Asa Mono, Sebungkus Urapan Ikan Asin
Setiap yang bernyawa memiliki keinginan harapan dalam menapak atau sekedar menghidupi dirinya sendiri, bahkan untuk orang lain. Meskipun terkadang asa itu tak semanis gula aren yang ramai diseduh bersama kopi di warung kecil maupun sekelas kafe gemerlap lampu temaram. Asa itu Darmono. Lelaki paruh baya asal Pati, Jawa Tengah ini setiap pagi keliling kota Nabire manjajakan sayur mayur, buah-buahan, jajanan pasar dan menu sarapan pagi ala kadarnya.

Setiap yang bernyawa memiliki keinginan harapan dalam menapak atau sekedar menghidupi dirinya sendiri, bahkan untuk orang lain. Meskipun terkadang asa itu tak semanis gula aren yang ramai diseduh bersama kopi di warung kecil maupun sekelas kafe gemerlap lampu temaram.
Asa itu Darmono. Lelaki paruh baya asal Pati, Jawa Tengah ini setiap pagi keliling kota Nabire manjajakan sayur mayur, buah-buahan, jajanan pasar dan menu sarapan pagi ala kadarnya.
Klakson Honda Supra tua miliknya biasa mulai berbunyi sekitar pukul delapan pagi. “Ganjal perut, ganjal perut, sayur mas,” kalimat khasnya ketika memasuki halaman Kantor Redaksi Papuapos Nabire, Kotalama pagi itu.
Bagi yang mau sarapan pagi ada nasi urap yang dijualnya dengan harga lima ribu rupiah. Begitu pun jajanan atau sayuran semua dijual murah. Nama-nama dagangannya cukup unik. Ada kerupuk India, semangka Inul dan nasi Kucing.
Ketika ditanya apakah kerupuk India digoreng di India? Pakde Mono hanya tersenyum. Dia seorang pedagang sayur keliling yang lucu dan suka bercanda dengan siapa saja yang ditemuinya dengan corak gaya orang tua dulu, bertas selempang dan topi hitam yang mulai terlihat usang.
Semangat dan kesehajaannya jangan ditanya. Dia mengunjungi pelanggannya tiap hari dengan tepat waktu. Dengan berbekal sepeda motor tahun sembilan puluhan dan gerobak sayur buatan tangannya sendiri, mampu membuahkan harga jual dagangan Pakde Mono jadi solusi bagi masyarakat yang kesulitan daya beli.
Di tengah riuhnya jagat maya yang kerap mendengungkan narasi krisis ekonomi, realita di sudut-sudut kota justru bicara lain. Kesederhanaan pangan lokal kerap kali menjadi bukti sahih ketahanan pangan kita masih kokoh berdiri di atas alas daun pisang.
“Indonesia krisis? Ah, kalau lihat nasi urap ini, rasanya kata krisis itu jauh sekali,” ujar seorang warga sambil menimang bungkusan daun pisang yang masih hangat itu.
Nasi urap, panganan murah meriah ini nyatanya mampu menjadi pahlawan bagi lambung masyarakat ekonomi rendah di jam-jam krusial akan beraktifitas. Hanya dengan lima ribu rupiah, sebungkus nasi sekepal lengkap dengan parutan kelapa berbumbu dan ikan asin, sanggup mengganjal perut hingga setengah hari lamanya.
Nilai guna nasi urap ini mengingatkan pada Serabi di tanah Jawa yang harganya hanya dua ribu rupiah. “Serabi yang dimasak pakai tungku tanah itu juga bikin kenyang sampai siang, sama efektifnya dengan nasi urap ini untuk tenaga kerja,” tambah warga tersebut membandingkan.
Di balik distribusi nasi urap dan sayur-mayur yang menyambung hidup warga Nabire. Bapak satu anak, berusia 64 tahun ini merupakan potret nyata determinasi rakyat kecil dalam menjaga roda ekonomi tetap berputar dan tak kalah bersaingnya dengan program MBG pemerintah di kala Minggu serta libur sekolah beristirahat.
“Saya sudah keliling berjualan sayur di Sorong, Manokwari, Jayapura sampai akhirnya sekarang di Nabire, selain untuk menyambung hidup juga untuk membiayai anak, cucu sekolah dan tentunya keluarga,” tutur Pakde Mono, dengan wajah yang tetap bugar meski rambutnya mulai memutih.
Setiap pagi, dari kediamannya di Satuan Pemukiman 3 Wadio yang berjarak puluhan kilometer, Mono memacu sepeda motor Supra kesayangannya. Di atas motor itulah, berbagai bahan pangan mulai dari bungkusan tempe, tahu, rengginang, tape, telur puyuh, arem-arem, kacang hingga sayur mayur serta kupasan buah segar tersusun rapi.
“Sayur-sayur ini saya ambil dari orang lain, Ba’da Salat Isha- lalu saya jual lagi putar-putar komplek sampai ke Kotalama ini, kecuali dagangan lainnya bakulnya di Pasar Pagi Bumiwonorejo,” katanya sambil menata dagangan yang nampak segar di bawah sinar mentari pagi.
Suaranya yang khas sering kali memecah kesunyian komplek, menjadi alarm alami bagi para ibu rumah tangga. “Sayur… nasi, kue lokal, buah-buahan mas. Ada semangka Inul,” teriaknya lantang, menghidupkan suasana pagi yang hangat.
Bagi Pakde Mono, jualan sayur bukan sekadar mencari untung, tapi tentang bagaimana ia bisa menghidupi keluarga dengan tangan sendiri. “Ya keuntungannya lumayanlah, cukup sekali buat sekolah anak dan makan sehari-hari,” ungkapnya jujur.
Menariknya, rutinitas kakek dua cucu ini hanya berlangsung setengah hari saja. Namun, dalam waktu lima hingga tujuh jam lamanya tersebut, ia telah memastikan distribusi gizi dan pangan sampai ke depan pintu rumah pelanggan setianya.
Fakta di lapangan menunjukkan, selama nasi urap seharga lima ribu rupiah masih tersedia dan penjual sayur seperti Pakde Mono masih berkeliling, narasi krisis yang digembar-gemborkan di media sosial terasa seperti angin lalu.
“Kalau memang krisis, tidak mungkin orang masih bisa kenyang sampai siang hanya dengan uang recehan,” celetuk seorang pelanggan Pakde Mono saat membeli arem-arem dan kerupuk gorengan pasir.
Nasi urap dan semangat Mono seolah menjadi tamparan lembut bagi mereka yang terlalu masif dengan data statistik tanpa melihat realita di gang-gang sempit. Indonesia, dengan segala kearifan pangannya, terbukti jauh lebih tangguh dari apa yang tampil di layar ponsel.
Beda, namun sangat tipis, pedagang sayur dan jajanan pasar keliling lainnya, dari kalangan kaum Hawa. Mbak Tin turut memberikan nuasa berbeda bagi IRT yang telat bangun pagi, di saat sang suami terlambat pulang ke rumah, lantaran Nobar Piala Dunia bersama rekan sejawatnya.
Dengan dagangan mendekati lengkap, suara deruh knalpot matik milik Tini ini memecah kesunyian pagi di komplek perumahan Jayanti. Bermodalkan bisingan klakson, wanita berhijab dan nampak gemukan sedikit ini mulai menawarkan bakulannya.
“Sayur mbak Tin, ada kue atau nasi kuning tidak,” panggil seorang ibu rumah tangga yang keluar dari halaman rumah memakai daster sedikit acak-acakan. “Ada buk, bentar ya- aku parkirkan motor yang benar,” jawab Tini dengan senyum khasnya.
Bagi sosok Darmono yang masih memiliki asa berjuang menghidupi keluarga, walaupun telah berumur dan pedagang sayur keliling lain seperti Tini, sekiranya memberikan satu gambaran dan inspirasi bagi kalangan muda-mudi Papua, untuk berdagang dan berusaha di atas kaki sendiri.
Mencari nafkah tidak perlu gengsi dan terlalu berharap banyak menjadi pegawai, yang bergantung dengan gaji bulanan, seperti PNS atau anggota Polri serta TNI saja, apalagi dengan adanya otonomi khusus. Tetapi dengan ketekunan dan semangat kemandirian berkerja, pastinya akan bisa menjadi pejuang receh yang ulet dan berhasil ataupun sekedar bertahan dalam persaingan bisnis global sekarang ini.(Red)
Bagikan artikel ini



