DOGIYAI - Harapan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Propinsi Papua, pada pembukaan pelatihan petugas pendataan tahun periode yang lalu di Kabupaten Dogiyai, pendataan sensus pertanian dan perekonomian tidak untuk sensus penduduk saja.

Pendataan sistim berbasis kampung, sensus potensi desa/kampung yang vital dengan informasi yang dihasilkan berdasarkan survei.

Data potensi suatu kampung akan sangat relevan kebutuhan akan pembangunan kedepan.

Apa yang kami lihat dan kami data, sebagai laporan  kami selanjutnya  sensus itu sebagai data  kami BPS Kabupaten  Nabire.

Hasil data sensus kami selanjudnya akan dilaporkan ke BPS provinsi.

Dalam suasana pandemi Covid-19, kami jalankan tugas dan mendata apa adanya.

Demikian Oto Gobai, salah satu pegawai pencacah poses BPS kabupaten Nabire kepada awak media di Dogiyai. 

Sebagai petugas pencacah sensus ekonomi pertanian, tidak untuk sensus penduduk dimulai dari kampung.

Bagaimana dengan Covid, walaupun Dogiyai termasuk zona hijau, namun petugas tetap mengunakan masker, mencuci tangan dan atur jarak.

Kabupaten yang memiliki jangkauan pencacah jauh dan luas ini memiliki lima distrik di Mapia dan 5 distrik di Kamu.

Dengan jumlah 79 kampung ini, kata Oto Gobai, kami sensus di Moanemani Lembah Kamu, menyusul di Mapia.

Rata-rata, kepala distrik dari 10 distrik belum ada papan infomasi pembangunan.

Tahun kepemimpinannya untuk memudahkan tamu mereka dan wargapun boleh membaca papan informasi pembangunan.

Ekonomi pertanian juga bidang lain.

Usulan warga untuk kedepan BPS Nabire lakukan Survei Biaya Hidup (SBH), antara pegawai dan petani masyrakat biasa soal biaya hidup ekonomi di Kabupaten Dogiyai.(don)