Cerpen :Pace Munib

Suasana di Kampung Dukuh masih sekuat mungkin menjaga kesinambungan dengan masa lalu, tradisi dan menjaga lingkungan alam. Masyarakat memang banyak berubah setelah dua kali penggiringan mereka ke layar kaca televisi dan sekarang layar hape. Dua layar tadi sangat banyak merubah masyarakat Indonesia hingga ke kampung Dukuh juga.

Tiga tokoh utama Kampung Dukuh adalah teman sejak kecil waktu mereka Sekolah Dasar. Kepala Dusun (Kadus) Kamali, Kiai Haji Ludba dan pengusaha Bang Cukil. Di sela-sela kesibukan masing-masing mereka selalu menyempatkan kumpul di Saung Sawah, bubug yang atapnya alang-alang. Disanalah mereka merawat cita-cita masa kecil. Melakukan diskusi tadabur dan penghayatan lainnya ?

Tema obrolan mereka sangat cair tidak terjadwal ketat tapi mengalir. Kadang berupa hal terbuka seperti perkembangan dunia pada umumnya kadang hal tertutup. Untuk hal terbuka mereka bahas Barat yang semakin payah. Lawan milisi Hamas di Gaza saja Barat kalah. Seluruh Eropa lawan satu Putin juga kalah. Amerika nampak terlihat makin lemah, cuma gonggongannya saja masih terdengar. Tapi seperti suara gonggongan terakhir. Makin banyak negara tak takut dia lagi.

Bertiga juga biasa membahas era digital manfaat dan mazarat nya, Menurut Kadus Kamali, setiap perubahan sains dan teknologi sebenarnya hanya zaman yang diputar ulang. Katanya, Alquran sudah banyak menjelaskan peradaban kuna yang lebih canggih telah dihancurkan Tuhan karena telah berlebihan dalam kezaliman. "Banyak umat terdahulu dieliminasi dari panggung semesta ini, " ujarnya.

Tanggapan Kiai Ludba lain lagi. Dengan  mengutip ajaran dari moyangnya seorang Rakean dari leluhur zhunda, Kiai mengatakan bahwa masuk ke dalam manusia itu makanan lewat mulut dan ajaran lewat otak.

Sore itu Bang Cukil menghampiri bubug sawah usai mengurus perusahaannya. Dia direktur utama PT KAULI NANBARUDAG NUSANTARA.

Kata bang Cukil, " Begini pak Kiai. Sejak ada SD Inpres dan dulu Kridit Pupuk Binmas Inmas masuk ke Lembur Kita, saya melihat ada perubahan yang kurang bagus. ' ungkapnya.

"Saya rasa juga begitu. Setelah ada sekolah anak-anak menentukan cita-citanya sendiri, kita orang tua kerbau ikut jagir (anak kerbau). Begitu juga beras pupuk menurunkan daya tahan tubuh dan membuat sedikit keturunan, ' tangan Kadus Kamali.

Kiai masih menghisap rokok parilit daun jagung. Tadi dia memamerkan tembakau harumnya disertai wur dari cengkeh nomor satu. Kisi batuk dehem sebentar lalu meneruskan pemahamannya tentang perkembangan teknologi yang dibanggakan masyarakat Orang Bule yang semakin banyak didukung orang Nusantara.

"Pedoman kita harus memakai kitabnya Gusti Nu Mahasuci. Tantangan Alloh di surat Hajj ayat 73, Wahai manusia! Telah dibuat suatu perumpamaan. Maka dengarkanlah!

Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah tidak dapat menciptakan seekor LALAT pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya.

Dan jika LALAT itu merampas sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali dari LALAT itu. Sama lemahnya yang menyembah dan yang disembah. Demikian bunyi tantangan Allah kepada manusia ahli teknologi. Dan belum ada yang menjawab tantangan itu sampai sekarang. Orang Bule atau siapapun belum ada yang menjawab tantangan ini,. Dan tak ada yang akan bisa mampu menjawab tantangan ini sampai kapanpun,"   papar Kiai panjang lebar.

Bener juga ya Kiai, kata Bang Cukil. ' Lalat kan binatang yang oleh pandangan manusia dianggap kotor. Kerjanya hinggap di tempat sampah yang jorok. Tapi dalam berhadapan dengan musuh Nya, Tuhan malah mengandalkan makhluknya yang bernama LALAT ini. Makhluk Tuhan kan banyak termasuk jagad raya ini. Kok Lalat yang disambat sebagai makhluk andalan untuk menantang semua profesor yang dimiliki manusia di sepanjang jaman untuk berkolaborasi membuat Lalat tandingan, tanpa menuliru atau mengkloning. " Diskusi Saung Sawah mulai panas dan matang.

Menurut Kadus Kamali, kita manusia harus bersyukur ditampilkan di semeta ini sebagai entitas yang berakal sehingga diberi kesempatan untuk memegang kitab dari Sang Maha Pencipta. Semestinya kita manusia harus bisa diandalkan dari pada LALAT. Bukan malah kita terpesona dengan sains teknologi lalu sombong atau terpesona, lalu melupakan ajaran Alloh. Baru diberi ilmu pengetahuan sedikit saja tentang teknologi, sudah pingin jadi ateis.

"Ya benar kata Kang Kadus. Kita manusia jangan jadi makhluk yang mau dikalahkan oleh LALAT. Keberadaan kita harus dapat menjadi hujjah Allah di muka bumi dalam menghadapi musuh-musuh Nya. Supaya disamping Allah menggunakan LALAT sebahai alat menantang musuh Nya, Allah juga pakai kita juga, begitu. Kita mulai dari pertanyaan bagai mana mempersiapkan diri jadi Hujatullah ? Menjadi manusia yang dipakai Allah sebagai hujah dalam melawan musuh Nya. Jangan kalah dari Lalat. " Kiai Ludba makin memperdalam diskusi tazabur menjelang buka Puasa.

Jam di hape Kang Kadus sudah menunjukkan angka delapan belas kosong-kosong. Kelelawar Kampung Dukuh mulai keluar dari cerobong daun pisang muda. Mereka terbang menghiasi langit senja dengan latar merah. Langit yang dipenuhi darah yang belum tertebus. Dan ke pusaran sanalah seluruh prajurit manusia akan hanyut terisap. Tiga orang teman dekat itu sama-sama mendapat wasiat dari orang tua mereka tentang hal yang sama : nak jadilah kesatria, pantang hina, Mereka tahu puasa ini untuk apa ? Untuk dapat menyelam lebih dalam kehidupan sosial manusia, banyak yang kelaparan bahkan mereka tak bisa berbuka puasa, dan tak hanya di bulan Ramadhan.

"Kalau kita bertemu ada orang seperti itu, lalu kita diam saja tak menolongnya, maka otomatis kita tidak sedang beragama. Melainkan sedang jadi penipu, " kata Bang Cukil.

Duh duh duhh dug. Bunyi bedug maghrib ditabuh anak-anak kecil di mesjid Kampung Dukuh.