Diharapkan ada Perhatian Pemda, Anak-anak Terminal Dogiyai Ramaikan HUT RI ke-70
DEIYAI - Anak-anak yang selalu jatuh bangun di terminal Moanemani, Dogiyai, ikut mengambil bagian dalam beberapa perlombaan yang diselenggarakan dalam rangka memperingati dan memeriahkan HUT RI ke-70 tahun 2015. Dengan harapan, ada perhatian lebih kepada mereka. Ketua
Bagikan
DEIYAI - Anak-anak yang selalu jatuh bangun di terminal Moanemani, Dogiyai, ikut mengambil bagian dalam beberapa perlombaan yang diselenggarakan dalam rangka memperingati dan memeriahkan HUT RI ke-70 tahun 2015. Dengan harapan, ada perhatian lebih kepada mereka.
Ketua terminal Dogiyai, Yuven Tebai, kepada wartawan mengatakan, pihaknya turut mengambil bagian dalam beberapa mata perlombaan atas inisiatif sendiri dari anak-anak terminal. “Kami merasa diri, kami bisa mengambil bagian dalam berbagai kesempatan termasuk ramaikan HUT RI tahun ini,” katanya usai kegiatan di Moanemani, Dogiyai, Selasa (11/08) sore. Kata Yuven Tebai, dirinya bersama puluhan anak-anak terminal merasa sangat senang bisa ikut dan mengambil bagian dalam perlombaan-perlombaan itu. “Kami tunjukan diri bahwa kami juga bisa. Kadang orang beranggapan, anak-anak terminal itu tahu mabuk saja, tetapi melalui keterlibatan kami didalam beberapa perlombaan ini kami mau kasih tahu bahwa, anggapan orang itu salah,” urainya. Tujuan lain, kata Yuven, melalui keikutsertaan anak-anak terminal dalam beberapa perlombaan ini, anak-anak terminal mau, ada perhatian dari pemerintah. “Kami juga mau pemerintah perhatikan kami. Berikan kesempatan kepada kami. Harus libatkan kami dalam berbagai kegiatan yang dilakukan pemerintah. Kami siap dalam bekerja,” tegas Tebai. Lanjutnya, kami juga punya kemampuan seperti orang lain. Jangan melihat kami hanya sebagai anak-anak terminal yang tidak punya kemampuan. Anggapan itu salah seraya menambahkan, sebenarnya anak-anak terminal selalu merindukan keterlibatan mereka dalam berbagai kegiatan yang digelar oleh pemerintah. “Semoga kedepan pemerintah Dogiyai bisa buka mata dan melibatkan kami dalam berbagai kegiatan,” harapnya. Sementara itu pembina anak-anak terminal, Yance Bobii, mengatakan, keterlibatan anak-anak terminal dalam perlombaan gerak jalan dengan apa adanya. “Saya sebagai pembina, tergerak untuk mendampingi mereka untuk mengambil bagian. Saya dampingi mereka walaupun saya PNS,” kata Yance Bobii. Yance Bobii menambahkan, pihaknya sangat kecewa terhadap pemerintah daerah Dogiyai yang tidak pernah berikan kesempatan kepada anak-anak terminal. “Kami sangat harapkan, kedepan harus ada perhatian dari pemerintah kepada anak-anak terminal. Anak-anak itu sebenarnya punya kemampuan yang mumpuni, hanya saja tidak ada kesempatan dari Pemda,” katanya dengan tegas. Untuk itu kedepan, kata Bobii, harus ada perhatian dari pemerintah kepada anak-anak terminal. Harus ada pekerjaan yang diberikan kepada anak-anak terminal. Agar, anak-anak terminal juga berperan dalam membangun Dogiyai. Sebenarnya, tambah Bobii, beberapa pejabat yang menduduki jabatan bagus di Dogiyai, mereka juga berasal dari latar belakang anak-anak terminal, namun mereka tidak punya hati untuk anak-anak terminal. “Anak-anak yang ada di terminal itu hidup mereka ada disitu. Jika mau lihat kami lebih maju, harus ada proyek yang berikan kepada anak-anak terminal. Mungkin, babat rumput kah, pembangunan jembatan atau pekerjaan apapun,” tambahnya. Jelas Bobii, tujuan memilih pakaian rasta dalam keikutsertaan anak-anak terminal dalam perlombaan gerak jalan, hanya protes keras kepada pemerintah Dogiyai yang sama sekali tidak ada perhatian. “Kami ini anak-anak asli Papua. Tidak ada dana pada kami, sehingga saya perintahkan untuk semua pakai pakaian warna rasta. Tujuannya, kami protes kepada Pemda yang tidak ada perhatian,” ujarnya. Tambah Bobii, jika ada hati dari Pemda Dogiyai kepada anak-anak terminal, Pemda harus alokasikan dana untuk anak-anak terminal. “Harapan kami kedepan, harus ada perhatian dari pemerintah kepada anak-anak terminal,” harapnya. (ris/ist)
Bagikan artikel ini



