Apakah Api itu ?

Esai : Ustadz Syafrudin*
Api adalah wujud aktual, artinya api itu sendiri tidak mengalami proses semakin memanas. Dalam arti bahwa untuk kebutuhan akan panas, keberadaannya ia membutuhkan penopang.
Misal, kalau sekedar untuk membakar sebatang rokok, maka penopangnya cukup hanya dengan sebatang korek api. Jika hendak menanak nasi, maka penopangnya membutuhkan lebih banyak kayu bakar atau kompor gas.
Jika api adalah keberadaan aktual, maka hidupnya berada di alam barzah atau alam akhirat pertama setelah alam materi dilihat dari hierarki menaik dalam konteksnya dengan keberadaan. Artinya, setelah alam materi, terdapat alam barzah.
Sedangkan karakteristik alam barzah itu berbentuk, tapi tidak berbeban. Disebut juga alam antara. Layaknya kehidupan di alam mimpi. Dikatakan materi, tapi tidak berbeban. Dan jika dikatakan nonmateri, namun masih berbentuk. Dengan kata lain, ia (alam barzah itu) bukan nonmateri mutlak, dan bukan juga alam materi secara mutlak.
Syarat utk adanya api :
- Materi
- Oksigen
- Gerak
Tatkala sebatang korek api, digerakkan pada bungkus korek apinya-maka seketika akan adanya nyala api pada pentolan batang korek tersebut. Namun, tatkala ditiup angin, atau kehabisan penopangnya, lidah api itu pun pergi meninggalkan alam materi ini. Dengan kata lain kembali ke alam barzah. Begitu juga sebuah korek gas, tatkala dilepas kendali setelah gerak jari terjadi, maka lidah api pun pergi.
Satu hal yang harus diketahui adalah bahwa alam jagad materi ini berkarakter api. Hingga kita dapat memahami bahwa alam barzah tempat api hidup ditopang oleh alam materi. Artinya, akan ada kehidupan alam dalam bentuk api setelah adanya alam materi. Dengan demikian, terlihat bahwa adanya alam paralel dalam materi yang berbentuk api. Alam materi sendiri adalah alam yang memiliki empat dimensi. Tinggi, tebal, panjang-lebar dan volume ditambah waktu.
Sadar atau tidak, di balik alam materi ini ada api, dilapisi penopang terkuatnya yaitu hawa nafsu. Karena itu, muncul-lah api angkara murka. Dan api angkara murka dapat membakar sampai ke hati.
*Esais mantan wartawan Majalah Amanah, pemerhati masalah Filsafat Metafisika
Bagikan artikel ini



