​NABIRE - Menjelang peringatan 171 tahun masuknya Injil di Tanah Papua pada 5 Februari 2026, Wakil Ketua I Majelis Rakyat Papua (MRP) Papua Tengah, Paulina Marey, mengajak seluruh umat Kristen untuk memaknai momen bersejarah ini dengan kesadaran iman yang mendalam. Bertempat di ruang kerjanya pada Selasa (03/02/2026), ia menekankan bahwa usia 171 tahun bukanlah waktu yang singkat bagi perjalanan spiritual sebuah bangsa.

​Perayaan ini merujuk pada peristiwa bersejarah saat dua penginjil, Carl Wilhelm Ottow dan Johann Gottlob Geissler, pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Mansinam, Papua Barat. Dengan kalimat iman yang legendaris, "Demi nama Tuhan, kami menginjak tanah ini," keduanya meletakkan fondasi peradaban bagi orang asli Papua yang kini dikenal sebagai mayoritas Kristen Protestan.

​Paulina menegaskan bahwa peringatan ini seharusnya menjadi ajang bagi umat untuk membenahi diri. Ia menyayangkan di usia Injil yang sudah sangat tua ini, masih banyak manusia yang belum sepenuhnya sadar untuk memenuhi panggilan Tuhan atau mendekatkan diri secara spiritual dalam kehidupan sehari-hari.

​Salah satu sorotan tajam dari MRP adalah perilaku konsumsi minuman keras (miras) yang masih marak di kalangan pemuda Kristen. Paulina secara tegas menyatakan bahwa mabuk-mabukan bukanlah budaya orang Kristen Protestan, melainkan kebiasaan buruk yang hanya memuaskan keinginan diri sendiri tanpa memberikan nilai tambah bagi kehidupan.

​Lebih lanjut, ia memperingatkan dampak destruktif dari miras yang seringkali menjadi pemicu kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadap istri dan anak, bahkan hingga berujung pada hilangnya nyawa. Ia mengimbau agar kebiasaan minum-minuman keras ini ditiadakan demi menjaga keutuhan keluarga dan masa depan generasi Papua.

​Menurut Paulina, jika Injil sudah dianggap "tua" dan menetap lama di hati masyarakat, maka jiwa satria setiap orang Papua harus bangkit untuk membangun tanah kelahirannya. Pembangunan tersebut harus dimulai dari lingkup terkecil, yaitu melayani diri sendiri dan keluarga, sebelum melayani masyarakat dan pemerintah.

​Tujuan utama dari penguatan iman ini adalah demi keberlangsungan anak cucu di masa depan. Sebagai orang tua, umat Kristen saat ini memikul tanggung jawab besar untuk menjadi teladan dan membekali generasi penerus dengan rasa takut akan Tuhan, sehingga estafet pembangunan Papua tetap berada di jalur yang benar.

​Terkait agenda resmi MRP Papua Tengah dalam merayakan 5 Februari besok, Paulina menjelaskan bahwa pihaknya masih melakukan koordinasi internal melalui rapat pimpinan. Hingga saat ini, belum ada petunjuk atau "lampu sein" khusus dari pihak Sinode mengenai pemusatan perayaan bagi jemaat di wilayah Papua Tengah maupun rencana ke Mansinam.

​Meskipun masih menunggu kepastian administratif, Paulina secara pribadi berkomitmen untuk tetap hadir di tengah-tengah jemaat. Jika tidak ada undangan formal, ia berencana turun langsung ke distrik-distrik kecil seperti Distrik Napan, Pulau Moora, atau Makimi guna mengikuti ibadah syukur bersama masyarakat di tingkat basis.

​Menutup pernyataannya, ia menghargai kebijakan pihak Klasis yang kabarnya membagi perayaan berdasarkan lingkungan atau wilayah jemaat masing-masing. Ia berharap seluruh titik pelaksanaan ibadah besok dapat berjalan dengan khidmat sesuai dengan pengaturan yang telah ditentukan oleh pihak gereja di setiap jemaat.(amd)