SANOBA – Getaran gempa yang terjadi pada subuh sekitar pukul 03.30 WIB, Jumat (19/9/25, tidak hanya mengejutkan warga Sanoba. Tetapi juga meninggalkan kerusakan parah pada insfrastruktur vital di wilayah tersebut. Jembatan utama yang selama ini menjadi nadi transportasi masyarakat mengalami kerusakan cukup serius, membuat aktivitas warga lumpuh seketika.

Menurut data BMKG, setelah gempa utama magnitudo 6,6 pada tanggal 19 September 2025, wilayah Nabire telah diguncang hingga 161 kali gempa susulan. Bahkan pada tanggal 25 September 2025 pukul 07:57 WIT kembali terjadi gempa susulan berkekuatan M 4,0 dengan episenter 8km tenggara Nabire pada kedalaman 22km.

 Pantau di lapangan, cor-coran Jembatan Sanoba mengalami retakan yang cukup besar. Beberapa bagian turun dan bergeser, bahkan tidak lagi aman untuk dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Hanya pejalan kaki yang masih bisa melintas dengan penuh kehati-hatian, itupun dalam kondisi berisiko.

“Begitu gempa berhenti, kami langsung keluar rumah dan melihat kondisi sekitar. Saat kami melihat jembatan yang berada tidak jauh dari kawasan rumah, ternyata sudah retak parah. Mobil atau motor jelas tidak bisa lewat,” ungkap salah seorang warga setempat.

Kerusakan ini membuat masyarakat Sanoba terpaksa mencari jalur alternatif untuk melanjutkan aktivitas sehari-hari. Jalur yang kini digunakan adalah jalan Sanoba Atas, namun rute tersebut jauh lebih panjang dan memakan waktu perjalanan lebih lama. Akibatnya, warga yang hendak bekerja, bersekolah, atau berdagang harus berangkat lebih pagi dan pulang lebih lambat.

Pemerintah melalui dinas pekerjaan umum dan infrastruktur disebut sebagai pihak yang bertanggung jawab menangani kerusakan ini. Warga berharap agar langkah cepat segera dilakukan, mengingat jembatan tersebut adalah akses utama yang menghubungkan Sanoba dengan wilayah sekitarnya.

“Kalau tidak segera diperbaiki, kami akan sangat kesulitan. Jembatan ini jalur utama untuk semua kegiatan kami. Mau ke pasar, sekolah, atau ke kantor, pasti lewat sini,” keluh seorang pedagang yang biasa melintas setiap hari.

Jembatan Sanoba memang memiliki peran vital dalam kehidupan masyarakat. Keberadaannya menjadi urat nadi perekonomian sekaligus jalur penghubung antarwilayah. Rusaknya jembatan ini membuat aktivitas warga tersendat dan sebagian bahkan kehilangan mata pencaharian karena sulit mengakses tempat berdagang.

Hingga kini, kondisi jembatan masih memprihatinkan. Warga hanya bisa menunggu tindak lanjut dari pemerintah sambil tetap berhati-hati menggunakan jalur alternatif. Harapan mereka sederhana, jembatan segera diperbaiki agar kehidupan bisa kembali normal pasca gempa.(Anggota Kelompok 5, Baihaqi Maulana Malik, Natasya Enjelita Putri, Nadira AL Fiyah Khasyi, Chynta Aulia Artamevia, Renita Putri Sitorus, Kristiani Belo Turu Kada)