tulisan esai bercakap-cakap dengan publik juga bercakap dengan diri sendiri. 

"Dengan membuat tulisan esai, kita sedang membuat jejak pemikiran kita, " ujar Munib.

Untuk dapat menjadi esais (pembuat tulisan esai) yang baik, katanya, seseorang perlu memiliki kemampuan menganalisa dan mengevaluasi. Seperti halnya persiapan munulis pada umumnya, yaitu punya kamus bahasa Indonesia untuk penguasaan kosa kata, mengerti tata bahasa Indonesia dan sastra Indonesia. Pokoknya terkait kebahasaan harus memguasai. Selain itu, juga paham kaidah logika dan kaidah filsafat metafisika.

Dalam pedagogi Taksonomi Bloom, dua kemampuan menganalisa dan mengevaluasi itu adalah tahapan anak tangga ke empat dan ke lima dari enam anak tangga yang ditentukan. Sebelumnya, tahap satu sampai tiga : tahap transfer knowledge, understanding dan terapan. Lima kempunan ini yang harus diasah oleh seorang esais. Lebih bagus lagi kalau kemampuan mengkreasi hal baru bisa diperoleh.

Itu gambaran umum tentang kesiapan materi esai yang harus dikuasai. Sedangkan persoalan menuliskan materi tadi dengan baik, itu butuh pengetahuan dan latihan seputar telnik dan langsung praktik menulis dalam bimbingan.

Bahwa seorang esais harus menemukan suatu tema. Satu tema didukung oleh beberapa alinea. Setiap alinea dikonstruksi oleh kalimat. Dan satu kalimat minimal terdiri subjek dan predikat. Bagi seorang esais, apapun tentang tatabahasa harus diluar kepala. Juga soal sastra. Nanti secara perlahan gaya bahasa masing-masing akan keluar dengan sendirinya.

Dalam menulis pada umumnya, diperlukan keterampilan khusus saat menyambung antar kalimat maupun antar alinea. Karena dengan ini kesinambungan antar kata, kesinambungan antar kalimat dan kesinambungan antar alinea dapat dirasakan alurnya enak oleh pembaca. Faktor kesinambungan sebuah esai ini dapat menjadi energi bagi pembaca menelusuri tulisan hingga akhir.

Simak dan pahami ada lima belas jenis kata sambung atau hubung dan contoh-contohnya. Kata sambung menduduki posisi campuran semen dalam sebuah bangunan konstruksi. Dia merakit dan merekatkan suatu kesatuan yang terdiri dari berbagai bahan.

Dengan kemampuan menggunakan sekian banyak kata sambung, bobot kemengaliran sebuah tulisan esai akan dirasakan ringan dibaca. Karena tulisan yang mengalir dengan baik akan sangat meringankan pembacanya. Disarankan kepada para penulis esai pemula untuk membaca karya sastra bagus seperti Novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, atau Prosal Liris novel Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG dan atau novel lainnya yang bagus. Membaca karya yang tulisannya bagus akan menular kepada kita bagaimana tulisan itu mengalir dan enak dibaca.

Meski bukan harus menjadi pakar bagi semua bidang, seorang esais atau penulis esai harus gemar banyak membaca. Paham epistemologi dan ontologi sebagai sumber nilai ilmu pengetahuan dan hakikat. Sehingga seorang esais melihat segala persoalan kehidupan : aspek, fenomena, dimensi, pola, kecenderungan, gejala/simptom, corak, karakter, kebiasaan, tradisi, ciri khas/tipologi, model, format, motif, unsur, kandungan, Sidik Jari, skema dan profil.

Bahan-bahan tema yang akan diangkat dalam sebuah tulisan esai, dapat berupa apapun yang akan bermanfaat buat manusia. Pola tulisan esai yang kuat adalah pola pembentukan karakter dan enyebaran informasi yang berguna untuk kemandirian masyarakat.

Menulis esai dimulai dengan memahami tata bahasa Indonesia secara baik dan benar. Yang kedua memiliki kemampuan analisa dan evakuasi. Sebuah rentetan enam anak tangga dalam taksonomi bloom : ajar, faham, terapan, analisa, evaluasi dan kreasi atau penemuan solusi baru. Sedangkan yang ketiga adalah perlu menyiapkan materi esai berupa tema yang didukung sub-sub tema untuk kebutuhan susunan tulisan. Sedangkan yang ke empat adalah meng kontruksi gagasan atau tema tadi dalam suatu kemampuan sastra yang enak dibaca.

Tulisan esai berbeda dengan tulisan spotnews yang berbasis pada tulisan pendek yang terfokus pada peristiwa dan seremonial bersifat kronika. Suatu contoh kita mau mengangkat soal menganalisa kabupaten Jayapura lima tahun kedepan. Misalnya tema dengan judul Gunung Merah Lima Tahun kedepan. Akan seperti apalah Kabupaten Jayapura lima tahun kedepan dalam kepemimpinan bupati Yunus Wonda. Kita perlu siapkan materi esai sebagai pendukung tema diatas. Kemudian mengkonstruksi tulisan dengan membuat alinea demi alinea.

Sebagai penutup sesi ini, Munib mengajak peserta kajian untuk belajar. Termasuk didalamnya belajar menulis esai. Di jaman ini, menyebar akal sehat dan kewarasan adalah jalan keluar untuk membongkar ranjau-ranjau hoax, konspirasi dan berita proksi yang sudah ditanam dalam benak kita sejak bayi sampai tua. Mengajak masyarakat menulis esai dengan baik adalah bagian penting menyongsong jaman baru Dunia Multilateral. Dimana cita-cita keadilan sosial bagi seluruh rakyat akan mulai tampak bayangannya.

Sementara itu, menurut Munib, ada enam fenomena ilmiah lain dilihat dari sudut enam pertemuan rasionalitas dengan teks kitab suci, realitas, materi, pandangan dunia masyarakat, benak pikiran, dan implementasi. Itu semua melahirkan teologi, filsafat, sains ideologi, logika dan teknik gerakan.

"Disini rasionalitas memegang posisi sentral. Maka tak salah jika manusia adalah titik yang menghubungkan dunia bumi fisika dan dunia langit yang metafisika." ujarnya mengakhiri sesi.

Namum pada prinsipnya menulis esai adalah persoalan memulai sejak dini. Dan terus konsisten. Beristiqamah. (amd)