Burung Cenderawasih Raja
Cerpen : Abdul Munib

Cerpen : Abdul Munib
Alkisah di sebuah negara baru. Kala musim sedang bersemi. Tepatnya musim kebangsaan ini. Mekar disana-sini bunga pikiran, bunga-bunga tulip yang mulai layu di Taman Barat kala itu dan melati yang mulai mekar mewangi di taman pertiwi. Musim memang pesona yang lain, kala cinta bisa tampil dalam rona dan iramanya yang tersendiri.
Orang-orang geger dengan surat cinta yang difoto copy. Kok bisa, sedangkan kesan setiap seorang lelaki pada seorang wanita pasti kadarnya beda, levelnya beda. Orang-orang membahas ini sampai raja dan perempuan-perempuannya itu sudah tiada. Tapi orang heran dengan fenomena surat cinta yang difoto-copy.
Di ruang kelas filsafat sebuah perguruan tinggi Paling Tinggi, sepasang kekasih duduk berhadapan. Seusai kelas bubar mereka berdua mendiskusikan pekerjaan rumah yang diberikan oleh dosen rektor langsung. Di luar kelas ada berdiri pohon Angsana. Sepasang perenjak bermain diantara rantingnya.
"Jangan-jangan cintamu padaku juga seperti surat cinta raja yang difoto-copy ? " tanya Kamila kepada kekasihnya.
"Jangan samakan aku dengan lelaki siapapun. Aku adalah aku yang khusus dan istimewa sesuai pencapian maqam diriku yang akan naik atau turun sesuai gerakan substansi jiwaku, sayang. Ilmu dan amal manusia terus berkembang. "
Lalu perempuan itu bertanya lagi, "lalu apa yang kau fahami dari fenomena surat cinta yang difoto-copy dan surat yang isinya sama itu di kirim juga ke wanita lain."
Kekasihnya menjelaskan apa yang ia fahami dari penomena ini. Orang kebanyakan ikut pendapat guru besar, menilai fenomena ini sebagai fenomena cinta diri. Bahwa diri sang raja lah lokus objek yang paling layak untuk dicintai menurut dirinya. Sehingga surat cintanya tak lebih dari entitas sastra sebagai sastra.
"Tapi aku tak berpandangan seperti guru besar itu. Aku kelaki dari timur yang mengerti tabiat burung Cenderawasih Raja. Ketika dia membeberkan sayap indah dengan gerakan indah, betina-bentina sontak mengerumuninya. Dengan suara nyanyian atau tanpa suara. "
"Ooooo jadi, kamu ingin menjadi lelaki yang seperti burung Cenderawasih Raja itu yang nanti semua wanita terpikat oleh pesonamu. Kamu senang kalau aku mati berdiri karena menghadapi banyak saingan dan ancaman Pelakor? Begitu kah? " Karmila terbawa perasaan.
Karmin menenangkan kekasihnya. 'Dinda, ini ruang kelas filsafat. Jangan berargumentasi memakai perasaan. Kalau begini kita tidak akan sampai pada sebuah proses penghayatan yang berujung kepada hikmah-hikmat kebijaksanaan dari pelajaran panjang jatuh bangun peradaban manusia disetiap etape. Untuk memahami pesan apa yang datang dari langit, susah payah disampaikan oleh para nabi utusan. Saya baru menjelaskan tentang sebuah fenomena daya tarik yang paling kuat dalam kasus ini. Yaitu kekuasaan, kesusastraan dan pikiran, ' jelas Karmin panjang lebar. Karmila terdiam. Terbersit dipikiran Karmila ia tak salah mencintai lelaki yang duduk di depannya. Kedalaman penghayatan, ketajaman, dan hikmat semua ada padanya.
Dari sela suasana hening, suara Karmin muncul dengan penjelasan lain, "tapi dalam khazanah pustaka kita ada lelaki bernama Gatoloco. Penisnya besar. Bentuknya tidak beraturan. Seperti bentuk kayu Soang. Dia tukang debat yang kesana kemari mencari lawan orang-orang yang terpesona pada sebatas syariat. Menurut Gatoloco keterlibatan pada yang materi, tak lain dari sibuk membahas batu tanpa peduli pada apa yang dibalik batu. " Gatoloco sendiri turunan dari Darmo Gandul, kelanjutan dari cerita Babad Kediri yang dituturkan oleh Jin Totokerot. Upaya penjajah membayar penulis pribumi asal Pati untuk melemahkan pribumi.
Karmin menjelaskan, ada sederet ilmuan tentang filsafat disebut filsuf atau hukama. Ilmuwan teologia disebut teolog atau mutakalimin. Ilmuan ahli makrifat, disebut urafa.
"Sehingga yang terkait dengan batu adalah ilmu-ilmu empiris yang biasa disebut saint dan teknologi. Sedangkan pribahasa ada udang dibalik batu itu ungkapan verbal. Orang bisa saja melalui bahasa untuk memahami nakna tapi gak bisa berhenti disitu. Karena teks-teks tak bisa benar tanpa konteks. Karena bukan udang saja yang ada dibalik batu. Bisa ada emas, nikel, uranium dan kandungan mineral lainnya. Sampai tahun 1994 baru perusahaan tembaga ditambah perusahaan emas di Papua padahal sudah lama beroperasi. Bahkan tak salah jika dikatakan bahwa Ada Tuhan dibalik batu. " Penjelasannya mulai menukik ke fenomena masyarakat dan filsafat.
**
Kampus sudah mulai senja. Matahari yang memerah seperti bersembunyi dibalik dedaunan Angsana. Karmin mengantarkan Karmila ke tempat kost-nya. Untuk kemudian hari esok berlanjut sambung merenangi hari-hari di kampus filsafat.
**
Bangsa yang delapan puluh tahun lalu dipersiapkan kemerdekaannya kini menapaki dekadenya yang kedelapan. Bangsa yang ber genetika falsafah Pancaila ini mengalami serangan maha dahayat baik dari dalam sendiri maupun dari luar. Arah kiblat nya melenceng. Keadilan sosialnya semakin jauh dari harapan. Tanpa diketahui kausalitas, motif serta modusnya. Tiba-tiba seperti Kapal Titanic bangsa ini dalam bahaya besar. Garuda tiba-tiba bertelur sembilan naga dan mereka yang menguasai bangsa ini.
Mata Karmin masih melototi catatan yang dipegangnya. Dia setidaknya menggarisbawahi tiga hal utama, pertama persoalan praktek idealisasi terhadap agama dan dasar Pancasila. Kedua persoalan sakralisasi hal yang profan dan kapitalisasi terhadap hal sakral. Dan yang ketiga rusaknya pendidikan dan rusaknya alam sehingga pertanian kita hancur oleh pupuk dan festisida.
"Kita harus kembali pada satu ayat dari kitab suci tentang teori pergerakan, " kata Karmin memulai diskusi. Bahwa tentang gerakan sebuah bangsa, katanya, titik start-nya adalah jiwa-jiwa. Dan yang melampaui bangsa-bangsa adalah akal kenabian yang universal. Jadi pekerjaan kita adalah menyambungkan puncak ilmu pengetahuan manusia dengan akal kenabian. Disinilah, katanya, kelas filsafat tidak akan terjerat dalam kerapuhan pijakan kaki kayu.
Meskipun dengan kesempurnaan akal kenabian, tetap saja kedatangan nabi kebanyakan ditolak atau nafs al hayawaniah melakukan interupsi dalam bentuk manusia-manusia penentang nabi bahkan jadi musuh para nabi. "Li kulli nabiyin aduwun, bagi setiap nabi memiliki musuh, " ujar Karmin. Kelas mulai ramai mendiskusikan persialan pokok kebangsaan yang semakin urgen.
Disisi lain, kata Karmin kepada rekan diskusinya, suatu norma sistem kekuasaan, akan berubah melalui datang nya seorang pembaharu atau mujadid. Misalnya dari norma sistem kerajaan yang feodalis, diganti oleh norma sistem Trias Politika yang digagas John Locke dan disempurnakan Montesquieu di paruh pertama abad delapan belas di Eropa. Kemudian pada abad dua puluh, tahun 1979 di Iran, Imam Khomaini melahirkan norma sistem kekuasaan baru dengan Demokrasi Wilayatul Faqih. Menggantikan Parpol dengan Partai Ilmuwan.
Kampus mulai sepi. Para peserta diskusi kebangsaan di ruang kelas filsafat pun tampak sudah diakhiri. Mereka pada membubarkan diri dan berhambur ke kantin kampus karena dorongan rasa lapar.
**
Demikian lah seperti pesona kepakan sayap dan tarian Cenderawasih Raja, tema filsafat yang mencari kehakikian persoalan kebangsaan terus dibahas dari pelbagai sisi holistiknya. Memancarkan keindahannya tersendiri. Sebab kebenaran sejati akan identik dengan keindahan.
Sebagaimana halnya kedatangan suatu musim. Sekarang adalah musim evaluasi. Bukan kembali kepada teks-teks lama hasil penafsiran indoktrinasi dan dogmatisasi masalalu, melainkan kembali pada nilai manivesto Pancasila yang digali melalui ketajaman filsafat metafisika dan akal kenabian.
Para mahasiswa mulai berdatangan ke forum diskusi mengawal kebangsaan oleh angkatan milennial. Biar mereka dengan cara sendiri memaknai dan menafsir sesuai realitas zaman yang lagi gaduh oleh perang Ukraina dan Palestina.
**
Di langit Nusantara warna senja tetap merah. Seperti tetap berkabung dengan hitamnya songkok yang dikenakan. Ibu pertiwi yang sedang bersusah hati dengan air matanya yang masih berlinang. Karena sumber daya alam untuk sembilan naga. Belum untuk kesejahteraan rakyatnya. Sehingga keadilan sosial masih tertahan, belum dibagi kepada seluruh rakyat kita.
###
Bagikan artikel ini



