Analisis Cepat Pasca Gempa, PPK Bandara Konfirmasi Infrastruktur Penerbangan

NABIRE – Pasca guncangan gempa pada Jumat , 19 September 2025 dini hari lalu, Bandar Udara Douw Aturure di Nabire, Papua Tengah, memastikan bahwa operasional penerbangan telah berjalan normal tanpa adanya penundaan.
Pihak bandara mengonfirmasi terjadinya kerusakan pada beberapa fasilitas bangunan, namun menegaskan bahwa kerusakan tersebut bersifat minor dan tidak berdampak pada keselamatan penerbangan. Respons cepat dan tanggap dari petugas jaga malam yang ada di lokasi saat kejadian menjadi faktor kunci dalam penanganan awal insiden ini, yang kemudian dilanjutkan dengan prosedur standar operasional (SOP) yang telah ada untuk memastikan seluruh infrastruktur penerbangan dalam kondisi aman. Penilaian menyeluruh terhadap kondisi bangunan dan fasilitas bandara menjadi dasar keputusan untuk melanjutkan operasional secara penuh pada pagi harinya.
Gempa dengan magnitudo yang signifikan tersebut dilaporkan terjadi pada pukul 03.00 WIT pagi hari Jumat, di luar jam operasional normal bandara yang berlangsung dari pukul 06.00WIT hingga 17.00WIT sore. Saat guncangan terjadi, hanya ada petugas jaga malam yang berada di lokasi.
Para petugas ini menjadi yang pertama kali merespons, segera melakukan pengecekan ke dalam gedung terminal untuk mendokumentasikan kerusakan yang terjadi dengan mengambil foto. Foto-foto ini kemudian dilaporkan kepada Kepala Kantor Bandara sebagai laporan awal.
Hasil penilaian awal menunjukkan bahwa kerusakan yang terjadi tidak banyak dan tergolong ringan. Secara spesifik, kerusakan tersebut meliputi pecahnya tujuh panel kaca tempered glass pada dinding gedung terminal serta jatuhnya beberapa panel plafon.
Pagi harinya, sekitar pukul 05.00 WIT, Kepala Bandara langsung tiba di lokasi untuk melakukan inspeksi langsung, guna memastikan laporan dari petugas jaga malam dan menilai situasi secara keseluruhan. Rangkaian tindakan ini menunjukkan adanya prosedur internal yang efektif dan rantai komando yang jelas, bahkan saat insiden terjadi di luar jam kerja.
Laporan awal yang didukung dokumentasi foto dari petugas jaga malam menjadi data krusial yang memungkinkan pimpinan untuk segera mengambil tindakan verifikasi dan penilaian lebih lanjut.
Salah satu tindakan esensial yang dilakukan setelah gempa adalah pengecekan infrastruktur vital penerbangan, seperti apron dan landasan pacu. Hal ini merupakan bagian dari SOP yang mengharuskan pihak penyelenggara bandar udara untuk memastikan fasilitas penerbangan masih berfungsi normal pasca-gempa. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa tidak ada retakan atau kerusakan yang terjadi pada landasan pacu, sehingga area tersebut dinyatakan aman.
Berdasarkan penilaian teknisi bangunan yang menyatakan kerusakan gedung tidak membahayakan, operasional penerbangan dapat dilanjutkan seperti biasa pada pagi hari yang sama. Tidak ada laporan mengenai penundaan penerbangan yang disebabkan oleh dampak gempa.
Meskipun kerusakan yang terjadi tergolong minor, estimasi kerugian finansial dari perbaikan yang diperlukan diperkirakan mencapai kurang lebih ratusan juta rupiah.
Meskipun nilai pasti tidak dapat diberikan pada tahap ini, angka tersebut menunjukkan bahwa biaya perbaikan tetap memerlukan alokasi yang tidak kecil, namun sebanding dengan skala kerusakan yang terbatas pada komponen non-struktural.
Menanggapi kekhawatiran masyarakat, terutama dengan adanya laporan dari BMKG tercatat lebih dari 120 gempa susulan, pihak Bandara menyampaikan pesan yang menenangkan. Pejabat Pembuat Komitmen. Putri Rahayu Ermawati, Amd., menegaskan bahwa masyarakat dan calon penumpang tidak perlu khawatir.
Kerusakan yang terjadi dinilai tidak mempengaruhi keamanan operasional atau keamanan bangunan secara signifikan. Analisis dari teknisi di lapangan menyimpulkan bahwa fasilitas Bandara masih dalam kondisi normal dan tidak terpengaruh secara substansial oleh gempa. Pesan ini secara langsung ditujukan untuk mengatasi kecemasan publik, yang merupakan bagian penting dari manajemen krisis pasca-bencana.(pelajar SMAN 1 Nabire)
Bagikan artikel ini



