Walaupun Tiga Ruangan, Guru-Guru Tetap Fokus Didik Murid
DOGIYAI - Devit Bouya, salah satu guru SDN Bogiteugi, Distrik Kamuu Selatan, Dogiyai, menuturkan selama mengajar aktivitas belajar mengajar sekitar delapan (8) tahun di sekolah itu, tetap fokus pada anak-anak muridnya walaupun kondisi sekolahnya kurang mendukung. Ia mengata
Bagikan
DOGIYAI - Devit Bouya, salah satu guru SDN Bogiteugi, Distrik Kamuu Selatan, Dogiyai, menuturkan selama mengajar aktivitas belajar mengajar sekitar delapan (8) tahun di sekolah itu, tetap fokus pada anak-anak muridnya walaupun kondisi sekolahnya kurang mendukung. Ia mengatakan banyak tantangan yang dihadapi di sekolah itu, seperti tidak ada meja, kursi, kemudian ruang sekolah yang ada tiga ruangan, tetapi pihaknya fokus untuk mengajar pada siswanya.
“Bagi saya fasilitas dan pendukung lainnya tidak memadai bukan ukuran, tetapi bagaimana ilmu kita menerapkan kepada murid-muridnya,” kata Devit, ketika ditemui di Moanemani Dogiyai, Kamis (28/09)Ia mengaku, SDN Bogiyateugi itu sebelumnya dibangun tahun sekitar 1990an, tetapi karena tenaga gurunya tidak ada dikala itu, maka dipindahkan ke Kampung Muniopa Distrik Kamuu, Dogiyai. Kemudian, lanjutnya, SDN Muniopa itu masih ada hingga kini proses belajar mengajar tetap berjalan.“Sekitar tahun 2008, Kabupaten Dogiyai siap-siap untuk dimekarkan lalu masyarakat di kampung itu mereka juga berjuang sekolah itu perlu diaktifkan kembali lagi dengan alasan siswa-siswa semakin banyak. Jadi waktu itu masyarakat mereka berjuang sekolah yang ada itu perlu difungsikan lagi,” kata Devit Guru kelas yang mengajar pakai Ijazah SMA dari tahun 2008 hingga sekarang ini.Sekitar tahun 2008, kata dia, barulah diterbirkan SK Operasional Sekolah untuk mengaktifkan kembali aktivitas belajar mengajar di sekolah itu. Tetapi, waktu itu untuk di gedung sekolah masih pakai yang tahun 1990an punya, tidak langsung turunkan gedung sekolah setelah dikeluarkan SK operasioanal oleh pemerintah.“Waktu itu, ketersedian guru hanya tiga orang tetapi aktivitas belajar mengajar tetap berjalan. Walaupun kondisi gedung sekolah juga tidak teratur baik dan hanya tiga ruang saja,” katanya.Selanjutnya, menurut dia, pada tahun 2009 pihaknya mendapatkan dana dari APBD propinsi lalu dana itu digunakan untuk merehap tiga gedung sekolah tersebut. “Sampai saat ini, kondisi sekolah hanya tiga ruang dan tidak memadai kami guru-guru tetap mengajar sama anak murid kami,” ujarnya.Kata dia, pelajaran yang biasa mengajar kepada murid-muridnya adalah Agama, PKN, IPA, IPS , Penjaskes, Kesenian dan Mulok.“Karena fasilitas buku-bukunya minim atau kurang, sering biasa pakai buka kelas 3 punya lalu mengajar kelas 2. Contohnya, buku PKN kadang biasa ada hanya kelas III punya yang karena kelas II tidak ada buku pelajar PKN ya kami sering gunakan kelas 3 punya buku lalu mengajar ke kelas 2. Begitupun, kelas yang lain dan mata pelajaran yang lain lagi,” jelasnya.“Jangankan perpustakaan. Ini buku-buku mata pelajaran saja belum dilengkapi baik belum lagi gedung sekolah,” lanjutnya, untuk itu dia berharap pemerintah daerah segera meninjau kondisi sekolah disana.Terpisah, Elisabeth Pekei, salah satu tenaga guru honorer mengatakan selama ini pihaknya tinggal sama masyarakat kampung disana, hanya untuk mengajar demi anak-anak muridnya. “Selama ini kami tinggal sama masyarakat disana. Kami selalu prioritaskan bagaimana mendidik anak-anak dengan baik,” katanya. (gus)
Bagikan artikel ini



