DOGIYAI – “Bapak mama, kalau tidak beikan motor atau HP, saya keluar dari sekolah,” pernyataan ini dikatakan salah seorang siswa SD baru saja naik kelas lima di Distrik Mapia, Kabupaten Dogiyai. Permintaan anak tersebut kepada orang tuanya jawanannya antara baik dan tidak. Untuk menunjang kegiatan harian dan memperlancar kegiatan dibutuhkan motor. Termasuk permintaan hand phone untuk berkomunikasi dengan teman termasuk dengan kedua orang tuanya. Tidak menjadi masalah, komunikasi dan informasi sudah masuk hingga di pedesaan. Orang tuanya sangat terpaksa mengeluarkan uang untuk membeli  motor atau HP. Dengan alasan anak kandung ini tidak boleh keluar dari sekolah. Muncul pertanyaan dibenak ayah dan ibu, bagaimana masa depan anak ini, terutama dalam bidang pendidikan ? Sementara ini pihak gereja dan pemerintah belum percaya sepenuhnya, orang tua di rumah sebagai penentu utama perkembangan pendidikan anak tersebut. Anak–anak sekarang sulit dibimbing dan dibina, lebih banyak minum dan mabuk menjadi anak jalanan malas menolong orang tuanya di rumah. Wajar terjadi, anak–anak dunia jaman sekarang ini pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. “Kalau jaman dulu, kami taat dan tunduk kepada orang tua kami. Rajin menimba air, mencari kayu api, menolog ayah dan ibu kasih makan ternak piaraan. Sifat kami anak–anak jaman dulu nurut rajin kepada ibu dan bapaknya. Kehidupan dulu beda dengan jaman sekarang. Mereka hidup dua budaya hidup sehingga tidak dibiarkan begitu saja. Jaman kami ada banyak manusia sejati pekerja keras dan iman kerpercayaannya kuat. Di halaman rumahnya penuh dengan tanaman seperti tebu, ubi dan ternak, lengkap kebutuhan yang diperlukan,” papar pensiunan TNI angkatan tahun 1978 Batalion 752 Sorong, Etmusdus Butu.Lanjutnya, sekarang pihak gereja mulai bicara keluarga sebagai tungku api supaya generasi sekarang anak–anak dengar nasehat orang tuannya. Program reuni munculkan kembali pola pembentukan manusia sejati. Mulai dari keluarga dengan polanya sendiri. Harus ditidak lanjuti dan dibuat fokus program pemerintah kampung, pemerintah distrik, juga pemerintah kabupaten.Hal itu, katanya, menjadi kekuatan ditingkat basis mendorong pola kehidupan penyelamatan generasi berikutnya. Sebagai manusia sejati yang timbul dari peradaban husup bahasa “kabo mana“. Tugas kebudayan dan pariwisata harus direncanakan baik. Membangun rumah adat disetiap daerah, mengumpulkan benda–benda budaya seperti koteka, moge dan lain bercirikan warga Mee di daerahnya sendiri. “Didepan mata kita ada pegeseran budaya, maka untuk mengatasi pengaruh kita berupaya mendukung pihak gereja menetapkan keluarga sebagai tungku api. Ana– anak kita dididik dari rumah adat kita. Anak–anak kita mesti dibebaskan dari dua budaya kehidupan ini. Gereja, pemerintah dan pihak lembaga sekolah mesti bersatu untuk keselamatan generasi kita ke depan,” tambahnya. (don)