Pace

Cerpen : Abdul Munib
Jakarta masih tetap begitu. Orang-orang yang hidup di dalamnya dipengaruhi memori tentang peristiwa-peristiwa di ruang sejarah itu. Kadang acak. Acuh. Elo elo gua gua. Hidup cari jalan masing-masing. Tidak tampak sama sekali manifestasi sila Kelima : keadilan sosial yang didistribusikan untuk seluruh rakyatnya. Dunia pemerintahan dipenuhi manusia Tukang Olah
Diantara orang Betawi, - pemilik ulayat kota Jakarta, ada yang beruntung punya puluhan pintu rumah kost untuk menopang ekonominya. Ada yang jalan di trotoar mengiring Ondel-Ondel . Ngamen bersama anak-anak urban yang terbuang tak diberi ruang di kehidupan kota. Mereka tidak bisa memalang kantor-kantor kementerian seperti di Timur Matahari.
Pace mengulurkan uang biru lembaran lima puluh ribuan kepada pengamen. Rombongan pengamen kaget. Jarang ada yang memberi pengamen uang sebesar itu. Uang seribu dan dua ribu seolah dicetak untuk pengamen seperti mereka, selain untuk uang kembali, kotak amal dan parkir. Bahkan parkir pun sekarang sudah pakai Qris. Entahlah apakah pengamen dan kotak amal juga bakal menggunakan Qris.
"Pace tadi pasti keliru. Uang lima puluh ribu disangka uang kertas dua ribu. Memang warnanya hampir sama sih. " salah seorang murid kajian mengkritik Pace.
"Kekeliruan yang membuat rakyat terlantar senang, adalah kebenaran sejati. "
"Lain kali dicek dulu lembarannya Pace."
"Tidak. Saya tidak keliru. Pandangan umum yang melihat hal ini aneh. Kau mewakili pandangan umum itu. Tapi Tuhan selalu punya pandangannya sendiri. " Murid-murid tercekat.
Di bangsa ini yang baik jadi buruk. Yang salah jadi benar. Begitupun sebaliknya. Rakyatnya terlatih terlantar. Yang memegang amanat para pencuri.
#
Termasuk juga perkara Pancasila.
"Kesalahan Pak Karno dan Pak Harto, ketika berkuasa keduanya mengindoktrinasi Pancasila kepada rakyatnya. "
"Yang seharusnya bagaimana, Pace ? "
"Jangakan Falsafah Pancasila hasil kesepakatan besar Bangsa Indonesia, Agama sekalipun jika di lakterapkan dengan pola indoktrinasi akan berujung buruk. Yang seharusnya adalah, biarkan Bangsa Indonesia sendiri yang mencari dan menemukan maknanya masing-masing. Mengindoktrinasi itu sama dengan menyuapi makanan. Anak ketika disuapin terus tidak akan mandiri. Akan terus kekanak-kanakan dan tidak akan pernah dewasa. "
"Maksud Pece Bangsa Indonesia kekanak-kanakan dan belum dewasa? "
"Kamu yang mengatakannya. Tapi sejatinya memang begitu. Tak ada seseorang yang datang dari sudut jauh kota mengingatkan Bangsa Indonesia. Kenapa sejak Reformasi kalian marah dan menelantarkan Pancasila. Ibu Mega masih mau menjualnya di proyek BPIP. "
#
Pace besoknya mulai membuka kelasnya lagi dibawah rimbun pohon Bintoro. Buah pohon itu mirip mangga Kuweni tapi getahnya berbahaya. Memakannya bisa keracunan yang berakibat pada kematian. Ia jenis pohon rawa yang tahan kekeringan. Daunnya selalu basah.
Sore itu Pace memulai kelasnya. Angin kota membawa debu. Mengeraskan kulit wajah.
" Manusia itu terlahir dalam satu fitrah. Fitrah itu berupa kelahirannya ke muka bumi ini sebagai makhluk berakal. Dan oleh karena kelayakan akalnya itulah dia diberi kemerdekaan memilih mengikuti roadmap Tuhan atau menolaknya. Tapi kemerdekaan memilih itu harus dipertanggungjawabkan pada akhirnya," Pace sempat terhenti menerangkan, ketika beberapa peserta kajian baru tiba setelah seharian mereka kerja sebagai pemulung.
Makna Tuhan lah yang disembah oleh setiap mukmin. Pace menjelaskan bahwa di dalam Planet Makna segalanya bukan lagi tentang tingginya penalaran seseorang. Melainkan tentang meraih makna yang membuat Si Peraih terlepas dari ketakutan dan kesusahan.
"Kadang seorang petani tua sedang bercakap-cakap dengan tanamannya. Dia bertawasul melalui tanaman padinya yang mulai bertumbuh. Makna Tuhan baginya adalah Dia yang menumbuhkan padi dengan sebaik-baiknya tumbuh. Karena petani tua itu jujur. Bahwa dia bukan pihak yang bisa menumbuhkan padi itu sampai panen. Petani tua itu yakin seyakin-yakinnya setelah seumur hidupnya dihabiskan dengan tanaman, bahwa yang paling nyata dalam kehidupan ini adalah Tuhan. Sang penumbuh tabanan. Makna Tuhan yang benar-benar nyata dan hadir bersamanya dalam keseharian yang tak pernah dan tak mungkin pernah berpisah. .Begitulah contoh cara setiap orang memaknai. "
Pace mengupas persoalan makna yang setiap orang tidak sama menyelaminya, tapi bagi Tuhan itu tak mengapa.
#
Peserta kajian kadang surut tersisa dua atau tiga orang yang hadir. Tapi hal itu tak menjadi masalah buat Pace. Kadang peserta memunculkan masalah yang lagi tranding di Medsos. Kalau di Papua singkatan Medsos dirubah menjadi ; ( saling) Mendoakan Sesama Orang Sorong. Sarmi atau Sugapa.
Terlepas dari ketahanan Pangan yang sedang digalakkan oleh pemerintah, Pace tetap menjadi batu karang pemikiran yang integral. Anak-anak muridnya yang tersebar berdasarkan wilayah dan bidang profesi, pun tak pernah bisa tahu siapa setelah Pace yang akan masih bicara Bangsa Indonesia. Bangsa Pancasila ini. Sepertinya partai-partai pun sudah tidak lagi merawat narasi kebangsaan. Semua seperti sudah sepakat ; hari gene kok masih bicara kebangsaan.
"Indoktrinasi selama setengah abad telah membuat Bangsa Indonesia merasa diperkosa pikirannya. Pihak yang selama ini merasa diperkosa sedang balas dendam. Pak Karno bilang yang melawan revolusi berarti melawan Pak Karno dan Negara Indonesia. Pak Harto pun bilang seperti begitu : siapa pengkritiknya dianggap melawan pembangunan dan melawan Negara Indonesia. Setelah keduanya tidak berkuasa rakyat Indonesia jadi malas dengan Pancasila. Mengabaikannya bahkan mungkin hendak melupakannya. "
"Bukannya terhadap agama pun mereka juga memperlakukannya begitu, Pace? "
"Ya. Sama. Indoktrinasi dampaknya fatal. Di agama juga berefek buruk. "
" Apa ciri-ciri atau tanda-tanda keburukkan ketika agama disampaikan secara indoktrinasi ?""
"Banyak sekali. Pertama akal disuruh istirahat. Padahal akal lah yang membuat manusia layak diseru wahyu. Pesan wahyu tak dialamatkan pada entitas tak berakal. Indoktrinasi mengajak akal libur berpikir. Disuruh terima sesuatu pahaman tanpa boleh mempertanyakan,. Dasar mereka hanya memakai pokoknya harus begini begitu. "
"Seberapa parah hoax dapat memperburuk jiwa manusia, Pace ? "
"Hoax pertama adalah soal keabadian jiwa.?
" Maksudnya bagaimana, Pace? "
"Isyu perkara keabadian itu dilontarkan Iblis kepada Nabi Adam dan Istrinya. Kalau mau abadi harus makan buah Khuldi. Karena serakah akan keabadian itu lah maka, buah satu-satunya yang dilarang oleh Tuhan pun dimakannya pula oleh Adam dan Istrinya. "
"Jadi keabadian itu bagaimana, hoax atau tidak? "
"Jiwa itu berkeabadian. Makan buah terlarang atau tidak memakannya, jiwa tetap abadi. Karena jiwa atau nafs insaniah telah ditiupkan padanya Nafs Ar-Rahman. "
"Itu jiwa yang bagaimana Pace? "
"Itu jiwa yang perjalanannya akan menemui dua cabang. Ke arah kemuliaan. Atau arah kehinaan. Sama-sama abadi. "
"Apa pola menjajakan penawaran amanat akal itu akan terus dijalankan ? "
"Supaya kau camkan dalam ingatanmu. Bahwasanya rahasia-Nya lebih tebal dari permukaan luar berupa semesta ini. '
#
Langit masih dengan latar yang sama. Rasi Bintang Biduk, Bintang Weluku masih tampak memberi arah jalan para nelayan kuna. Tapi tidak untuk kali ini. Dan bangsa ini. Kompas pada kapalnya seperti telah rusak. Dan ia berjalan keluar arah jalur. Terpusar di tengah gelombang ketika angin berhembus berlawanan arah.
Pace masih duduk di kajian orang kecil yang di buang di kota seperti sampah. Menyampaikan tujuan pertama dan utama. Tapi sepertinya bangsa ini jalan di tempat. Semua kisahnya seperti dibikin di studio buatan. Semestinya akal jangan ditinggalkan.
Bagikan artikel ini



