Sunny Syiah Setelah Perang 12 Hari Israel-Iran

Esai : Abdul Munib
Bagi siapapun yang menjadi orang Islam (Muslim), baik dia beragama karena dari orang tua atau memilih sendiri, hoax pertama yang harus ia atasi adalah soal Sunny Syiah. Seolah olah yang satu lebih benar dari yang lainnya. Bahkan jadi bahan perpecahan, fitnah, adu domba, atau amunisi musuh Islam yang menginginkan Islam terus terpecah.
Padahal persoalan pokoknya hanya pada perbedaan tafsir terhadap berlanjutnya kepemimpinan pilihan langit (Allah) ataukah kepemimpinan pilihan langit itu berhenti pada Nabi Terakhir Munammad Sallalahu alaihi wa alihi wasallam. Syiah menafsirkan kepemimpinan pilihan langit berlanjut dari nubuah ke imamah. Sedangkan Sunni menafsirkan kepemimpinan pilihan langit tak berlanjut. Dalam Sunni masa ketiadaan pemimpin pilihan langit disebut Masa Fatroh (kekosongan).
Sedangkan perbedaan lain hanya pada soal masalah ranting atau percabangan agama saja. Seperti solat tangan bersedskap atau lurus menjulur ke bawah. Perbedaan konsep waktu bersama sholat Zuhur-Asar dan Maghrib-Isha dalam mazhab Syiah, dan pemisahan waktu antara kelima sholat pada mazhab Sunni. Pada konsep waktu bersama urutannya tetap Sholat Dzuhur dilaksanakan terlebih dahulu dari Ashar dan Sholat Maghrib dilaksanakan terlebih dahulu dari Isha. Seperti konsep sholat Jamak Takzim dalam mazhab Sunni. Dan banyak lagi perbedaan cabang atau guru iyah agama. Sedangkan sesama mazhab Sunni saja antara empat imam mazhab (Maliki, Hanafi, Syafi'i dan Hambali) banyak sekali perbedaan guru iyah atau cabangan itu. Perbedaan bermazhab, Sunni terkunci pada empat Imam Mujtahid Mazhab (Maliki, Hanafi, Syafi'i, dan Hambali), sedangkan bermazhab di Syiah harus pada mujtahid yang masih hidup.
Yang pernah hidup di zaman Orde Baru, Perbedaan jumlah rakaat sholat Terawih antara NU 23 rakaat dan Muhamadiyah 11 rakaat dikelola oleh rezim kekuasaan agar jadi bahan perpecahan. Selain itu langganan perpecahan lain adalah jatuhnya tanggal hari raya Idul Fitri antara NU, Muhamadiyah dan Pemerintah Indonesia yang diwakili Departemen Agama (Depag). Di era Orde Baru jabatan menteri agama sering diisi oleh tentara. Tak Cukup dengan itu Mendagri Amir Machmud membikin Majelis Ulama Indonesia sebagai alat proksy. Demikianlah perbedaan pandangan bahkan sampai tingkat kecil pun dikelola Negara, dalam rangka tarik menarik norma sistem kekuasaan Indonesia ke arah agama dan ke arah sekuler.
Jika masing-masing pihak tidak memaksakan kebenarannya pada yang lain. Jika masing-masing pihak tidak koar-koar bahwa tafsiran miliknya lah yang lebih benar. Apalagi dengan mengkafirkan siapa saja yang menafsirkan tak seperti pihaknya. Perbedaan itu akan terasa biasa saja.
Toh Tuhan sendiri dalam Kitab Suci telah memberi isyarat bagi kecenderungan manusia yang kurang bagus itu, yakni : Kullu Hizbin Bima Lazaihim Farihun (Setiap kelompok selalu membanggakan apa yang dimilikinya. Atau membanggakan yang dia punya). Ini sindiran Tuhan terhadap ego kelompok yang sering terhenti dalam stagnasi pencarian hakikat ilmu. Bahwa pihaknya masing-masing lah yang paling benar, apalagi mereka yang mayoritas. Akhirnya terjebak jadi indoktriner atau korban indoktrinasi. Seperti tabiat anak kecil yang terus disuapi. Setiap orang menerima agama siap saji yang sudah diolah tokoh-tokohnya. Berupa ribuan kitab kuning atau berup doktrin yang terus ditanamkan. Sama sekali umat dilarang mempunyai kemandirian berfikir. Padahal betapa banyaknya firman Tuhan yang menganjurkan berfikir. Bahkan umat Islam dijauhkan dari sains seperti ilmu Fisika Quantum, dengan alasan bid'ah atau penilaian kurang utamanya ilmu duniawi dibanding ilmu akhirat.
Misalkan Sunny dari Nahdlatul Ulama, kebanyakan di pesantren mereke meyakini adanya Imam Mahdi. Tapi Imam Mandinya mereka belum lahir. Masih di tunggu-tunggu. Sedangkan Syiah 12 Imam, Imam Mandinya sudah lahir. Umurnya sekarang sudah seribu tahun lebih. Imam Mahdi diberi oleh Tuhan umur panjang seperti Nabi Nuh. Bahkan Imam Mahdi lah yang menjadi Imam yang kedua belas itu. Dia mengalami Ghaib Suhgradan Ghaib Kubro. Dia diyakini ada dan hidup, hanya tak kasat mata atau ghaib. Diyakini pula akan muncul di tengah-tengah dunia pada waktunya yang telah ditentukan oleh Allah.
Sesungguhnya agama, Kitab Suci dan diutus nya para Nabi oleh Allah yang maha esa, hanya terkait dengan satu hal, yakni Akal. Makhluk tak berakal tidak ada urusan dengan itu semua. Hanya saja polanya harus difahami terlebih dahulu supaya jangan jari orang beragama yang kebanyakan micin Ajinomoto atau mabuk Kecubung. Polanya adalah Tuhan memberikan kemerdekaan pada manusia, namun harus mempertanggung-jawabkannya. Mau pilih kafir, atau atheis sekalian pun misalnya silahkan, tapi masing-masing manusia itu sendiri yang kelak bertanggungjawab di hadapan Sang Pencipta. Satu orang tidak harus mempertanggung-jawabkan pilihan dari orang lain. Jadi kalau orang hanya beda tafsiran tentang berlanjut atau tidaknya kepemimpinan pilihan langit di antara manusia diantara Sunny dan Syiah itu perbedaan yang tidak seberapa dibandingkan pola kemerdekaan bertanggungjawab diatas.
Toh masih banyak persoalan pokok yang sama antara Sunni dan Syiah. Qur'annya sama, kiblatnya sama, Nabinya sama, sama dalam sehari semalam melaksanakan lima kali sholat, sama sama melaksanakan Puasa Ramadhan, Sama dalam merayakan Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha, sama melaksanakan Haji dan Umroh ke Makkah. Sama dalam mengucapkan Dua Kalimat Syahadat. Terlalu banyak sekali persamaan dasar, namun musuh Islam terus melanggengkan situasi perpecahan melalui sisi perbedaannya.
Tentang kepemimpinan pilihan langit yang berkesinambungan tak pernah putus, teman saya yang Syiah menyampaikan gambaran itu kepada saya. Dijelaskannya bahwa setiap manusia disetiap jaman punya Kitabum Mubin dan Imamum Mubin. Menurutnya manifesto aturan langit yang biasa disebut agama untuk setiap umat manusia di jamannya, mutlak harus memiliki defakto pemimpin pilihan langit berupa seorang nabi atau seorang imam. Kedua sosok defakto itu tidak membutuhkan pengakuan manusia. Misal Nabi Nuh, setelah dakwah 950 tahun tak diakui umatnya. Dan akhirnya hanya dipercaya sekitar 72 orang saja yang kemudian mau naik perahunya. Itu tak menggugurkan kenabiannya. Begitu pun ketika Tuhan mengangkat seseorang dengan jabatan Imam Mubin, tetaplah seseorang itu sebagai Imam Mubin kendatipun seluruh isi planet bumi dan makhluk sejagad raya ini tak mengakui nya. Seperti Tuhan tetap dalam eksistensinya yang utuh seratus persen tanpa cacat ketika seluruh entitas berakal tak ada yang percaya pada Nya. Seperti samudera tanpa ikan di dalamnya tetaplah samudera, sedangkan sebaliknya ikan tanpa samudera dia akan hilang eksistensinya.
Bagi keyakinan teman saya, kepemimpinan pilihan Tuhan sedikit pun tak boleh, tak bisa dan tak akan bisa diintervensi atau diintersef oleh kekuatan manusia untuk kepentingannya. Politik atau makar Tuhan sangat dahsyat dan tak mungkin manusia akan menyalahkannya. Apapun adanya kepemimpinan hasil kesepakatan antar sesama manusia, itu tidak lah mutlak seperti corak kepemimpinan pilihan Tuhan. Itu sifatnya hanya di ranah penafsiran. Kata teman saya, dasar ilmiah kepemimpinan pilihan langit harus ada secara de facto sebagai teori disposisi yang tak memisahkan fisika dan metafisika sebagai dua polar yang dibuat saling berhadapan, melainkan itu satu kesatuan.
Katanya, Tuhan yang ghaib (metafis) tentu akan menurunkan watak bawaannya pada pesan (risalah) yang disampaikannya, kendati makna risalah itu diikat oleh bahasa manusia yang profan. Disinilah posisi nabi atau imam perlu memiliki kapasitas takwil sebagai jaminan makna presisi pesan (risalah) sampai pada umat sasaran dari pesan itu. Agar Tuhan tak dapat digugat seorang manusia pun : kenapa tak disertakan seseorang diantara kami yang dapat menjamin makna presisi pesan Tuhan. Karena posisi penafsiran itu hanya sebatas makna yang dapat difahami oleh penafsiran dirinya sendiri dalam menyelami kedalaman pesan (risalah) yang kedalamannya tanpa batas itu. Itu diantaranya latar belakang kenapa teman saya lebih nyaman dalam pilihannya pada adanya pemimpin pilihan langit. Dan meyakini kemustahilan adanya kekosongan kepemimpinan (Demisioner/Fatroh) yang di pilih Tuhan.
Sementara teman saya yang Sunni, kebanyakan mempertahankan kesunniannya lebih karena mengikuti orang tuanya dan Kiai-Kiai yang dipercaya sejak nenek dan kakeknya sejak dulu. Dia hanya langsung percaya pada hadist nabi yang menyatakan bahwa katanya Islam akan terpecah 73 golongan dan hanya Ahlussunnah Waljamaah yang kelak akan selamat. Kepada kepalanya dikenalkan dan selalu di bisikkan bahwa mazhab Syi'ah yang berlebihan dalam berduka atas Kesyahidan Sayidina Husein. Kepada kepalanya diisikan informasi bahwa yang mengundang Sayidina Husein ke Kufah adalah orang Syiah, akhirnya Sayidina Khusein sekeluarga dibantai, perempuan nya ditawan Pasukan Yazid. Tentang kepemimpinan pilihan Tuhan, teman saya bilang kita ikut ulama saja karena ulama adalah pewaris nabi. Al ulama warasatul anbiya. Sedangkan kata ulama maknanya universal, dan rawan pencatutan dari orang bodoh yang mengaku ulama dengan hanya modal penampilan dan orasi.
Sedangkan Sunni Syiah dalam persoalan Palestina yang digenosida Zionis, punya fenomena unik. Dunia Sunni di Timur Tengah enggan terlibat menolong saudara Sunni yang terzalimi di Timur Tengah. Malah cenderung condong ke pihak Zionis. Justru sebaliknya korban harta dan nyawa datang dari saudaranya yang Muslim Syiah di Iran, Irak, Libanon dan Yaman. Dan setelah Iran berkata dengan bahasa kekuatan, dengan pemandangan Kota Tel Aviv dan Haifa yang hancur luluh lantak sampai musuh minta berhenti, masih kayak kah seorang muslim terus berada di kubangan kontradiksi Sunni Syiah.
Penutup ; seorang berakal harus terus mewaspadai ribuan hoax yang sudah tertanam di kepalanya sejak kecil. Ada ribuan hoax ditebar pasukan Iblis untuk menipu dan menjerumuskan manusia di jurang kecelakaan jiwanya. Bangsa Indonesia harus segera menyatakan darurat Logika, untuk menepis seluruh carut marut diskursus berbangsa dan berkehidupan internasional.
*Esais adalah Penanggung Jawab Papua posisi Nabire dan Papuapos TV
Bagikan artikel ini



