NABIRE - Tokoh adat Papua Tengah, Herman Sayori, mengajak masyarakat adat pesisir yang terdiri dari 6 suku asli pesisir dan kepulauan di Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah, untuk bersama-sama mensukseskan Musyawarah Besar (Mubes) di Kabupaten nabire. Keenam suku asli itu diantaranya, Suku Wate, Yaur/Hegure, Yerisiam, Umari, Napan/Gwoa, dan Moora. Pertemuan yang dilaksanakan di Sekretariat Yeresiam Kalibobo, masih tetap membahas persiapan Mubes untuk memperjuangkan eksistensi.

Herman Sayori yang juga selaku tokoh Adat Saireri II kepada Papuapos Nabire di Sekertariat Mubes 6 suku pesisir, Selasa (19/5/26), mengatakan, di pesisir dan kepulauan masyarakat adat dari enam suku ini mereka adalah pemilik hak ulayat di atas tanah Nabire. Maka perlu ada satu agenda penting yang dipersiapkan.

Dalam hal mempersiapkan Mubes ini yang direncanakan pada tanggal 9 hingga 11 Juli 2026, kata dia, mari kita berhenti untuk bicara di bawah pohon, bicara di pinggir kali, bicara di pinggir jalan. 

"Mari kita coba dari enam suku ini untuk kita fokus. Mari kita sepakat untuk mencari satu momen penting. Dalam hal ini harus ada satu musyawarah besar untuk kita gelar bersama untuk semua buah-buah pikiran yang tadi ada di kelompok ini," ujar Sayori.

Herman Sayori juga mengajak untuk 6 suku ini berkumpul menjadi satu untuk ada di Mubes. Mubes ini adalah salah satu musyawarah besar untuk menghimpun semua buah pikiran dari enam suku untuk melahirkan sesuatu ke depan untuk melihat perubahan yang terjadi dalam kehidupan enam suku yang ada di Nabire ini. 

"Nabire hari ini bukan Nabire seperti dulu, Nabire hari ini merupakan ibu kota dari sebuah Provinsi Papua Tengah," ujarnya.

Sayori juga menambahkan, perubahan itu tidak kompromi dengan kehidupan yang berjalan hari ini. Sebab itu kita dari enam suku harus berjuang dan berusaha mempertahankan hak-hak kita. Di dalam hak ulayat kita, tanah kita, kependudukan kita, dan lain harus dipertahankan. (rob)