Kabut pagi masih menyelimuti perbukitan ketika Mariana Yarinap memulai langkahnya. Sebuah noken berisi obat-obatan menggantung di punggungnya. Jalur setapak berbatu membelah hutan lebat Pegunungan Tengah Papua. Di hadapannya terbentang perjalanan puluhan kilometer, menanjak, menurun, melintasi lereng-lereng terjal yang seolah tak pernah selesai.

Tak ada kendaraan. Tak ada jalan beraspal. Yang ada hanya tekad seorang bidan yang percaya bahwa setiap obat yang dibawanya adalah harapan hidup bagi masyarakat di kampungnya.

Perjalanan itu bukan sekali dua kali dilakukan. 

Sudah bertahun-tahun Mariana mengulang rute yang sama dari Sugapa menuju Distrik Agisiga, Kabupaten Intan Jaya. Perjalanan dimulai dengan menumpang ojek selama sekitar 30 menit dari Sugapa menuju Kampung Kulapa, Distrik Hitadipa, dengan ongkos mencapai Rp300 ribu. Setelah bermalam di rumah warga, keesokan paginya tepat pukul enam ia mulai berjalan kaki.

Dua belas jam kemudian, sekitar pukul enam sore, barulah ia tiba di Agisiga.

Sepanjang perjalanan hanya ada hutan belantara, tanjakan gunung, turunan curam, dan jalan setapak berbatu. Tidak ada permukiman, tidak ada tempat berteduh selain pepohonan yang menjulang tinggi.

"Laki-laki biasanya hanya sekali istirahat. Kalau saya sebagai perempuan, biasanya dua kali. Sekitar jam sepuluh pagi saya berhenti makan ubi dan istirahat sekitar tiga puluh menit. Nanti sekitar jam tiga sore saya berhenti lagi sebelum lanjut jalan," tutur Mariana.

Menggendong Tiga Karung Obat dalam Noken

Mariana merupakan petugas Puskesmas Agisiga sejak 2016. Dua tahun kemudian, tepatnya pada 2018, ia diangkat menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN). Meski telah memiliki kesempatan bertugas di tempat lain, perempuan asli Agisiga itu memilih tetap mengabdi di tanah kelahirannya.

Setiap dua bulan sekali stok obat di Puskesmas Agisiga habis. Ketika pesawat pengangkut logistik belum datang, satu-satunya cara agar pelayanan kesehatan tetap berjalan adalah mengambil sendiri obat dari Sugapa.

Pengalaman itu kembali ia jalani pada Juni lalu.

Ia menerima tiga karung obat dari Dinas Kesehatan. Agar lebih mudah dibawa, seluruh isi karung dipindahkan ke dalam noken sebelum dipikul menyusuri pegunungan menuju Agisiga.

"Kalau obat habis, ya harus ada yang turun ambil lagi ke Sugapa. Kalau tidak, masyarakat tidak bisa dilayani," ujarnya sederhana.

Dalam kondisi normal, pengangkutan obat dilakukan bersama tiga hingga empat orang warga. Namun tidak semua warga bersedia membantu tanpa biaya.

Mariana mengaku selama ini harus menggunakan uang pribadinya untuk membayar ongkos angkut sekitar Rp2 juta per orang agar obat bisa sampai ke Agisiga.

Ketika Bidan Harus Menjadi Perawat

Di atas kertas, Mariana adalah seorang bidan.

Namun kenyataan di lapangan membuatnya menjalankan lebih dari satu profesi.

Keterbatasan tenaga kesehatan di Puskesmas Agisiga memaksanya melayani hampir semua pasien yang datang.

"Saya jurusan kebidanan. Tapi karena tenaga kesehatan kurang, saya juga merawat pasien seperti perawat."

Di Agisiga hanya terdapat dua tenaga kebidanan. Rekannya, Merina Yarinap, saat ini sedang menjalani pengobatan akibat sakit lutut di Nabire. Praktis sebagian besar pelayanan ibu hamil dan persalinan kini berada di pundak Mariana.

Saat menangani persalinan, ia sering dibantu seorang perempuan kampung bernama Miriam Kogoya yang telah lama membantu ibu-ibu melahirkan secara tradisional.

Mariana berharap pemerintah dapat mengangkat Miriam sebagai tenaga di Puskesmas Agisiga agar pelayanan persalinan semakin baik.

Memilih Mengabdi untuk Kampung Sendiri

Kesempatan bertugas di tempat lain sebenarnya pernah datang.

Kala itu Kepala Puskesmas Hitadipa ingin menarik Mariana untuk bekerja di sana.

Namun ia menolak.

Alasannya sederhana, tetapi menyentuh.

"Saya sekolah itu untuk masyarakat saya di Agisiga. Orang tua biayai saya sekolah dengan setengah mati. Masa sekarang saya harus melayani orang lain. Saya maunya melayani masyarakat saya sendiri."

Kalimat itu menjadi jawaban atas pertanyaan mengapa ia rela berjalan kaki belasan jam menggendong obat-obatan melintasi gunung.

Bagi Mariana, pengabdian bukan sekadar pekerjaan. Pengabdian adalah membayar utang kepada kampung yang telah membesarkannya.

Malaria Masih Menjadi Ancaman



Sebagian besar pasien yang datang ke Puskesmas Agisiga menderita malaria dan penyakit kulit.

Ironisnya, hingga kini Puskesmas belum memiliki peralatan laboratorium sederhana untuk memastikan seseorang benar-benar positif malaria.

Diagnosis masih dilakukan berdasarkan gejala klinis.

"Orang datang tidak diperiksa darah. Kami lihat dari gejalanya saja."

Menurutnya, alat pemeriksaan malaria menjadi kebutuhan mendesak agar pasien memperoleh pengobatan yang lebih tepat.

Selain itu, stok obat malaria juga perlu terus dipenuhi karena jumlah penderita cukup tinggi.

Puskesmas Hampir Roboh

Di balik perjuangan tenaga medis, fasilitas pelayanan kesehatan di Agisiga justru memprihatinkan.

Bangunan Puskesmas yang digunakan saat ini sudah tua dan mulai rusak.

"Kami sangat berharap pemerintah bisa membangun Puskesmas yang baru."

Tak hanya gedung pelayanan, tempat tinggal tenaga kesehatan pun belum tersedia.

Akibatnya, petugas yang datang dari luar distrik harus menumpang di rumah-rumah warga selama menjalankan tugas.

Pengabdian yang Tak Pernah Menghitung Lelah

Mariana mengaku sudah tak terhitung berapa kali ia bolak-balik Sugapa–Agisiga membawa obat selama bertugas. Hampir setiap dua bulan sekali perjalanan itu harus diulang.

Perjalanan yang melelahkan terkadang membuat tubuhnya jatuh sakit di tengah jalan.

Namun semua itu tak pernah membuatnya berhenti.

Di balik langkah-langkahnya yang menapaki gunung, tersimpan keyakinan bahwa setiap obat yang berhasil tiba di Agisiga berarti ada anak yang bisa diselamatkan dari demam tinggi, ada ibu yang bisa menjalani persalinan dengan lebih aman, dan ada masyarakat yang tetap memiliki harapan untuk sembuh.

Di negeri yang masih sulit dijangkau kendaraan, Mariana Yarinap memilih menjadi jembatan antara pelayanan kesehatan dan masyarakatnya.

Tanpa sorotan. Tanpa keluhan.

Hanya sebuah noken di punggung, jalan setapak yang panjang, dan hati yang tak pernah lelah mengabdi. (suroso)