Oleh : Damianus Djumadi Norut

Ungkapan Latin homo homini lupus, yang secara harfiah berarti “manusia adalah serigala bagi sesamanya,” telah lama dipakai untuk menggambarkan sisi gelap hubungan antarmanusia: kecenderungan untuk saling merugikan, menguasai, atau melukai ketika struktur moral, sosial, dan hukum melemah. Ketika kita mendengar keluhan masyarakat mengenai maraknya aksi begal dan kekerasan jalanan di suatu daerah misalnya sebagaimana sering disampaikan warga Nabire melalui cerita, unggahan media sosial, atau percakapan sehari-hari ungkapan itu seolah menemukan konteks aktualnya. Ia menjadi cermin yang memantulkan rapuhnya rasa aman, runtuhnya kepercayaan sosial, dan menguatnya logika “yang kuat bertahan, yang lemah menjadi mangsa”.

Dalam perspektif homo homini lupus, kejahatan seperti begal tak semata-mata lahir dari individu yang “jahat”, tetapi dari situasi sosial dan psikologis yang mendorong manusia bersikap predatoris. Ketika seseorang memilih merampas harta orang lain di jalan berarti ia sedang menjalankan logika “serigala”: bertindak cepat, memanfaatkan kelemahan korban, dan mengutamakan keuntungan pribadi tanpa memikirkan nilai moral maupun dampak terhadap komunitas. Lebih mengerikan lagi ketika kondisi-kondisi di masyarakat membuat perilaku seperti ini dianggap sebagai “jalan pintas” atau “pilihan bertahan hidup”, bukan sebagai penyimpangan ekstrem.

Jika kita mencoba mengaitkan situasi yang dikeluhkan warga Nabire dengan konsep ini, ada beberapa lapisan masalah yang bisa dibahas.

Pertama, kondisi sosial-ekonomi yang timpang.

Masyarakat di daerah mana pun, termasuk Nabire, dapat mengalami tekanan ekonomi yang tinggi entah akibat terbatasnya lapangan pekerjaan, tingginya biaya hidup, atau kurangnya kesempatan kerja untuk warga ,dalam hal mengembangkan keterampilan dan menemukan arah hidup. Dalam keadaan seperti itu, sebagian orang bisa tergoda untuk mengambil jalan ekstrem: mencuri, memalak, atau membegal. Tentu, tekanan ekonomi bukan pembenaran atas tindak kejahatan. Namun, ia dapat menjadi salah satu faktor yang mempercepat munculnya karakter “serigala” ketika struktur penyangga moral melemah.

Kedua, melemahnya rasa kehadiran negara.

Ungkapan homo homini lupus juga mengandung gagasan penting: manusia menjadi “serigala” ketika tidak ada kekuatan yang lebih besar misalnya negara atau tatanan hukum yang mampu mengatur, melindungi, dan memberikan rasa aman. Thomas Hobbes, filsuf yang mengutip pepatah ini, berpendapat bahwa tanpa otoritas yang kuat dan mampu menegakkan hukum, masyarakat akan jatuh ke dalam “perang semua melawan semua.”

Dalam konteks keluhan warga mengenai begal yang seakan terjadi “hampir setiap hari”, yang sebenarnya tercermin bukan hanya aksi kriminalnya, tetapi ketidakpercayaan pada kemampuan sistem keamanan untuk mencegah atau merespons. Ketika laporan warga tidak ditangani cepat, ketika patroli tidak terlihat, atau ketika pelaku tidak tertangkap, masyarakat merasakan bahwa mereka kembali berada pada kondisi “alamiah” yang memungkinkan setiap orang menjadi ancaman bagi yang lain.

Ketiga, retaknya solidaritas sosial.

Dalam masyarakat yang sehat, hubungan sosial dan rasa saling percaya menjadi “penangkal” paling kuat terhadap logika homo homini lupus. Namun, ketika masyarakat mulai saling curiga memandang setiap orang asing sebagai potensi kriminal, takut keluar malam, atau tak lagi percaya pada lingkungan sekitar maka solidaritas yang seharusnya menjadi pelindung berubah menjadi ketakutan kolektif.

Bagi daerah seperti Nabire yang memiliki keragaman suku, retaknya rasa solidaritas ini dapat memicu konflik yang lebih luas. Ketika kejahatan meningkat, prasangka antar kelompok mudah muncul, dan masyarakat terpecah menjadi “kami melawan mereka”, sesuatu yang Hobbes sebut sebagai kondisi praperadaban yang kacau.

Keempat, dampak psikologis yang mendalam bagi korban dan masyarakat.

Setiap aksi kekerasan meninggalkan trauma. Orang yang pernah dibegal akan membawa ketakutan itu bertahun-tahun. Lebih luas lagi, masyarakat akan mengembangkan pola hidup defensif: tidak berani keluar malam, selalu waspada berlebihan, bahkan membatasi aktivitas ekonomi.

Inilah kondisi sosial yang paling cocok dengan gambaran “dunia serigala”: dunia di mana rasa takut menguasai, dan hubungan sosial berubah dari saling membantu menjadi saling menghindari.

Namun, apakah masyarakat harus menerima bahwa manusia memang “serigala” bagi sesamanya?

Tentu tidak. Ungkapan homo homini lupus adalah peringatan, bukan takdir. Ia mengajak kita melihat apa yang terjadi ketika masyarakat kehilangan struktur moral, keadilan sosial, dan kehadiran negara yang efektif. Dan justru karena itu, ia menjadi panggilan untuk melakukan kebalikan dari sifat “serigala”.

Untuk situasi yang dikeluhkan warga Nabire, ada beberapa refleksi yang relevan:

  1. Perlu kehadiran negara yang lebih nyata.
  2. Bukan hanya dalam bentuk penindakan, tetapi juga pencegahan: penerangan jalan, patroli, kamera keamanan, respons cepat, serta komunikasi terbuka antara aparat dan warga.
  3. Penguatan ekonomi lokal dan ruang kreatifitas bagi warga
  4. Ketika peluang kerja dan kegiatan positif terbuka, “logika serigala” akan mudah terkikis oleh harapan hidup yang lebih baik.
  5. Revitalisasi solidaritas sosial.
  6. Forum warga, komunikasi antar kampung/kelurahan, dan kegiatan berbasis komunitas dapat membangun kembali rasa saling jaga. Ketika masyarakat bersatu, pelaku kriminal akan kehilangan ruang gerak.
  7. Pendidikan moral dan pembentukan karakter.
  8. Sekolah, keluarga sebagai seminari fundamental pembentukan mental dan komunitas social,agama dan komunitas budaya memiliki peran penting untuk menanamkan nilai saling menghormati nilai yang menjadi antitesis dari homo homini lupus.
  9. Mengedepankan keadilan yang transparan.
  10. Ketika pelaku kriminal benar-benar diproses secara hukum dan hasilnya transparan, kepercayaan masyarakat terhadap sistem akan pulih.

Pada akhirnya, ungkapan homo homini lupus bukan sekadar cermin bagi situasi kriminalitas yang meresahkan seperti yang dikeluhkan warga Nabire, tetapi juga sebuah undangan untuk merenung: Dalam masyarakat seperti apa manusia berubah menjadi serigala? Dan apa yang bisa kita lakukan agar manusia kembali menjadi mitra, sahabat, dan penjaga bagi sesamanya?

Keamanan bukan milik segelintir orang. Ia adalah hasil dari kerja bersama negara yang hadir, masyarakat yang solid, dan individu yang memilih untuk tidak menjadi “serigala” meskipun ada peluang untuk itu. Dengan membangun tatanan yang adil dan beradab, kita membuktikan bahwa manusia sesungguhnya tidak ditakdirkan untuk saling memakan, tetapi untuk saling menjaga.