Esais : Zhena Ammanguna

Trump tiba-tiba mengajak gencatan senjata, seusai buat status katanya dia baru ngebom situs nuklir Iran. Iran tak meng-iya-kan juga tak menolak. Ia diam, - dalam sunyi yang misterius. Tiba-tiba Israel melalui Trump pengen menyudahi perang, ada apa ini sebenarnya. Padahal pihak Iran sendiri sudah bilang, paling sebentar juga enam bulan lah. Kasihan para pemggemar Nobar di Yaman kalau konten hiburannya dihentikan.

Atau kira-kira begini : Sak Karepmu lah. Maunya apa ? Mau berhenti betul, terserah. Mau tengah jalan kumat lagi tak jabani. Mau main membokong lagi gak masalah supaya sekalian dihancurkan dengan lebih keras lagi dari test yang kemarin. Bagi Iran, zionis sebenarnya merupakan proyek proksi Barat dalam menipu manusia. Ia bukan suatu bangsa atau negara, melainkan pangkalan militer Barat untuk mengkelabuhi musuh. Sekaligas melalukan pemantauan intensif, terutama pada umat Islam.

Rezim pendudukan dipoles dengan narasi kitab suci, padahal yang sesungguhnya adalah mesin perang Barat. Perang asimetris. Perang yang meliputi seluruh dimensi. Puncaknya adalah mengendalikan persepsi manusia sedunia. Bukan hanya dibalut oleh narasi kesucian kitab suci sebagai bangsa Pilihan Tuhan. Biji Mata Allah. Selama ini dikesankan negara yang kuat. Intelejennya tak terkalahkan. Teknologinya terdepan. Pokoknya Rezim Proksi Barat ini penuh polesan wah. Bikin orang dengar saja ciut.

Ternyata oh ternyata. Semua itu hanya kata-kata yang terus menerus diulang di kaset lama sekitar hampir 80 tahun lamanya.

Perang 12 hari kemarin itu lah yang membongkar kedoknya. Betul-betul cemen. Gak ada apa-apanya. Kalau istilah bahasa Sunda namanya Mopo. Alias tidak mau melanjutkan pekerjaannya. Mogok perang, padahal dia yang memulainya.

Apakah zionis salah hitung ? Bukan salah lagi. Dia tidak kenal siapa Iran. Disamping bangsa Persia punya sejarah yang adiluhung yang lama. Norma sistem kekuasaan Iran diletakkan diatas Alquran. Melalui sistem pemerintahan para ahli agama. Beda dengan Barat yang sekuler. Dalam sebuah bangsa yan menjadikan jalan jihad sebagai nafasnya, perang melawan satu dunia pun akan ia lakukan asalkan dipihak yang benar. Bukan di pihak yang memulai perang.

Sebagai pihak yang buat gara-gara terlebih dahulu mengagresi negara lain, lalu setelah 12 hari perang terus mogok minta berhenti, itu kan nanya gateli atau cumikai. 

Di dalam dunia yang tergesa dan panik oleh ledakan fisik, Iran memukul tepat di ruang paling sunyi: kesadaran musuh. Dalam perang yang baru saja mereda—bukan karena selesai, tapi karena kelelahan sepihak—dua dentuman paling mematikan tidak datang dari hulu ledak nuklir atau rudal hipersonik. Ia datang dari diam yang terukur dan kebenaran yang tertunda. Inilah yang kita sebut: dua nuklir Iran. Dan keduanya telah meledak, tak terdengar oleh radar, tapi mengguncang seluruh bangunan legitimasi musuh.

Ketika Israel dan Amerika mengumumkan gencatan senjata secara sepihak, mereka tidak menghentikan perang—mereka mengundurkan diri dari sejarah yang sedang melawan kehendak mereka sendiri. Tidak ada negosiasi, tidak ada kesepakatan dua arah. Hanya pengakuan yang disamarkan sebagai inisiatif.

Dan Iran? Tidak mengiyakan, tidak menolak. Ia tidak berkata “ya”, karena “ya” akan menjadi pengakuan atas kekuatan musuh. Ia juga tidak berkata “tidak”, karena “tidak” akan memberi panggung pada musuh untuk membela diri. Iran memilih diam. Tapi diam itu bukan kebingungan. Ia adalah sikap. Ia adalah tekanan. Ia adalah cara berkata: “Aku tidak berdamai karena aku belum selesai.”

Diam bukan ajakan damai. Diam adalah ketiadaan konsesi. Dan dalam keheningan yang disengaja, musuh dipaksa berhenti bukan oleh serangan, tapi oleh bayangan serangan yang tidak kunjung datang.

Israel mengklaim telah membunuh sejumlah komandan senior Garda Revolusi Iran. Dunia diwarnai oleh headline, dan Israel menepuk dada dengan kepercayaan diri buatan. Tapi semalam, Iran menyebar gambar dan video para “yang mati”—hidup, bicara, bahkan berjalan di koridor rumah sakit atau ditengah kerumunan massa. Kematian pun ternyata bisa dibantah.

Ini bukan hanya pembatalan atas sebuah kebohongan. Ini adalah rebutan atas definisi realitas. Dalam perang konvensional, menang adalah soal wilayah. Tapi dalam perang modern, menang adalah siapa yang dipercaya dunia. Kini dunia tak mau mendengar Barat. 

Israel kehilangan lebih dari wajah: mereka kehilangan kuasa atas narasi. Dan ketika musuh kehilangan narasi, mereka kehilangan arah. Israwel pusing kepala sakit. Ibu kota ancur ancuran, puong dan debu banyak hasil kerja balistik dan hipersonik. Sudah toh itu yang kamu mau to.

Iran tidak menembak, tapi menampakkan. Tidak menyerang, tapi membongkar. Tidak bersuara, tapi menggetarkan. PUKULAN SUNYI. Ko bikin sudah saya pantau kau mati. Sekarang kau mau apa silahkan dan resikonya kau akan tambah nyonyor berkali lipat dari kemarin. Mulai sekarang kau sudah tau toh. Tra mungkin lagi dikasih lolos. Ahu dan Trum nanti kamu dua punya bagian ada tersendiri lagi. Sudah waktunya Barat sekarat.

Dan dari kedalaman strategi itu lahir satu hal yang tak bisa dibalik oleh rudal, tidak bisa disangkal oleh konferensi pers : kemenangan atas waktu. Karena siapa yang sanggup mengatur kapan harus bicara, kapan harus diam, dan kapan harus memperlihatkan kebenaran—dialah yang bukan hanya menang hari ini, tapi mengatur arah esok.

Israel masih menghitung senjata. Tapi Iran sudah menulis batu PRASASTI atas keunggulan psikologis mereka.

Dan sejarah, pada akhirnya, selalu berpihak pada mereka yang tidak hanya melawan dengan peluru, tapi yang mengukir makna dalam kehendak yang tak bisa dibungkam.

Diatas yang dituliskan sebagai perang multi matra alias perang Asimetris, Iran telah memenangkan seluruh medan pertempurannya. Tetmasuk medan media yang selama ini dikendalikan Barat, kali ini Barat kedodoran. Sedangkan masalah nuklir, semenjak banyak negara memilikinya sudah bukan senjata yang layak lagi karena itu senjata musnah bersama. Beda persoalan ketika HIrosima Nagasaki, ketila itu baru Amerika yang pumya nuklir. Seandainya saat itu Jerman punya dia sudah menjatuhkannya di ubun-ubun kota New York.

Penulis pengamat perang modern