NABIRE - Persaudaraan Muslimah (Salimah) dideklarasikan yang perdana di Provinsi Papua Tengah. Salimah adalah organisasi masyarakat yang didirikan ketika struktur politik dan budaya membuka peluang bagi perempuan. Untuk mengekspresikan kepentingan dan kebutuhan mereka di ruang publik.


Tokoh Papua Tengah, Hj. Siti Qomariah menyampaikan, berangkat dari keprihatinan yang mendalam terhadap berbagai permasalahan yang menimpa bangsa ini. Maraknya kasus-kasus yang mengguncang institusi keluarga serta lemahnya perlindungan terhadap anak-anak di Indonesia.


"Kemiskinan dan kebodohan menjadi muara problematika yang menjebak masyarakat. Seperti kasus perdagangan perempuan dan anak, kekerasan dalam rumah tangga, tingginya angka kematian ibu dan balita," ucap Siti Qomariah, di Aula RRI, Minggu (22/09/2024).


Ia menambahkan, meningkatnya HIV atau AIDS, maraknya pornografi dan kasus pelecehan. Serta anak yang menjadi korban kekerasan seksual. "Dan yang paling tren adalah lemahnya mental dan degradasi moral, yang merebak di lingkungan kita saat ini," ucapnya.


Lanjutnya, dengan hadirnya Salimah di daerah ini, membawa harapan untuk dapat menjadi salah satu komponen bangsa yang berkontribusi. Dalam mencari jalan keluar bagi berbagai problematika.


Qomariah mengatakan, program-program yang mendorong pemberdayaan perempuan. Sebagai Ormas yang terus beramal, menapaki fase-fase pertumbuhannya. Diharapkan Salimah terus berkiprah melakukan berbagai upaya positif.


Sambutan Ketua Umum Pusat Salimah, Ir. Etty Praktiknyowati melalui zoom menyampaikan, perjuangan perempuan Indonesia menjadi inspirasi diantara pendiri Salimah. Hal tersebut tertuang dalam pembukaan anggaran dasar Ormas Salimah yang dinyatakan, perempuan merupakan mitra kaum laki-laki yang saling melengkapi dan juga berkerjasama untuk tercapainya kehidupan yang seimbang dan harmonis.


Ia menambahkan, kerjasama yang dimaksud adalah dalam rangka menegakkan amar ma'ruf nahi munkar. Sebagaimana yang tertuang dalam Surat At-Taubah ayat 71 yang artinya orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan sebagian mereka adalah penolong sebagian yang lain, mereka menyuruh mengerjakan yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, seperti mendirikan sholat, menunaikan zakat  dan mereka akan taat pada allah dan rasullnya.


"Kami merasa bersyukur sekaligus istighfar memohon ampun kepada allah atas amanah yang telah diberikan kepada kami sebagai ketua untuk memimpin dan mewakili pimpinan wilayah salimah Papua Tengah," ucap Rina Tantina, S.ST, selaku pimpinan wilayah salimah Papua Tengah. Dirinya sebagai pemimpin yang baru menyadari betapa besarnya amanah yang telah diberikan.


"Untuk itu kami mohon bimbingan dan arahan karena ini adalah tanggungjawab yang tidak terletak pada pundak sendiri, tapi merupakan tanggungjawab kita semua," pungkasnya.


Terbentuknya pimpinan wilayah Salimah Papua Tengah untuk periode 2024-2029. Kegiatan ini dihadiri Ketua Umum Pimpinan Pusat Salimah Ir. Etty Praktiknyowati, Dewan Pertimbangan Salimah Pusat Dra. Hj. Wirianingsih, M.Si, Dewan Pertimbangan Wilayah Papua Tengah, Fitriani Nadjib, ST, Dewi Lestari, KH Mukromin, Ketua Majelis Taklim Jamiatun Nisa, Ketua PKK Propinsi Papua Tengah yang diwakili, Ketua MUI Kabupaten Nabire yang diwakili, Kepala Kesbangpol Kabupaten Nabire yang diwakili, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Kabupaten Nabire yang diwakili, Ketua dan Pengurus Pimpinan Cabang Muslimat NU Kabupaten Nabire, Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah Kabupaten Nabire, Ketua Pengurus Majelis Taklim se-Kabupaten Nabire, dan pengurus Komite dan Paguyuban SIT Insan Mandiri.(sam)