DOGIYAI – Alat budaya Mapiha di Mapia Tihobutu terlantar, seperti Maumi Mitu Koteka Moge.

Manik–manik busur, panah, koba–koba, wupi toha tekei mulai satu persatu hilang dijual habis.

Budaya asli disimpan warga bila tidak diurus dan disimpan baik, satu tempat pasti saja akan hilang.

Salah satu alat budaya warga Mapiha di Mapia, bila tidak diamakan dan disimpan baik oleh pengambil kebijakan dalam hal ini Kepala Kampung (Kakam) dan kepala distrik, bangun museum mini tempat mengumpulkan atau rumah adat tempat menyimpan alat budaya di setiap kampung di wilayah  Mapia.

Masih ada kesempatan sebelum pengaruh luar masuk di wilayah Mapiha di Mapia.

Kepala kampung bersama kepala distrik fokuskan hal ini.

Pemerintah distrik dan kampung rangkul dan kumpulkan semua dusun terdidik, pendoa dikumpulkan atau direkonsiliasi bersama dalam rumah adat.

Hal itu diceritakan Stef Pinibo beberapa waktu lalu di Bomomani Distrik Mapia.

Awal program Kakam dan Kadistrik seluruh warga Mapiha di Mapia dipikikan lebih awal.

Dana kampung yang masuk banyak di kampung. 

“Pikirkan itu dulu guna mengembalikan kepercayaan masyarakat.

Budaya sebagai jati diri warga, tidak untuk Kakam beli motor, tambah istri dan konsumsi minuman beralkohol.

Kadis punya tugas mengumpulkan para Kakam, kepala dusun, pendoa, gembala dan pewarta untuk mendiskusikan atau dibicarakan bersama,” pikiran Stef Pinibo.

Kakam dan Kadis sepakat, tidak untuk berusaha individual dalam kelompok komunitas budaya warga Mapia susah tersimpan sejak awal.

Stef Pinibo sebut Degeidimi dan Jayai Dimi tempat lain, yang dia sebutkan tiga gunung, Mago di Moanemani, Tiho dan Kepou Mojago di Mapia.

Masih berusaha dalam bentuk individu mesti bergabung dalam bentuk komunitas.

Maksud dia, komunitas warga Mapiha pohon kebenarannya di Mapia.

Mimpi besar yang kita bangun sekarang rumah adat Mapia segala sesuatu kami mulai dari bawah.(don)