NABIRE - Proyek kemitraan untuk Akselerasi Percepatan Penurunan Stunting di Indonesia (PASTI) Papua menggelar Pelatihan Komunikasi Antar Pribadi (KAP) Batch II bagi agen perubahan lokal di Kabupaten Nabire.

Perwakilan PASTI Papua, Yuel Korowa, mengatakan pelatihan ini merupakan bagian dari penguatan kapasitas individu di wilayah dampingan yang meliputi empat distrik, dua kelurahan dan lima kampung.

“Pada Batch I kami telah melatih 19 peserta dari kader Posyandu, guru, tokoh agama, PLKB dan unsur lain yang langsung berada di komunitas masyarakat,” ujar Yuel di Nabire, Kamis (20/8/2026).

Menurut Yuel, pencegahan stunting tidak bisa dibebankan hanya kepada pemerintah atau kader Posyandu semata. “Stunting bukan hanya urusan pemerintah dan kader Posyandu, tetapi urusan semua pihak karena berbicara tentang masa depan kualitas manusia,” tegasnya.

Bersamaan dengan pelatihan, tim PASTI Papua juga melakukan verifikasi data bayi, Balita dan ibu hamil di 18 Posyandu dampingan guna persiapan pengukuran pada September mendatang. “Apakah gizinya berkurang, berat badannya tetap atau menurun, itu yang sedang diverifikasi teman-teman hari ini,” jelas Yuel.

Pelatihan selama tiga hari ini difasilitasi oleh tim RCCE yang berpengalaman, karena KAP menjadi kunci dalam menuntut perubahan perilaku sejak sebelum bayi lahir. “Termasuk peran ayah sangat penting untuk memastikan ibu hamil sehat jasmani dan psikis sehingga bisa melahirkan anak yang sehat,” tambahnya.

Yuel menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Nabire atas dukungan terhadap upaya penurunan stunting bersama Yayasan Wahana Visi Indonesia. “Sejatinya kami adalah suplemen dan pendorong, sementara penyedia layanan utama adalah pemerintah,” ujarnya.

Wakil Bupati Nabire, Burhanuddin Pawannari, menegaskan stunting bukan semata masalah kesehatan, melainkan persoalan pembangunan manusia yang membutuhkan keterlibatan semua pihak. Hal tersebut ia sampaikan saat membuka pelatihan KAP dalam rangka mendukung proyek PASTI di wilayahnya.

Menurut Burhanuddin, pencegahan stunting harus dilakukan secara terpadu, mulai dari pemenuhan gizi, kesehatan ibu dan anak, sanitasi hingga pola asuh keluarga.

“Pemerintah Kabupaten Nabire menyambut baik proyek PASTI Papua sebagai bentuk kemitraan dan kolaborasi untuk mempercepat pencegahan stunting,” ujarnya.

Burhanuddin menjelaskan, Proyek PASTI Papua akan berjalan selama 2 tahun 8 bulan dengan fokus pada penguatan intervensi dan kolaborasi di Papua. Ia menilai kunci keberhasilan program terletak pada KAP agar pemerintah tidak sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga berdialog dan mendampingi masyarakat. “Seorang agen perubahan tidak hanya menjadi penyampai pesan, tetapi juga pendengar, pendamping, penggerak dan jembatan perubahan di tengah masyarakat,” katanya.

Keberagaman adat dan karakter wilayah di Kabupaten Nabire juga menuntut pendekatan komunikasi yang penuh penghormatan terhadap kearifan lokal. Burhanuddin berharap seluruh peserta mengikuti pelatihan dengan sungguh-sungguh untuk membangun komunikasi yang efektif, persuasif dan humanis. “Para agen perubahan lokal saya harapkan mampu menjadi penggerak dalam mendorong perubahan perilaku terkait pola hidup sehat dan pencegahan stunting sejak dini,” harapnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan komitmen Pemkab Nabire untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor yang melibatkan tenaga kesehatan, tokoh adat, tokoh agama hingga dunia usaha. “Dibutuhkan kerja bersama antara pemerintah, kader, dunia pendidikan, Ormas dan seluruh elemen masyarakat untuk menangani stunting,” ujarnya.

Ia berharap kerja sama antara proyek PASTI Papua dan lintas sektor di Nabire terus diperkuat agar program benar-benar memberi manfaat nyata bagi masyarakat. “Mari hadir bukan hanya untuk memberi informasi, tetapi juga untuk mendengar dan memahami kebutuhan mereka karena perubahan berkelanjutan dimulai dari komunikasi yang baik,” pungkas Burhanuddin. (amd)