Oleh : Drs. Anton Agapa DARI pada menyesal kemudian  Si Calon Bupati (Cabup) Nabire  kedepan  ini di minta mengevaluasi diri  dulu.  Masyarakat  juga  berhak  mengevaluasi  masa lalunya si Cabup  tersebut .  Akhir-akhir  ini mendengar nama  Cabup yang  diisukan  banyak masyarakat menggeleng-gelengkan kepala karena merasa  janggal  dan tidak pantas, soalnya ada Cabup selama  ini yang masih sangat muda, belum berpengalaman banyak. Itu nanti dalam kepemimpinannya akan bergaya kakuh, ragu, binggung. Bahasa  formalnya akan digunakan  bahasa tiruannya. ada Cabup selama ini tidak mampu berkomunikasi  baik dan enak dengan teman kerja dengan masyarakat, selalu bersikap historis bukan berjiwa demokrasi. Ini  berdampak rusaknya hubungan kerja selama ini kita. Lihat hubungannya berdampak pada bupati dan wakilnya. ‘Keidani , keidaya’ (bahasa Mee) yang artinya lihat hal-hal seperti itu, jangan lihat uangnya. jadi sekali lagi para Cabup meng-evaluasi diri dulu, masyarakat juga  mengevaluasi diri  masa lalunya para Cabup. Ingat, menjadi bupati itu bukan merubah jadi sebuah ‘patung’ yang hanya digerakkan oleh  uang dan orang lain. Menjadi bupati  bukan hanya untuk puaskan hati, karena sudah mencapai Status Sosialnya menjadi bupati itu tampil penuh program prioritas sesuai masalah dan kebutuhan aktual, mesti tampil sibuk, penuh agresip, dan mengerjakan program pembangunan prioritas. Tetapi anehnya baik masyarakat  maupun si Cabup sama-sama  memiliki pandangan yang sama yakni, bahwa orang yang  pantas mencalonkan diri bupati adalah dia yang membagi-bagi banyak uang, biasanya masyarakat terima saja si Cabup yang bermain banyak uang disaat Pilkada. Mengapa ? karena  memang si Cabup bisa membayar masalah ketidaklulusan menjadi bupati dengan uang besar. Masalah ketidakmampuan diri, dan pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan si Cabup  selama ini dapat dia kelabuinya kabut uang besar yang dihamburnya kedepan mata rakyat. Si Cabup yang sesungguhnya tidak pantas menjadi seorang bupati yang didukung saja oleh masyarakat, karena banyaknya uang yang dibagi-bagi pada rakyat selain itu karena rakyat juga menjadikan Pilakada sebagai kesempatan persaingan status sosial antar suku atau antar daerah komunitas adat.Melihat kenyataan masalah dimasa lalu, maka sekarang masyarakat harus mengkritisinya bahwa Si Cabup yang menggunakan uang milyar-milyar besarnya itu merupakan hasil Korupsi atau Uang Pinjaman. Kita kenal orang Papua belum ada pengusaha professional ternama. Si Cabup yang memakan uang bermilyar-milyaran dalam Pilkada begitu sudah menunjukan diri orang itu koruptor. Dapat dibayangkan bahwa orangnya berwatak egoistis, tidak jujur, tidak takut akan Tuhan, dan seterusnya. Apabila ia menggunakan dana pinjaman , maka untuk dikembalikannya tentu akan dimanfaatkan anggaran pembangunan daerah selama masa kepemimpinan daerah dampak lainnya akan terjadi bahwa kuasa dan kewenangan bupati akan diatur atau dikendalikan oleh pihak-pihak yang menaruh utang politik padanya. Itu semua akan terjadi kalau uang dijadikan tolak ukur dan penentu dalam pemilihan seorang kepala daerah bupati. itu kalau rakyat suka memilih-memilih Cabup yang ber-uang banyak saja, tanpa menilai segi kepribadiannya sudah menjadi kenyataan pada 5 tahun silam di Kabupaten nabire. Rakyat sudah memilih Cabup yang ber-uang ini banyak. Tetapi dalam perjalan kepemimpinannya selama 5 tahun terakhir ini ketahuan ketidak- mampuan dirinya. Bupati Nabire dalam 5 tahun terakhir terkesan banyak uangnya, tetapi gagal mengelolahnya karena ketidak-mampuan dirinya. Bupatinya yang tidak mampu pribadinya tetap mengakibat daerah dan rakyat luas yang dipimpinya menjadi korban. Ini keadaan nyata dimasa lalu dari kabupaten ini. Oleh karena itu heee…….rakyat kalau mau memilih Cabup Nabire untuk kedepan ini, jangan memilih banyak uangnya. Sebaliknya pilihlah Cabup Nabire yang pribadinya baik dan pantas. Rakyat yang dapat menilai lantas mengusungnya seseorang Cabup yang pantas sebagai calon independen masyarakat Kabupaten Nabire membutuhkan pembangunan berkwalitas akan lahir dari pemimpin yang berkualitas. Kabupaten Nabire sangat strategis bagi sejumlah kabupaten di kawasan pengunungan. Nabire membutuhkan seorang pemimpin yang berkualitas. Nabire tidak boleh dipimpin oleh seorang bupati yang bermentalitas hidup :  ‘Kida Kega Kauda Kega’ (bahasa Mee) yang artinya berpikir hari ini untuk hari ini, dipikirkan dihari esok untuk urusan hari esok. Kabupaten Nabire tidak boleh dipimpin oleh bupati tanpa program kerja yang jelas dan nyata seperti yang terjadi dalam 5 tahun terakhir ini. Bagi masyarakat Kabupaten Nabire masih terpampang peluang yang luas dapat mengusung calon kandidat bupati Independen, demi rakyat yang banyak dan daerah yang luas kita memilih Kandidat Bupati Nabire yang berkwalitas, walau tidak mempunyai banyak uang. Ingat, memilih kandidat yang ber-uang sama dengan mendukung koruptor, mendukung orang egoistis, orang tidak jujur dan orang yang tidak takut akan Tuhan.(penulis adalah pemerhati masayarakat)