NABIRE - Penyebaran HIV/AIDS di Kabupaten Nabire yang kian mengkhawatirkan memicu langkah cepat dari Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat. Tak tanggung-tanggung, instansi ini memilih pendekatan dan merangkul para pemimpin agama dan tokoh masyarakat sebagai garda terdepan dalam upaya edukasi dan penanggulangan. 

Kegiatan peningkatan kapasitas yang padat ini telah berlangsung sukses selama dua hari penuh, dari Senin 13 Oktober hingga Selasa 14 Oktober 2025, bertempat di Aula Sekda Nabire.

Keputusan ini diambil mengingat posisi sentral para tokoh tersebut di tengah masyarakat Papua Tengah, khususnya di Nabire. Dengan bekal pengetahuan yang mumpuni, mereka diharapkan dapat menjadi jembatan vital yang menghubungkan program kesehatan pemerintah dengan umat beragama dan berbagai kalangan suku. 

Tujuannya jelas, yakni membangun kepedulian masyarakat terhadap layanan kesehatan dan membantu menyebarkan edukasi yang benar untuk menanggulangi penyebaran HIV/AIDS yang menunjukkan tren peningkatan.

Pdt. Mordekai Oilla, M.Th, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Nabire, menegaskan pentingnya kolaborasi ini saat diwawancarai awak media pada penutupan kegiatan tersebut. Ia menyebut, kegiatan ini adalah upaya nyata untuk bagaimana sebagai mitra pemerintah, dapat lebih paham dan membantu menyampaikan edukasi kepada umat beragama atau kalangan masyarakat di suku yang bersangkutan agar lebih peduli dengan pelayanan kesehatan dan paham tentang bagaimana menghadapi atau menanggulangi penyebaran HIV/AIDS.

Fokus utama materi yang disampaikan selama pelatihan adalah memberikan informasi komprehensif terkait HIV/AIDS, termasuk perkembangan kasus di Papua Tengah serta status per kabupaten. 

Selain itu, sesi mendalam juga diberikan mengenai isu krusial seperti stigma dan diskriminasi terhadap Orang Dengan HIV (ODIH) atau Orang Dengan AIDS (ODAH). Pemahaman ini penting untuk menciptakan lingkungan yang suportif alih-alih menghakimi, sehingga mendorong mereka yang berisiko untuk berani memeriksakan diri dan mendapatkan pengobatan.

Data yang terungkap dalam pelatihan ini memang mencerminkan kondisi yang mendesak. Dari pemaparan materi, terungkap bahwa dalam rentang waktu Januari hingga Oktober 2025 saja, sekitar 9.000 orang telah menjalani pemeriksaan voluntary counselling and testing (VCT) di Nabire. 

Dari jumlah tersebut, angka 800-an orang dilaporkan terinfeksi positif HIV. Angka ini jelas menjadi alarm bahwa upaya preventif dan edukasi harus digencarkan secara masif.

Lebih dari sekadar fokus pada penyakit, kegiatan ini juga memasukkan tema kesetaraan gender dalam kurikulumnya. Tujuannya adalah memperkuat pemahaman bahwa isu kesehatan, termasuk HIV/AIDS, sangat erat kaitannya dengan dinamika sosial dan peran gender. Diharapkan, pemahaman ini akan memperkuat upaya pencegahan dan dukungan yang lebih inklusif serta berkelanjutan di tengah komunitas.

Dengan berakhirnya sosialisasi selama dua hari ini, harapan besar kini disematkan di pundak para tokoh agama dan tokoh masyarakat. Mereka kini dibekali tidak hanya dengan data, tetapi juga strategi komunikasi untuk menjadi motor penggerak perubahan perilaku di akar rumput. 

Ini adalah langkah awal yang krusial bagi Nabire dalam menciptakan masyarakat yang lebih peduli, setara dan yang paling penting, mampu menekan laju penyebaran HIV/AIDS.(sam)