Pentingnya Pendidikan Budaya Papua
Oleh : Ernest PugiyePendidikan yang berbasis budaya Papua merupakan salah satu indikator utama untuk membangun Papua, Tanah damai. Tanah damai ini semacam simpul anak panah yang menarik setiap kita dari dan untuk menyatakan ideology perdamaian dalam konteks pendidikan Papu
Bagikan
Oleh : Ernest PugiyePendidikan yang berbasis budaya Papua merupakan salah satu indikator utama untuk membangun Papua, Tanah damai. Tanah damai ini semacam simpul anak panah yang menarik setiap kita dari dan untuk menyatakan ideology perdamaian dalam konteks pendidikan Papua. Damai dari perspektif pendidikan ini mesti dibangun dalam dan atas dasar wawasa Papua.
Nilai-nilai nusantara seperti perbedaan pandangan, filosofi dan ideology dapat dikonstruksikan sejauh ada kontekstual dan relevan dengan budaya Melanesia Papua. Dan sebaliknya nilai-nilai asasi budaya Papua termasuk keberaan alam dan manusiaanya dapat dikontruksikan sebagai suatu entitas yang besar ke dalam kebudayaan Indonesia atau wawasan nusantara. Yakni Pendidikan yang berbasis kharakteristik budaya Papua tanpa mereduksi keanekaragaman budaya yang makin unik di Indonesia. Hal ini penting bahkan menjadi jalan kebenaran pendidikan bagi rakyat Papua guna menciptakan Papua sebagai Tanah damai. Maka, pendidikan Papua yang berbasis budaya pribumi sudah selalu merupakan suatu keharusan dan mendesak. *Realitas PapuaRealitas budaya Papua sudah mulai tercabut dari akar-akar kehidupan. Nilai-nilai kehidupan yang sudah diwariskan oleh orang dan Leluhur Papua dari sejak turun-temurun dan dari generasi terdahulu ke generasi berikut kini semakin tidak dihayati, dilaksanakan dan dimakrnai dalam hidup pendidikan Papua. Dari aspek bahasa, rakyat Papua termasuk para peserta merasa tidak penting akan bahasa aslinya. Bahasa asli biasa dipandang tidak memiliki pengaruh positif dan kekuasaan hidup sejati untuk digunakan dalam hidup sehari-hari. Ada suatu pandangan makin memburuk lagi adalah bahwa orang pedalaman Papua sudah masih tetap malu bahkan martabatnya merasa merendah dan direndahkan hanya jika menggunakan bahasa daerahnya di antara anggota sebangsanya. Jika orang-orang dari Suku Mee hendak berkomunikasi dalam bahasa aslinya, maka mereka ini biasa saling menganggap dan dianggap diri sebagai orang yang masih tergolong primitive dan terbelakang. Maka secara otomatis, setiap orang Mee biasa merasa terbelakang, primitif dan merendahkan martabatnya sendiri hanya jika mereka menggunakan bahasa daerahnya dalam kegiatan berkomunikasi di hadapan orang pesisir Papua dan atau orang pendatang. Sementara orang pedalaman pantai Papua juga sama saja. Setiap mereka merasa minder bahkan menggap diri ketinggalan zaman hanya jika mereka menggunakan bahasa aslinya dalam dunia berkomunikasi sosial. Pada umumnya, entah orang pedalam gunung atau pantai yang tinggal di Papua sudah lupa bahasa aslinya. Padahal bahasa ini menunjukkan bangsa dan kepemilikan tanah Leluhurnya. Bahasa adalah realisasi diri, rakyat bangsa, realitas alam Papua dan segala isinya dari realitas sejati, realitas ideal (Logos). Tapi karena adanya dipengaruhi dan disebabkan oleh ideology kematian dan dominasi budaya orang non Papua di seantero Papua maka warga asli Papua ini secara otomatis, sistematis dan terstruktural sudah lupa bahasa aslinya. Mereka malu, minder dan ragu bahkan dikondisikan tidak mau menggunakan bahasa aslinya untuk menggunakan sesuatu pada diri dan sesama dalam hidup konkret. Apalagi mereka ini sudah berkecimpung dalam ranah pendidikan. Mereka dengan system ideologi Indonesia dan system pendidikan formalnya yang bernuansa kekerasan dan konflik diwajibkan untuk tidak boleh menggunakan bahasa daerah. Satu-satunya bahasa yang digunakan setiap perserta termasuk rakyat dan para guru di sekolah adalah bahasa Indonesia. Juga sudah tidak pernah diajarkan untuk berbicara dalam bahasa Inggris meskipun realitas Papua yang penuh dengan konflik dan kekerasan teramat menantang mereka untuk hendak harus mengetahui berbahasa Inggris. Kondisi inilah membuat orang Papua tidak hanya kehilangan budayanya, ideology, nilai-nilai hidup dan hukum-hukum adat istiadatnya saja dari akar, tetapi juga kehilangan bangsa dan masa depan Papua. Jadi wajar, jika keberadaan penduduk asli Papua hanya berjumlah teramat sedikit, lemah dan tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri.Sejarah memperlihatkan bahwa kehilangan bangsa dan masa depan Papua ini diwarnai dengan degrasi dan ekploitasi nilai-nilai budaya Papua. Norma-norma adat yang sudah lama membentuk kesejatian setiap suku bangsa, yang berjumlah sebanyak 262 suku bangsa di Papua hanya dianggap melawan dan menghapus hukum-hukum, UUD 1945 dan ideologi pancasila Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) . Melalui berbagai kebijakan pembangunan seperti system pendidikan gaya bank, buta aksara, mewajibkan anak-anak harus menghormati bendera merah putih tanpa memaknai nilai-nilai pendidikan pancasila dan UUD 1945, dan belum adanya pengangkatan ilmu-ilmu tradisional dalam pembangunan pendidikan Papua, anak-anak dan rakyat Papua ditempatkan sebagai objek dan warga terasing dari pendidikan Papua. Kekuatan akal, hati dan kekuatan badan biasa diabaikan, ditolak dan diluluhlantakkan melalui berbagai pola dan bentuk pembangunan pendidikan Papua tersebut. Di sinilah, orang Papua diarahkan bahkan ditempatkan dalam titik-titik ketidaktahuan dan ketidakbenaran akan makna fundamental pendidikan dari realitas pendidikan Papua. Lagi pula, pemerintah melalui keberadaan pendidikan Indonesia, jiwa dan roh rakyat terus menerus dikondisikan untuk tidak bergerak dari realitas kematian Papua tersebut. *Menggali nilai-nilai UniversalPendidikan yang berwawasan Papua ini penting dan baik untuk dibangun atas dasar nilai-nilai universal dan prinsip-prinsi dasar. Dalam upaya mendongkrak dan menembus realitas masalah pendidikan Papua, menurut saya, orang Papua diundang secara inisiatif untuk menggali nilai-nilai hidup yang ada dalam budaya Papua. Keterlibatan setiap rakyat dalam menggali nilai-nilai hendaknya akan menentukan penebusan dan pencerahan wawasan bangsa dan alam Papua. Saya secara pribadi melihat dan merenungkan bahwa ternyata ada tujuh nilai universal dan fundamental yang dimiliki oleh orang Papua, yang sudah seharunya perlu digali, peraktekkan dan dihayati serta dimaknai oleh setiap dan semua kita dalam membangun pendidikan Papua yakni kebenaran, cinta kasih, kedamaian, relasi serasi dan resiprositas serta keadilan, kebebasan dan komunitas.Pertama, orang Papua biasa mendasari hidup dan kehidupan atas dasar kebenaran. Sebagai orang Papua, mereka biasa memelihara realitas kebaikan baik terhadap diri sendiri, sesama, para leluhur dan alam semesta dan seisinya. Karena kebaikan adalah dasar kekuasaan “HIDUP”, jalan dan tujuan akhir bagi setiap mereka, meskipun sudah akan dihadapkan dengan kekerasan dan konflik dari luar Papua di Papua. Sambil menghargai kejahatan Negara di Papua, orang Papua biasa memiliki, melaksanakan dan mengembangkan hak-hak asasi dalam budaya dan sejarahnya sebagai wujud dari realitas kebenaran hidup mereka. Mereka biasa mengikuti, berpikir, berefleksi dan melaksanakan serta membedakan segala sesuatu atas dasar dan demi kebenaran. Sejarah telah membuktikan bahwa setiap orang Papua dari turun-temurun dan sejak nenek-moyang, telah “berada” dari dan “HIDUP” untuk melaksanakan segala sesuatunya secara baik untuk diri, sesama dan alam serta baik untuk segala isinya. Maka realitas kebenaran dipahami sebagai wujud konkret dari peristiwa pewahyuwan Allah bagi Papua. Kehidupan ini biasanya dianggap sia-sia dan tidak berarti secara mendalam jika mereka sudah tidak berasal-muasal, mendasari dan bertujuan kepada kebenaran dan kebaikan. Oleh karena itu, setiap orang yang tinggal di Papua mesti hendak hidup, memilih tindakan kebebasan dan menetapkan kebenaran sebagai dasar dan tujuan pembanguan pendidikan Papua. Kedua, pendidikan di Papua mesti dijiwai oleh cinta kasih. Perlu dipahami bahwa cinta kasih ini melawan cinta diri (egoisme) dan cinta persaudaraan kelompok atau tertentu. Meskipun Papua memiliki berbagai suku bangsa dan kebudayaan dengan unsur-unsur budayanya yang makin berbeda-beda seperti bangsa lain di dunia, cinta tanpa pamrih dan tanpa pembedaan merupakan jiwa dan semangat hidup bagi mereka. Mereka dijiwai, diarahkan dan dibimbing oleh kasih karena cinta menembus perbendaan. Tentunya, cinta universal mengutuhkan, memurnikan dan mengurapi integritas setiap jiwa dan raga orang Papua untuk mengikuti hati nurani, melaksanakan misi kasih Allah dan kehendak-Nya bagi Papua. Bahkan setan Papua pun punya cinta kasih tebal sehingga orang Papua biasa meninggal bukan karena dibunuh atau karena suatu musiba, tetapi karena dia telah usia tua sampai berabad-abat. Mereka mengenal berbagai penyakit dan sakit yang mengancam eksistensi Papua setelah pemerintah Indonesia dating menguasai Papua. Oleha karena itu, setiap orang yang tinggal di Papua termasuk para guru dan peserta diundang untuk saling mengasih tanpa pamrih dengan mencerdaskan kehidupan bangsa Papua secara manusiawi, beradap dan beradat kasih. Dan karena itu, berbagai disiplin ilmu dapat dibahas, ditelaah dan digeluti dan dicerna dalam sinar kasih Allah demi perdamaian dan kebebasan
Bagikan artikel ini



