LMA Nabire Deklarasikan Komitmen Jaga Persatuan dan Kedamaian
Semangat persatuan dan keberagaman masyarakat adat menggema di Taman Gizi Oyehe, Distrik Nabire, Rabu (19/8/2026). Sekitar 350 warga dari berbagai suku dan elemen masyarakat mengikuti Deklarasi dan Pawai Masyarakat Adat Nusantara yang digelar Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Kabupaten Nabire dalam rangka memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

NABIRE — Semangat persatuan dan keberagaman masyarakat adat menggema di Taman Gizi Oyehe, Distrik Nabire, Rabu (19/8/2026). Sekitar 350 warga dari berbagai suku dan elemen masyarakat mengikuti Deklarasi dan Pawai Masyarakat Adat Nusantara yang digelar Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Kabupaten Nabire dalam rangka memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Mengusung tema “Bersama dalam Keberagaman Ciptakan Papua Tengah yang Aman dan Damai”, kegiatan tersebut dipimpin Ketua LMA Kabupaten Nabire Karel Misiro, didampingi Koordinator Wilayah LMA Papua Tengah Yona Kogoya.
Kegiatan turut dihadiri Asisten I Setda Nabire La Halim, S.Sos., yang mewakili Bupati Nabire, Danlanal Nabire Letkol Laut (P) Mario Marco Wainarisi, unsur TNI-Polri, tokoh adat, serta tokoh masyarakat.
Dalam sambutannya, Yona Kogoya menegaskan bahwa keberagaman suku, budaya, dan agama yang hidup berdampingan di Nabire bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan modal utama dalam membangun persaudaraan dan kedamaian.
Menurutnya, LMA memiliki komitmen untuk terus mendorong masyarakat agar menjauhi kekerasan dan kebencian serta membangun kehidupan sosial yang rukun.
“Keberagaman adalah kekuatan kita. Karena itu, mari kita menjaga persaudaraan, menolak kekerasan dan kebencian, serta bersama-sama mendukung pembangunan Papua Tengah,” pesannya.
Ia juga menaruh perhatian pada pentingnya pendidikan bagi generasi muda. Menurutnya, pembangunan Papua Tengah tidak hanya membutuhkan pembangunan fisik, tetapi juga sumber daya manusia yang berkualitas.
Sementara itu, Ketua LMA Kabupaten Nabire Karel Misiro mengatakan deklarasi tersebut menjadi simbol persatuan masyarakat adat dalam momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Deklarasi, kata dia, sekaligus menjadi pengingat pentingnya menjaga adat dan budaya sebagai warisan leluhur yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Ini adalah momentum bagi kita semua untuk memperkuat persatuan masyarakat adat dan menjaga adat serta budaya sebagai warisan leluhur,” ujar Karel.
Dalam deklarasi yang dibacakan Karel Misiro, masyarakat adat Kabupaten Nabire menyatakan sejumlah komitmen bersama. Di antaranya menjadikan keberagaman sebagai kekuatan persatuan, menolak provokasi, hoaks, kekerasan dan konflik antarsuku, menjaga keamanan serta ketertiban masyarakat, dan mendukung program pembangunan demi kesejahteraan masyarakat Papua Tengah.
Mewakili Bupati Nabire, La Halim menyampaikan apresiasi pemerintah daerah terhadap peran LMA sebagai salah satu mitra strategis pemerintah dalam menjaga ketertiban sosial, memperkuat persatuan masyarakat, sekaligus melestarikan adat dan budaya.
Ia menegaskan, kemerdekaan Indonesia lahir dari keberagaman yang menjadi kekuatan bangsa.
“Perbedaan harus menjadi perekat persaudaraan, bukan menjadi sumber perpecahan,” tegasnya.
Pesan persatuan tersebut kemudian diterjemahkan dalam aksi nyata. Usai deklarasi, ratusan peserta melanjutkan kegiatan dengan pawai budaya mengelilingi Kota Nabire.
Pawai dimulai dari Taman Gizi Oyehe, kemudian bergerak menuju Kalibobo dan kembali ke titik awal. Berbagai unsur masyarakat adat ikut ambil bagian, membawa semangat kebersamaan dalam suasana perayaan kemerdekaan.
Kegiatan yang menjadi gambaran wajah Nabire sebagai rumah bersama berbagai suku dan budaya tersebut berlangsung aman dan tertib hingga berakhir sekitar pukul 17.20 WIT.
Bagi masyarakat adat Nabire, kemerdekaan bukan sekadar perayaan tahunan. Momentum HUT ke-81 RI menjadi ruang untuk kembali meneguhkan pesan bahwa keberagaman adalah kekuatan, adat adalah identitas, dan kedamaian merupakan fondasi penting bagi masa depan Papua Tengah. (ppn)
Bagikan artikel ini



