Natalis Degei: Jurang Pemisah Kamuu – Mapia Segera Diberantas, Laksana Orang Tonowi
DOGIYAI – Selaku orang tua dan tokoh bidang pemerintahan asal Kabupaten Dogiyai, sekaligus mantan birokrat pemerintah kabupaten Nabire, Natalis Degei, S.Sos, menegaskan jurang pemisah atau istilah kubu Kamuu dan Mapia mulai dari sekarang harus diberantas atau dihapuskan seg
Bagikan
DOGIYAI – Selaku orang tua dan tokoh bidang pemerintahan asal Kabupaten Dogiyai, sekaligus mantan birokrat pemerintah kabupaten Nabire, Natalis Degei, S.Sos, menegaskan jurang pemisah atau istilah kubu Kamuu dan Mapia mulai dari sekarang harus diberantas atau dihapuskan segara. Apalagi kaitannya dengan musim politik di Kabupaten Dogiyai tahun 2017 ini.
Dogiyai itu adalah satu, 1 itu Dogiyai dari Kamuu hingga ke Mapia. Tegasnya, Natalis Degei kepada media ini kemarin, mulai saat ini tidak ada lagi kubu-kubu di tengah masyarakat ini dan tidak ada lagi yang membeda-bedakan, kamu itu dari Mapia dan sebaliknya kamu itu dari Kamuu. Ini termasuk yang ada didalam tubuh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Dogiyai.
“Menyangkut hal ini KPU Dogiyai harus netral, selaku pihak penyelenggara di dalam KPU tidak ada kubu-kubuh atau jurang pemisah satu sama lain. Tidak ada kamu dari/asal Kamuu atau kamu dari Mapia. KPU Dogiyai harus satu dan netral, tidak memihak kesatu kubu. Kita ketahui di dalam KPU itu ada Ketua dan Komisioner berasal dari Mapia dan Kamuu, jadi kalau sudah menjadi anggota KPU Dogiyai harus menjadi satu yakni orang Dogiyai,” tandas Pelaksana tugas Sekretaris Daerah Dogiyai ini.
Ditambahkan, bila perlu KPU dan masyarakat Dogiyai secara umum meniru atau ikut filsafah atau cara pandang dan lagatnya orang kaya pedalaman, atau orang diatas (Dogiyai, red) biasa sebut Tonowi. Orang Tonowi (orang kaya) biasanya menyelesaikan masalah yang terjadi di daerah pedalaman.
“Seperti kami ini biasa merasakan, bagaimana tata cara atau perilaku orang Tonowi itu sendiri, setelah saya perhatikan orang kaya tonowi itu dia tidak membedakan asal-usul kita dari mana, entah kau dari mana atau kamu dari sini dan mereka dari sana. Itu tidak, orang Tonowi itu dapat saya katakan orang bijaknya masyarakat pedalaman,” terang Natalis.
Untuk itu, harap mantan Kabag Keuangan Setda Nabire ini, KPU Dogiyai kami minta dan ingin menjadi (laksana) orang Tonowi pedalaman. Karena lagatnya orang kaya pedalaman itu bisa memisahkan antara kepentingan pribadi dan kepentingan umum. Bedanya cara pandang orang Tonowi itu, terletak dan tidak membedakan orang berasal dari mana.
Artinya, imbuh dan seraya mengakhiri komentarnya, Natalis menitipkan pesan dengan menyampaikan bahwa orang Tonowi pemikirannya sudah cerdas dan dia tahu yang mana baik dan buruk, dan tidak menilai orang apakah itu dari sini atau dari sana, asal ini atau berasal dari itu. Tidak membeda-bedakan satu sama lain itu terpenting menuju Dogiyai menjadi satu guna wujudkan Dogiyai Dou Enaa kedepan. (wan)
Bagikan artikel ini



