276 Mapega dan KPG Akan Jadi Pusat Training Pembentukan Karakter

NABIRE - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Papua Tengah, mengadakan Focus Grup Discussion (FGD), atas paparan hasil kajian, revitalisasi SMA Plus Kolase Pendidikan Guru (KPG), SMA terintegrasi dan tenaga majukan pendidikan gratis anak sebanyak 276 orang, akan menjadi pusat training pembentukan karakter.
Mewakili Kepala Disdikbud Provinsi Papua Tengah, Kepala Bidang Pengelolaan Data dan Fasilitas Pendidikan Papua Tengah, Yulianus Kuayo menyampaikan sesuai arahan Gubernur Papua Tengah, untuk menyiapkan tenaga guru kontrak yang diberi nama dengan tenaga Majukan Pendidikan Gratis (Mapega), sasaran lokasinya daerah Tertinggal, Terdepan dan Terluar (3T) dari 8 kabupaten.
Menurutnya, masalah utama guru di Papua Tengah adalah panggilan, itu yang menyebabkan kekosongan guru. Itulah mengapa karena panggilannya tidak ada, maka orientasinya di luar dari panggilan. Oleh karena itu, dengan program prioritas gubernur maka KPG direvitalisasi.
"Kami revitalisasi dia dengan menyiapkan asrama untuk menyiapkan training dan pelatihan, sebelum guru Mapega tersebut ditempatkan di daerah-daerah, maksimal 3 bulan dan minimal 1 bulan," kata Yulianus ketika ditemui di ruang pertemuan Hotel Karya Papua, Kamis (4/12/2025).
Ia menambahkan, Disdikbud Papua Tengah ingin melakukan revitalisasi mulai dari perekrutan Sekolah Menengah Pertama (SMP) masuk ke KPG, di mana nanti menjadi ukuran utama adalah yang mempunyai panggilan. Dari awal seleksi masuk sudah bisa diproteksi, maka selama 3 tahun akan disiapkan sebagai calon mahasiswa keguruan.
"Selama 3 tahun akan condong kepada pembentukan karakternya, idealismenya kami bentuk, sehingga dia lanjut ke perguruan tinggi ke LPTK dan selesai, maka panggilannya akan terbentuk," katanya.
"Ada juga kontekstual seperti budaya, bagaimana tradisi orang Papua kalau guru mengenal bagaimana anak-anak Papua, dengan karakter yang berbeda-beda dan ini akan dididik, selain membentuk karakter. Lebih kepada hal-hal dasar yang mendasar untuk Papua itu harus mereka paham," tambahnya.

"Kalau ini berjalan baik, maka tidak ada orang bilang guru kosong atau sekolah ini kekurangan guru, tidak boleh ada kata-kata ini. Karena 2 hal tersebut yang saat ini ada," pungkasnya.
Sementara itu, koordinator kajian revitalisasi KPG dan pengembangan ekosistem kokosional SMK terintegrasi, Luthfi Firdausi, MPd.I mengatakan kajian tentang SMK terintegrasi dan judulnya ‘membuat sistem vokasional terintegrasi’, secara ekonomi SMK mempunyai produk sendiri. Episentrum yang lebih luas lagi akan melibatkan dinas koperasi, dinas tenaga kerja, dinas perindustrian dan dinas peternakan.
"Saat ini hanya ada 4 pilot project, yaitu, YPPK Wanggar, YPK Kalibobo, YPPGI Dogiyai dan YPPK Deiyai, itu yang menjadi fokus pilot project tahun ini. Di mana infrastruktur nya akan disupport oleh Provinsi Papua Tengah, akan ada pelatihan dan cara pengelolaannya jika sudah menghasilkan," katanya.
Ia berharap untuk KPG agar menyiapkan tenaga guru yang punya hati untuk kembali ke kampung setelah menjadi guru dan akan disiapkan dengan Pendidikan Profesi Guru (PPG) dan kalau SMK untuk memastikan menjadi episentrum ekonomi kerakyatan, yang melibatkan masyarakat.(edi)
Bagikan artikel ini



