NABIRE – Musyawarah Besar (Mubes) pencegahan HIV/AIDS dan pemberantasan Miras di 6 kabupaten di wilayah Meepagoo (Timika, Nabire, Dogiyai, Deiyai, Paniai dan Intan Jaya) akan dilaksanakan tanggal 17 hingga 20 November 2014 di Gereja Katolik Kristus Raja Siriwini. Menurut rencana, Mubes akan dibuka oleh Gubernur Papua, Lukas Enembe.   Ketua Panitia Mubes, Pater Nato Gobay saat bertandang ke redaksi, Selasa (4/11) mengatakan, penyakit memetikan HIV/AIDS datang tanpa diundang di daerah ini, bagaikan musuh dalam selimut. Jumlah korban yang telah meninggal dunia akibat HIV/AIDS di daerah ini sudah begitu banyak. Kata Pater Nato, sejak tahun 1992 hingga 2014, penyakit HIV/AIDS telah menelan korban 4.000-an orang Papua. Dari jumlah itu, sebesar 60 persen korbannya adalah masyarakat Suku Mee, sementara 40 persen dari suku lain. “Masalah ini jalan terus, tiap hari ada warga yang mati karena penyakit HIV/AIDS. Jika ini jalan terus, cepat atau lambat masyarakat terutama suku-suku yang lemah (di Mepago) ini terancam punah. Karena suku-suku ini tidak ada upaya dari diri sendiri atau pemerintah melalui dinas terkait saling koordinasi mengatasi HIV/AIDS,” ujarnya. Ditegaskan, pihaknya sangat prihatin dengan kondisi ini. Pihaknya tidak bisa tidak tinggal diam dalam keprihatinan. Tetapi keprihatinan diimplementasi dengan usaha mengatasi HIV/AIDS. Lebih lanjut dikatakan Pater Nato, ada dua hal terkait pelaksanaan Mubes nanti. Pertama, bagaimana cara memberantas Miras. Sebelum memberantas Miras, katanya, kemungkinan mengatasi HIV/AIDS kecil karena Miras merupakan pintu masuk untuk HIV/AIDS.  “Saya atas nama Gereja Katolik Keuskupan Timika berharap agar para pengusaha, pemasok, penjual Miras harus pikirkan kembali demi keselamatan masyarakat banyak disini. Secara ekonomi memang ini sebagai bentuk dari usaha, tapi mana yang lebih penting, jiwa manusia atau uang ?” tuturnya. Dirinya menegaskan agar penjualan Miras segera dihentikan, baik itu Miras produk lokal maupun produk pabrikan. Dirinya juga mengharapkan pihak berwenang dalam hal ini aparat kepamanan baik dari Polri maupun TNI, semua pihak yang terkait untuk mendukung dan melaksanakan apa yang diputuskan melalui Mubes. “Setelah Mubes kalau tidak ada tindak lanjut, pihak Gereja Katolik Keuskupan Timika akan bertindak langsung untuk gerakan putra putri daerah untuk bertindak memberantas minuman. Karena saya sebagai tokoh masyarakat dan tokoh agama kalau saya tidak bertindak, kepada siapa saya pergi untuk selamatkan rakyat,” tuturnya. Hal kedua yang akan menjadi pembahasan dalam Mubes, katanya, soal pencegahan penyakit HIV/AIDS. Katanya, selain imbas dari mengkonsumsi Miras, terjangkitnya penyakit mematikan ini juga bisa melalui cara-cara lain. Katanya, manusia butuh memiliki hal-hal baru seperti HP, televisi dan lainnya. Ketika ingin membeli, mereka tidak mendapatkan uang dari orang tua mereka yang berekonomi lemah. Akhirnya anak-anak muda mencari jalan pintas dengan “menjual diri”. Jika yang terjadi hal seperti ini, kata Pater Nato, mereka sangat berpeluang terkena HIV/AIDS. Selain itu, pintu masuk HIV/AIDS bisa juga melalui alat medis bekas orang yang sudah terjangkit penyakit mematikan ini. Pihaknya mengharapkan agar para tenaga medis di daerah ini untuk berhati-hati dalam menggunakan alat medis ketika sedang memberikan pelayanan medis kepada masyarakat. Terkait dengan pelaksanaan Mubes, pihaknya berharap para bupati di daerah ini bisa memberikan bantuannya. Hingga saat ini, kata Pater Nato, baru ada 1 bupati dan gubernur yang sudah memberikan dukungannya. Salah seorang aktivis Nabire, Yones Douw, menambahkan, kondisi riil yang ada saat ini, banyak masyarakat yang meninggal dunia karena penyakit HIV/AIDS. Namun upaya untuk meminimalkan korban jiwa akibat penyakit ini belum dilaksanakan dengan maksimal. “Yang menjadi korban akibat penyakit ini, imbas Miras adalah kebanyakan dari Suku Mee (Mepago) yang paling tinggi,” tambahnya. Dengan kondisi seperti ini jika kita tidak melakukan upaya pencegahan, siapa yang akan melakukan hal ini ? Memang ada pemerintah daerah melalui Komisi Pemberantasan Aids (KPA). Hanya saja sejauh ini korban akibat penyakit ini masih cukup tinggi. Berarti program yang dijalankan selama ini masih belum mengenai sasaran di tingkat bawah. Sehingga pihaknya hadir untuk mencari solusi melalui Mubes yang akan digelar nantinya. “Saya harap hasil Mubes, pemerintah provinsi dan 6 kabupaten harus melaksanakan dengan baik apa yang menjadi putusan, karena itu adalah suara rakyat,” tuturnya. Lebih lanjut ditegaskan Yones Douw, Mubes nanti hanya membicarakan soal pencegahan HIV/AIDS dan soal Miras, tidak akan membicarakan hal-hal lainnya. Mubes tidak akan membicarakan soal Pilkada, pemekaran, tidak bicara Papua merdeka. Namun Mubes dilakukan murni sebagai keprihatinan kemanusiaan di daerah ini. “Jika dalam pelaksanaannya ada pihak yang berbicara soal Papua merdeka, Pilkada dan urusan politik lainnya, panitia akan mengeluarkan dari Mubes. Saya himbau, masyarakat, pedagang minuman lokal maupun minuman pabrikan mulai sekarang tidak boleh ada minuman. Kita hargai Mubes ini, sehingga Mubes bisa berjalan dengan aman dan tertib,” harapnya. (ros)