Kurangnya informasi mengenai HIV menyebabkan pemahaman yang keliru sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa stigma terhadap HIV tetap tinggal di dalam masyarakat. Selama ini pemahaman masyarakat bahwa HIV adalah suatu penyakit kutukan dan belum ada obat yang mampu menekan virus ini. Orang dengan HIV- AIDS (ODHA) adalah orang yang lemah, sakit-sakitan dan tidak mampu bertahan hidup, ada pula anggapan mengatakan jika seseorang yang terinfeksi HIV maka hidupnya telah berakhir dengan kata lain orang tersebut tidak memiliki masa depan. Pemahaman yang keliru seperti ini memang perlu untuk diluruskan.   HIV (Human Immunodeficiency Virus) bukanlah suatu hal yang menakutkan ataupun penyakit kutukan. Seperti layaknya virus lain yang menyerang tubuh manusia, HIV dapat dikendalikan dengan cara yang tepat. Kekhasan dari HIV adalah virus ini menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, itu sebabnya orang yang terinfeksi virus ini lama kelamaan tubuhnya akan semakin lemah dan sangat mudah terserang oleh penyakit- penyakit, karena jika sistem kekebalan tubuh/ perlindungan tubuh orang yang terinfeksi HIV sudah menurun tidak mampu lagi untuk menjalankan fungsinya untuk melindungi tubuh dari penyakit lain. Penyakit lain tersebut biasanya dikenal dengan sebutan Infeksi Oportunistik (IO) atau Penyakit Penyerta seperti: tuberkolosis paru, jamur di mulut, herpes, dll. Akibat dari lemahnya sistem kekebalan tubuh manusia sehingga tidak mampu lagi melindungi tubuh dari berbagai macam penyakit berujung pada AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Acquired berarti didapat, bukan keturunan .Immune adalah sistem kekebalan tubuh kita. Deficiency berarti kekurangan. Syndrome atau sindrom berarti keadaan penyakit dengan kumpulan banyak gejala, bukan satu gejala tertentu saja. Jadi AIDS berarti keadaan penyakit dengan kumpulan gejala akibat kekurangan atau kelemahan sistem kekebalan tubuh yang didapat. Jika seseorang sudah sampai pada stadium ini maka akan sangat membutuhkan waktu yang lama untuk menjadi sehat kembali. Itulah sebabnya dianjurkan kepada setiap orang agar memeriksakan status HIV nya sedini mungkin sehingga jika orang tersebut positif terinfeksi HIV petugas kesehatan dapat langsung memberikan pengobatan. Dengan demikian kondisi kesehatan seorang pasien yang positif HIV tidak berkembang menjadi AIDS. Agar virus tidak terus berkembang maka seseorang yang positif terinfeksi HIV harus mengkonsumsi obat Anti Retroviral (ARV). Anti Retroviral sendiri tidak membunuh HIV di dalam darah tetapi melalui Terapi Anti Retroviral (ARV) dapat menekan perkembangan virus. Sehingga ARV mampu memberikan kehidupan yang normal seperti layaknya orang sehat bagi orang yang terinfeksi HIV yang mengkonsumsinya. Bentuk sediaan ARV sendiri ada yang berupa tablet dan ada juga dalam bentuk sediaan sirup yang diperuntukan bagi anak- anak yang terlahir positif terinfeksi HIV dari ibunya. ARV harus dikonsumsi/ diminum secara rutin dan teratur seumur hidup oleh seorang penderita HIV. Selain dapat memberikan kehidupan yang normal bagi orang yang positif terinfeksi, melalui terapi ARV juga dapat mengurangi resiko penularan HIV dari orang terinfeksi HIV kepada orang lain. Seperti yang kita ketahui bahwa HIV hanya bisa ditularkan melalui penggunaan jarum suntik secara bergantian dengan orang yang terinfeksi HIV, melalui darah, melalui hubungan seks yang tidak aman serta melalui seorang ibu kepada anaknya. Akan tetapi jika orang tersebut positif terinfeksi HIV dan mengkonsusmi ARV secara teratur maka resiko orang tersebut menularkan virus ke orang lain terlebih orang- orang terdekatnya akan sangat kecil. Seorang ibu hamil yang positif terinfeksi HIV jika teratur mengkonsumsi ARV dapat melahirkan anak dengan status HIV negatif. Begitu juga dengan pasangan suami istri, jika salah satu (suami/ istri) terinfeksi HIV dan mengkonsumsi ARV secara teratur maka resiko suami/  istri menularkan kepada pasangannya menjadi kecil.   Pengobatan Anti Retroviral (ARV) dapat diperoleh di Rumah Sakit Umum Daerah Nabire maupun di Puskesmas terdekat secara gratis bagi kita semua. Saat ini baru Puskesmas Bumiwonorejo, Puskesmas Samabusa, dan Klinik St. Rafael yang sudah dapat melayani pengobatan ARV namun ke depannya Pemerintah Kabupaten Nabire melalui Dinas Kesehatan Nabire merencanakan dan mengupayakan agar seluruh Puskesmas di Kabupaten Nabire mampu melayani pengobatan bagi pasien yang positif terinfeksi HIV. ***