RADEN Ajeng (RA) Kartini terkenal karena coretan suratnya kepada penguasa saat itu yang meminta agar perempuan diperlakukan sederajat dengan kaum lelaki. Kartini memprotes karena saat itu, kaum wanita dikukung dalam rumah, tidak bisa berbuat apa-apa. Perjuangan meminta penghargaan kepada kaum perempuan itulah kemudian, RA Kartini dikenal sebagai tokoh emansipasi Indonesia.   Perjuangan JJ Rumadas, wanita asal Mambor, Kepulauan Harlem, Distrik Mora, Kabupaten Nabire yang satu ini juga boleh dikatakan pejuang kaum perempuan di era gender. Pengarang Habis Gelap Terbitlah Terang, Kartini menantang kaum laki-laki dan penjajah pada masa lalu karena wanita dikekang dalam rumah sehingga terkonotasi kaum perempuan sebagai kaum yang lemah dan tidak bisa berbuat banyak seperti kaum laki-laki. Tetapi Rumadas dari balik asrama mau menunjukkan bahwa Wanita Papua juga mampu mengurus rumah tangganya dengan kemampuan ketrampilannya masing-masing. Pandangan wanita sebagai ‘pelengkap’ bukan hanya di daratan Jawa, Dalam beberapa budaya dan adat istiadat di tanah Papua juga memandang kaum wanita sebagai ‘pelengkap’ sehingga tidak bisa melebihi kaum laki-laki. Pola pandang dan perlakukan masyarakat dari Suku Mee misalnya, wanita memikul beban untuk menaman dan mencabut rumput di kebun, memasak dan mengurus anak-anak, mulai dari bayi hingga balita (bayi lima tahun –red). Demikian juga halnya dengan beberapa suku di kawasan pesisir dan pantai, wanita bertugas meramas sagu, memikulnya ke rumah dan menyiap makanan untuk keluarga. Laki-laki prinsipnya siap makan dari apa yang disediakan kaum wanita, di pedalaman laki-laki hanya membuka kebun, membuat pagar, mendirikan rumah dan menjadi kepala rumah tangga. Demikian juga di kawasan pesisir dan kepulauan, laki-laki menogok sagu, berburu dan mencari ikan dan kembali sebagai kepala rumah tangga. Zaman sudah berubah, kemajuan yang terjadi di mana-mana telah membawa banyak perubahan termasuk pola pandang antara kaum laki-laki dan perempuan. Hampir tidak ada perbedaan antara kaum Hawa dan Eva. Apalagi sejak mulai genjar dengan kampanye gender, wanita dan lelaki hampir tidak ada perbedaan kecuali hanya kodrat yang melekat dengan kaum perempuan yakni mens, hamil, melahirkan dan menyusui. Mama Rumadas pantas dijuluki Kartini dari Mambor karena, sudah 22 tahun mengasuh, membina dan mendidik sesama wanita lain yang sedang menuntut ilmu di Kota Nabire. Bahkan, jauh sebelumnya, ia sudah peduli dengan sesama kaumnya ketika membidangi Pendidikan Luar Sekolah di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Kabupaten Paniai (sebelum pemekaran Kabupaten Paniai, Nabire dan Puncak Jaya dengan cucunya empat kabupaten lain di pedalaman). Ketika dipercayakan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Paniai sebagai pengasuh Asrama Puteri Hasrat Suci Mandiri (kini jadi Panti Asuhan Hasrat Suci Puteri Mandiri), pengalamannya hidup di asrama dengan disiplin yang ketat semasa pendidikan di ODO Fakfak mulai diterapkan di asrama tersebut. Jebolan ODO Fakfak ini mengasuh anak-anak binaannya untuk disiplin dan santun di asrama dan di sekolah. Apalagi anak-anak binaannya sebagian anak-anak perempuan dari keluarga tak mampu, yatim dan piatu yang berasal dari pesisir dan Kepulauan di sekitar Nabire, dan anak-anak dari pedalaman. Mama Asrama menyadari betul, anak-anak binaan yang sekolah di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) dan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) di Kota Nabire akan kembali menjadi ibu rumah tangga dan tidak semuanya akan menjadi pegawai sehingga harus ada ketrampilan-ketrampilan kewanitaan yang harus dikuasai sebagai modal setelah kembali ke keluarga dan di tengah masyarakat. Oleh sebab itu, Puteri Mambor berusia 76 tahun ini selalu mencari celah di tengah kesibukan anak-anak asuhnya dengan memberikan sejumah ketrampilan yang ada kaitan langsung dengan wanita seperti menyulam, menganyam, merangkai kain bekas sebagai hiasan dinding, menjahit dan membuat aneka jenis kue serta piring dan tempat bumbu dari lidi. Tak hanya itu, dengan menggunakan bahan-bahan bekas seperti plastik, botol air munim dan kalengan, anak-anak di Panti Asuhan juga merangkainya menjadi hiasan dinding yang menarik. Salah satu kelebihan di Panti Asuhan yang diasuh Kartini dari Mambor ini, mereka juga belajar membatik. Mereka tidak hanya belajar menjahir baju dan rok dari batik tetapi juga belajar membatik dengan motif khas Nabire. Dan itulah daya kreasi yang disalurkan Mama Rumadas kepada anak-anak asuhnya. Sebuah pertanyaan menarik adalah, siapa yang membiayai makan dan minum setiap hari? Ketika ditanya hal ini, Mama Rumadas di ruang tamu Panti Asuhan, Kamis (7/7) lalu mengatakan Panti Asuhan ini milik Pemkab Nabire, ada sejumlah pejabat yang masuk sebagai pengurus tetapi jarang kumpul untuk merencanakan sesuatu. Pada masa Bupati Yoesoef Adipatah, ada jatah beras dan ada dana tiap bulan. Ketika AP Youw memimpin Nabire, dana diberikan setiap triwulan dan dianggarkan lewat pemerintah. Semasa Bupati Isaias Douw, ada uang makan diberikan setiap triwulan tetapi beras JPS dialihkan lewat Distrik Kota, tidak lancar. “Saya sudah setor uang untuk beras JPS bulan Januari lalu tetapi sampai sekarang kami belum dapat. Tidak tahu, mungkin tidak beras JPS lagi kah,” tuturnya bernada tanya. Disamping perhatian dari pemerintah daerah, I Wayan Mintaya merupakan donator utama bagi panti asuhan ini. Sebab, Asisten I Setda Nabire ini tiap bulan menyumbangkan jatah berasnya bagi anak-anak di panti asuhan,   Panti Asuhan yang didirikan sejak 1994, Mama Rumadas telah membina dan mengasuh anak-anak puteri dari pesisir dan pedalaman sebanyak 462 orang di Panti Asuhan, beberapa diantaranya sudah sarjana. Sukses, mama Kartini Hitam dari Mambor. (ans)