Menghitung Suara
Cerpen: Abdul Munib

Cerpen: Abdul Munib
Bujang bertepekur menyaksikan Pemilu yang baru selesai menyisakan kawan-kawannya banyak yang kecewa. Semua mengeluh dicurangi oleh penyelenggara. Semua mengeluh suara asli di TPS hilang di kecamatan.
Sedangkan komisioner kabupaten maupun provinsi membiarkan hasil itu karena tak mungkin membongkar kembali kotak suara yang jumlahnya ratusan kontainer. Melihat tumpukannya saja kepala sakit. Apalagi membongkar dan menghitungnya kembali. Mungkin artificial intelligence juga bisa gila.
Bagaimana suara kok bisa hilang. Kalau suara fisik hilang atau tenggorokan serak bisa pergi ke kios cari Asam Jawa dan gula kelapa. Ini masalahnya suara politik yang didalamnya situ terdapat makna kedaulatan rakyat. Ini negara bukan milik raja tapi milik rakyat. Tanda rakyat punya kedaulatan yaitu adanya Pemilu tiap lima tahun. Suara rakyat ditandai oleh kertas suara tercoblos dulu pernah contreng.
Bujang tidak habis pikir pleno di kecamatan yang kerjanya hanya menghitung saja, bisa makan waktu mingguan bahkan sampai hampir satu bulan. Truk Brimob masih parkir di depan hotel yang didalamnya penyelenggara sedang menghitung suara, menjelang batas tanggal terakhir penghitungan manual secara nasional. Apa susahnya menghitung, kok bisa kalah cepat dengan anak sekolah selesaikan soal ujian matematika. Malah pernah di kabupaten tercinta jumlah pemilih bisa diatas jumlah penduduk. Pemilunya penuh mistik karena konon makhluk nuktornal seperti Suanggi juga ikut coblos. Juga Genderuwo dan Kukuruwo.
Bujang dulu pernah punya nilai sembilan untuk mata pelajaran berhitung. Belakangan di akhir tahun 1970-an namanya berubah jadi matematika. Menurut Pak Guru Samad, berhitung itu yang dihitung harus satu jenis. Misalkan sepuluh kelereng tambah dua belas kelereng sama dengan 22 kelereng, begitu. Tapi kalau bendanya tidak satu jenis maka ilmu berhitung itu macet tidak bisa digunakan, misalkan satu pesawat tambah dua janda sama dengan berapa, itu tidak bisa dijumlah. Baik dikali, dibagi maupun dikurangi-kurangi juga tidak bisa.
Di sela Bujang melamun memikirkan hasil Pemilu yang dikeluhkan teman-temannya, dia terkaget oleh tepukan pundak dari belakang. Sawin datang menyelinap tanpa diketahui kedatangannya oleh Bujang.
"Ko dari mana Win," tanya Bujang
"Jaga suara Jang. Sudah satu bulan nemenin bos jaga suara," ujar Sawin.
"Bagaimana suara bosku aman ka tidak," tanya Bujang. Sawin menjelaskan bahwa meskipun bosnya punya suara banyak di TPS dia terus harus jaga suara, kalau tidak bisa hilang. Dan tentu saja menjaganya dengan belanja.
"Belanja bagaimana Win, seperti orang pergi ke pasar saja," tanya Bujang.
"Ya, begitulah. Tidak belanja suara bisa hilang. Kalau suara hilang kursi hilang. Tidak ada kursi, tak ada yang akan panggil bapak dewan," kata Sawin.
Sawin menjelaskan, bagaimana bosnya sudah satu bulan ini tidak tidur baik. Mau tidur di rumah salah, karena istri dan anaknya merasa terganggu. Bosnya kadang bicara sendiri di rumah dan tidak bisa tidur sampai pagi sehingga mengganggu yang lain. Mau tidur di hotel tidak enak karena mencolok dari Caleg lain yang finansialnya lemah. Bahkan anak-anak komplek secara iseng membuat baleho sindiran. Ditulis di baleho itu TANPA FINANSIAL CALEG-CALEG AKAN SIAL. Begitu bunyi redaksinya, tambahan di bawah: Saya Kasih Tau Baik.
Menurut Sawin, sindiran itu cukup keterlaluan. Makanya bosnya takut mencolok kalau tidur di hotel untuk jaga suara. Akhirnya bosnya tidur di mobil, siap pakaian ganti dan dikirim makanan rantangan dari warung langganan.
##
Keesokan harinya Bujang pergi ke rumah Kang Sofwan, ingin mendiskusikan fenomena Pemilu yang makin aneh. Pengalaman dia dulu orang-orang kampung jaga air irigasi di sawah agar tanaman bisa dapat air bendungan. Pengalaman jaga juga ketika isu ninja meracun sumur. Atau jaga panenan bawang merah di sawah menemani ayahnya. Bagi Bujang fenomena jaga suara ini belum masuk diakalnya.
Kang Sofwan ada di bengkelnya. Seperti biasa Bujang ikut membantu beberapa pekerjaan di bengkel itu, sebelum sekarang ia menekuni usaha jualan pupuk kandang. Usai makan siang Bujang meminta pendapat Kang Sofwan soal perubahan orang-orang kampungnya.
"Begini Jang, masalah utama masyarakat bangsa Indonesia melakukan kesalahan fatal. Bukan soal Pemilu saja. Hampir di semua bidang terbalik-balik. Yang seharusnya itu bidang sakral seperti pendidikan, kesehatan, Pemilu jangan dikapitalisasi, malah dikapitalisasi. Kalau bahan baku boleh dikapitalisasi supaya jadi mahal. Kalau barang sakral seperti agama jangan diperjualbelikan. Tuhan melarang. Yang profan disakralkan, yang sakral di profan kan. Begitu Jang kelakuan bangsa kita hari ini. Semua yang bisa diuangkan, diuangkan walau itu barang sakral, " Kang Sofwan menjelaskan pertanyaan Bujang.
Padahal kata Kang Sofwan pada mulanya pendiri bangsa ini telah mensucikan bangsa baru ini dengan darah shuhada. Di mana-mana tempat bergelimang mayat rakyat yang hendak merebut kemerdekaan dan mempertahankannya. Mereka tertarik pada pemikiran filsuf Plato agar memakai prinsip-prinsip demokrasi, yaitu keadilan kesejahteraan bersama dan akal rasional dan hikmah.
Di tengah kekalutan dan kekecewaan masalah suara yang hilang di penghitungan penyelenggara, sayup terdengar suara adzan maghrib dari corong suara speaker. Suara yang ditunggu kaum muslimin di bulan Ramadhan menyejukan tenggorokan yang seharian kering kerontang.***
Bagikan artikel ini



