Cerpen : Cukimay Dia itu
Barisan para pelayat silih berganti datang dan pergi diantara para tetangga dan kerabat di rumah duka.

Barisan para pelayat silih berganti datang dan pergi diantara para tetangga dan kerabat di rumah duka. Peristiwa orang mati sebenarnya bukan peristiwa luar biasa. Semua orang juga bakal mengalami mati. Yang membuatnya menjadi menegangkan barangkali terputusnya kebersamaan dalam kehidupan dunia sementara ini. Padahal setiap manusia juga terbatas waktunya.
Jasad membujur kaku. Tidak ada lagi kegiatan detak jantung. Tidak juga hembusan nafas di paru-paru. Pula denyut nadi sudah tak ada lagi. Ditutup kain batik. Yang berasal dari tanah akan dikembalikan lagi ke tanah. Yang berasal dari Sana akan kembali ke Sana. Yang berasal dari Tuhan kembali lagi pada Nya. Inna lillahi Wa inna ilaihi raji'un.
Ya setiap manusia, - juga materi semesta, terbatas waktunya. Sebuah bintang, - ketika batas waktunya habis, dia akan menjalani sakratulmaut yang disebut supernova. Dia akan menyala sangat terang sekali, seterang terangnya lalu mati. Lalu tak memiliki cahaya lagi. Konon jadi bintang cebol yang kecil sekali tapi memiliki kepadatan tingkat tinggi.
Jasad yang membujur kaku itu sudah tidak bisa lagi mengatakan aku. Dia adalah sisi material manusia yang sudah selesai masa pakainya. Seperti masa kadaluwarsa setiap produk pabrik makanan, begitulah makna Ajalun Musamma. Bagai selongsong peluru dia tergeletak. Sedangkan si peluru itu sendiri melesat menghampiri tujuannya. Peluru itu aku, sang jiwa.
Yang mengada sejak jumbuhnya segumpal daging di rahim ibuku dengan ruh Nya yang ditiupkan. Sang jiwa akan terus menghayati. Dan akan terus merenungkan perjalanan jiwa ini. . Teka-teki Agung ini, dimanakah ujungnya, bagaimanakah kesudahannya. Akankah dapat kembali ke sisi Nya dengan layak? Atau ke sisi Nya dengan tak kayak ?
Sejak nafas terakhir dihembuskan, tetangga dan kerabat berdatangan. Aku melihat jasadku dimandikan. Masuk di keranda jenazah, dibawa ke pemakaman. Lubang kuburan, tanah menganga untuk meletakan jasadku. Titik koordinat di planet bumi tempat terakhir penjelajahan ragaku. Tempat dibaringkan jasadku. Aku melihat semuanya. Sampai orang-orang kembali pulang ke rumah masing-masing, aku menyaksikan. Jasadku tergeletak sendirian di kedalaman tanah kuburan. Dikembalikan ke persaudaraan alam jagad semesta raya.
Antara aku dan jasadku, terbentang ke belakang perjalanan yang panjang. Itu sebagian telah tercatat di buku harian. Tapi itu baru sedikit catatan. Ketika jasad tak bersamaku lagi apa yang kurasa menjadi lain, apa yang kusadari menjadi lain. Terngiang ketika di perjalanan panjang kebelakang, jasadku banyak mendikteku dan aku turuti saja tanpa pikir panjang. Di bagian itu kini aku sangat menyesal, kenapa aku harus menuruti kemauannya. Padahal itu adalah sisi buruk dari jiwaku yang disebut Hawa Nafsu. Karakter jasadku menjadi sumber muasal kemalasanku beribadah dan menghamburkan waktu untuk urusan sia-sia yang tak berarti untuk bekal perjalanan panjang ini.
Padahal dulu aku juga sudah tahu bahwa sebaik-baiknya sisi nafs kita adalah Nafs Al Muthmai'nnah. Ingin sekali jiwaku menjadi muthma'innah. Level tertinggi jiwa. Yang diseru pulang menghadap Gusti Allah seraya dalam keadaan mendapatkan ridha Nya. Memasuki hamba Nya. Memasuki taman Nya. Tapi pengaruh jasad atau raga dalam perjalanan ke belakang, kadang juga bisa tertib mengikuti perintah jiwa. Seperti lampu hijau dan lampu merah di perempatan, perjalanan di belakang senantiasa di persimpangan. Dalam penggembalaan jasad atau among raga, kadang raga yang digembalakan justru yang mempengaruhi jiwa. Lalu tertib kembali ketika raga terkendali. Terus seperti tarik ulur. Tapi aku bertekad akan terus mendaki memikul bangsa ini. Bangsa berketuhanan yang maha Esa ini wasilahku. Dan memikul kecintaan ini kepada keluarga nabi yang suci. Senantiasa berharap setetes air telaga Kautsar.
""
Gugusan galaksi di angkasa bergerak dalam suatu pola dan ayunannya yang khas. Tapi dari bumi terlihat mozaik kristal berpendar cahaya bak permata menempel di karpet hitam langit malam. Semua masih tampak dalam barzah agung yang transisional. Aku kadang penasaran terbang melesat ke ujung-ujung rasi bintang hanya karena sekedar ingin tahu saja, kalau kalau ada batas semesta, tapi aku belum menemukannya.
Waktu demi waktu lewat begitu. Mengalir seperti arus sungai yang tiada berhenti, menyaksikan bentuk demi bentuk, entitas demi entitas hancur mengakhiri kesementaraanya disambung oleh entitas baru. Seperti gelembung silih berganti muncul dan meletus. Susul menyusul. Seperti tiada akan berhenti. Gelembung-gelembung abadi. Susul menyusul, seperti juga gelombang laut seperti tak akan berhenti.
Tiap tiga hari dalam sepekan aku menziarahi jasadku. Raga yang dalam kehidupan dunia terdahulu pernah mengajakku kepada yang tidak-tidak, tatkala ia berhasil mempengaruhiku. Cukimai dia itu. Ajak-ajak ke hal tidak baik.
Tapi ada pula masa-masa ketika aku yakin betul dengan setulus hati aku menjadikannya budakku saat memberi perintah pada jasadku agar mau bersujud kepada Gusti Allah. Menebar kebaikan mengasihi sesama. Tak ada kenang-kenangan indah ketika di dunia serindah kenangan sujud itu. Ketika jidatmu tertempel di tanah dan badan besar rebah.
Sore di barzah menampilkan warna sepia. Masih dapat dirasakan pagi dan senjanya. Seperti belum juga jauh ke mana-mana. Tapi jangan harap ada seseorang dari keluarga, tetangga atau rekan kerja akan merasakan kehadiran kita. Ada waktu yang merambat berjalan seperti jam pasir kerontang. Hanya tiga oase yang kelihatan memancarkan mata air.
Waktu menjadi melambat. Mungkin karena sayap jiwa tak lagi dibebani raga. Dapat melesat melintasi bentuk-bentuk awan di luar angkasa. Sebagaian bentuk material galaksi yang menyerupai seorang pahlawan pilih tanding yang kehilangan tangan dan kakinya dalam perang tak seimbang. Awan memang berubah bentuk pada setiap detiknya, sama juga dengan gunung atau lempeng bumi yang berjalan terus. Tapi sesungguhnya jagat raya ini Keteraturan Agung yang memperkenalkan dirinya dalam pelbagai pola untuk dapat dikenali akal manusia agar menjadi ilmu pengetahuan.
Jumat sore itu anak cikal membawa dua orang pemuda ke kuburanku. Ku saksikan mereka membaca kitab suci Al-quran, membaca salawat, membaca tahlil dan tahmid, membaca takbir dan tasbih. Setiap kiriman hadiah pahala bacaan disampaikan ke alamatku. Ada yang seperti ter-upgrade dalam jiwaku. Menyaksikan ini tak terasa air mataku meleleh. Ini adalah momen terindah paling membahagiakan dalam perjalanan jiwaku. Dari raut wajah kedua pemuda itu sepertinya itu adalah cucuku yang sudah makin besar.
Usai menyelesaikan doa, mereka masih belum segera beranjak pergi. Kelihatan ada yang mencabuti rerumputan yang tumbuh diatas kuburanku, di tengah komplek pemakaman keluarga.
"Apa yang didapat ayah dari kakek, " tanya anak lelakinya yang besar.
"Sebenarnya banyak. Tapi yang paling pokok adalah satu ungkapannya, katanya : Yang masuk pada manusia itu dua yakni makanan dan ajaran. Maka hati-hati dengan keduanya itu, jangan salah jalan. "
"Kakek kerja apa? "
"Dia hanya seorang petani pada umumnya di desa. "
"Sosoknya seperti apa? Maksudnya apa yang sering dilakukannya? "
"Dia sangat mencintai kerabatnya. Paling rajin bersilaturahmi mengunjungi kerabatnya jauh atau dekat, kaya atau miskin. Berkawan dengan petani lain di sekitar sawahnya. Anak kecil yang belum kenal dia pun, akan mau digendongnya. Ia lelaki yang lembut tapi berprinsip. Ketika dia wafat, selama tiga hari kambing peliharaannya tak mau makan. "
"Jangan-jangan kakek kita seorang wali ya Yah? "
"Memang dia seorang wali. Wali murid. Yang ketika ambil raport ayah dia tak pernah menyiratkan wajah gembira padahal ayah selalu juara kelas. "
"Menurut Ayah, apa kakek itu orang hebat? "
"Sangat, dialah satu-satunya lelaki yang tak dapat ayah kalahkan. Dia jauh lebih hebat dari ayah. Dia lah yang memorofil ayah bisa menjadi seperti ini. Dan ayah belum tentu dapat memprofilmu dengan hasil sebaik kakekmu, kalian kan masih sedang tumbuh. "
Ketika cahaya merah senja sudah menjilati ujung daun di pohon akasia kuburan, mereka pulang. Diiringi oleh suara kepakan kelelawar senja. Kelelawar itu berangkat dari rumahnya masing-masing di kelopak daun pisang hendak mencari rejeki malam yang disiapkan Tuhan untuknya. Tak terasa air mata jiwaku meleleh mengiringi langkah mereka pulang sore itu. Kulihat punggung dan pundak ke-tiga orang itu mirip punggungku, yang kini terbalut kain kafan di kedalaman tanah kuburan.
""
Barzah Agung adalah hari-hari penantian panjang. Dimensi yang hampir seluruhnya pasif. Hamparan kehidupan yang tak memiliki sepetak sawah pun untuk digarap. Hanya tiga mata air kecil saja yang ada di oase. Konon berasal dari sedekah jariah yang masih mengalir, ilmu yang bermanfaat buat kehidupan manusia dan do'a anak dan keturunan yang soleh.
Disini kenestapaan berasal dari telah berakhirnya seluruh potensi dan, kegagalan dalam estafet kepemimpinan keluarga ke tangan generasi yang terbujuk dunia. Ketika sumber-sumber kebaikan sebagai bekal mengalami kebuntuan total sedangkan perjalanan masih teramat panjang. Begitu lah aku melihat kebanyakan orang-orang di Barzah Agung.
Seperti labirin hibernasi jiwa. Seperti entitas masa pertapaan kepompong dari yang sebelumnya sebagai ulat. Jiwa yang masih lengket dengan raga ulat, dia terjebak dalam bentuk-bentuk benda yang dicintainya. Semula aku heran ketika dalam liang-liang lahat tampak ada ayam jago, ada dadu, ada botol ciu, ada emas, ada uang, ada kain kafan yang membungkus alat kelamin laki-laki setinggi dan sebesar manusia. Lama-lama aku paham bahwa jiwa manusia akan berakhir bersama sesuatu yang dicintainya di dunia. Sesuatu yang paling banyak menyita waktu dan perhatian seseorang ketika di dunia. Padahal hanya Gusti Alloh, Kanjeng Nabi Muhamad dan para imam Wasi yang sesungguhnya berhak dicintai dengan ketaatan mutlak kepada mereka.
Level-level jiwa yang baik dilihat dari cahaya di wajah-wajah para penghuni. Tidak tahulah kenapa bisa begitu, cahaya bisa muncul secara berbeda pada setiap orang. Aku teringat kunang-kunang, tapi cahayanya sama. Disini tidak begitu. Sepertinya kuat dan lemahnya cahaya adalah sebuah ungkapan pengganti pernyataan, bahwa setiap orang punya pencapaian berbeda
Aku pernah berpapasan dengan orang-orang yang mukanya gelap pekat. Seperti terbuat dari aspal. Dari gunjingan-gunjingan yang sempat terdengar, orang-orang berwajah hitam itu katanya dulunya orang munafik. Orang-orang yang tampilannya dalam kemasan agamis tapi di dalamnya iblis. Mereka berbaris melintasi lorong yang menukik ke bawah. Seperti mengarah ke dasarnya jurang. Kepalanya bersorban bajunya bergamis putih kok wajahnya hitam digiring ke dasar magma.
Ke atas kutengadahkan pandangan. Barzah agung menampakkan matahari yang bersinarkan cahaya rembulan. Cahayanya kuat tapi tak menyilaukan. Empat belas warna berpendar silih berganti. Berpencar menerangi Barzah agung. Matahari bercahaya rembulan itu seperti luas lingkaran yang terdiri dua puluh dua pertujuh kali jari-jari lingkaran kudiawat, seperti rumus matematika mengenai luas bidang. Dari lingkaran atau bentuk bola, pola rumus 3,14 kali jari-jari, kali jari-jari, tetap ikut. Hanya saja diawal ditambah empat pertiga untuk mencari volumenya. Ini sebuah fenomena matematika alam yang konsisten. Sama seperti sudut lingkaran 360 derajat dibagi 14, akan mengalami pola 714285 yang berulang tiada ujung. Angka lima seperti suatu sekat Barzah. Seperti pematang di sawah atau gapura di daerah perbatasan.
Seperti pola tauhid bisa ditemukan dalam deret angka Fibonacci. Aku lebih cocok mengawali angka Fibonacci bukan dari Nol, tapi dari Satu. Karena Tuhan tak didahului oleh tiada. Satu yang tidak didahului oleh apapun dan siapapun.
Bagikan artikel ini



