NABIRE - Dogiyai pernah dikenal sebagai salah satu tempat produksi kopi, namun kini minim produksi. Kenapa demikian ? Karena, munculnya banyak program pemerintah yang sifatnya tidak mendukung kegiatan masyarakat. Mestinya, potensi yang ada di masyarakat perlu didukung dan dikembangkan guna meningkatkan produksi perkebunan kopi di Dogiyai.     “Ingat kopi murni jenis Arabica cukup terkenal di Dogiyai sejak tahun 70-an, namun program produksi kopi yang pernah jaya di Papua itu, kini tidak diangkat oleh Pemerintah Kabupaten Dogiyai. Jadi dimana, keberpihakan pemerintah daerah dalam mengangkat potensi yang ada masyarakat di Dogiyai,” Demikian seperti diungkapkan Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dogiyai, Meky Dimi, A.Md.Pt kepada media ini Senin (27/7) kemarin di Nabire. Menurut Meky, kalau bicara soal program kerja pemerintah Kabupaten Dogiyai yang ada saat ini tidak berpihak kepada masyarakat. Pada hal,  masyarakat di Kabupaten Dogiyai sendiri sangat pro aktif untuk menggali potensi yang ada. “Hanya saja, peran pemerintah dalam menggiatkan masyarakat dalam hal ini perkebunan kopi sangat kecil,” ungkapnya. Dijelaskan Meky, sebenarnya kuantitas perkebunan maupun produksi kopi di Dogiyai dikenal lebih dulu bila dibandingkan dengan kopi dari Kabupaten Wamena. Akan tetapi, kini perkebunan kopi dan produksinya Wamena lebih terkenal bila dibandingkan dengan kopi Arabica dari Dogiyai. Jika dibandingkan produksi kopi antara Kabupaten Jayawiya dan Dogiyai, kopi Arabica Dogiyai sangat minim produksinya. Sebenarnya, hadirnya pemerintah Kabupaten Dogiyai, lebih proaktif lagi petakan potensi yang ada. Terutama, bagaimana pemerintah menggerakan kembali atau mengaktifkan kembali masyarakat agar selanjutnya produksi kopi di Dogiyai tidak kalah dengan Wamena “Produksi kopi di Dogiyai jaya lebih dulu dari Wamena, akan tetapi karena tidak pro aktifnya pemerintah daerah maka kini potensi kopi di Kabupaten Dogiyai sudah mundur jauh. Ingat, di produksi kopi di Wamena itu pemerintah lebih pro aktif untuk menggali potensi yang ada. Sementara itu, kita di Dogiyai kembali nol, oleh karena itu kedepan kita harus  rintis secara baik, kalau kita mau kembalikan nama besar Dogiyai yang terkenal dengan kopi murni,” Meky mengingatkan. Dengan melihat kondisi seperti itu, kata Meky Dimi kini Bupati Dogiyai dan pimpinan SKPD yang menangani kegiatan teknis harus punya kepedulian terhadap kemajuan rakyat. Kabupaten Dogiyai sangat dibutuhkan orang yang berani ambil tindakan nyata dalam menggali potensi perkebunan kopi.  150.000,- penanaman pohon kopi, pada tahun 2015 ini, dirinya telah melobi ke Pemerintah Provinsi Papua untuk mendapatkan 150 ribu bibit kopi yang akan didistribusikan kepada petani yang nantinya akan ditanam pada lahan 100 hektar. Namun kini menjadi pertanyaan, bila 150.000 bibit pohon kopi didistribusikan kepada petani di Dogiyai apakah masyarakat akan menanam di lahan, karena pertimbangannya pohon kopi yang ada saja kini tidak dirawat dengan baik oleh petani di Dogiyai. Jadi kalau kita mau turunkan bibit kopi, apakah petani tanam atau tidak ?. Mungkin, petani terima bibit pohon kopi yang diberikan, namun dikuatirkan tidak ditanam. Apalagi, penyerahan bibit kopi tidak disertai dengan rangsangan-rangsangan dari pemerintah. “Yang dibutuhkan kedepan di Dogiyai adalah canangkan gerekan penanaman kopi harus dilakukan. Pemerintah dan masyarakat mari kita bersama tanam kopi secara bersama untuk menghidupkan kembali produksi kopi di Dogiyai,” jelasnya.  Ungkapnya, dana Otonomi Khusus (Otsus) yang turun ke Dogiyai cukup besar sehingga harus bangkitkan masyarakat untuk menggali potensi yang ada. Apalagi, visi misi Gubernur Papua, Lukas Enembe, S.IP.MH saat ini adalah Papua harus Bangkit, Papua harus Mandiri dan Papua harus Sejahtera.  Bidang perkebunan kopi di Dogiyai harus dibangkitkan kembali agar nantinya petani bisa produktif, dalam arti bahwa masyarakat punya lahan kopi yang menetap, dari lahan kopi menetap inilah bisa menghasilkan produksi yang berkualitas dan berkelanjutan. Hal ini harus dilakukan dalam rangka persaingan produksi kopi yang berkualitas dan masyarakat bisa sejahtera. Jadi, antara produktif, mandiri dan sejahtera ini terjadi maka ekonomi masyarakat bisa berjalan dengan baik. Mata rantai seperti ini harus kita ciptakan di Dogiyai. Dengan demikian masyarakat Papua tidak kalah saing dengan pendatang yang ada di Papua.  “Masyarakat kita jangan hanya menjadi penonton saja di negeri kita sendiri, akan tetapi uang yang banyak turun di kampung-kampung itu kita bisa putar di kampung kita sendiri. Jika, hal seperti ini kita abaikan maka dana yang begitu banyak itu tidak dinikmati dengan baik oleh masyarakat,” ungkapnya. Dijelaskannya lagi, keberpihakan pemerintah untuk membuat suatu gerakan penanaman kopi itu dapat dilakukan maka target lima tahun kedepan gerakan penanaman kopi, kita bisa dapat 1 juta pohon kopi. Maka semakin banyak masyarakat tanam kopi, semakin banyak pula masyarakat dapat uang. Semakin banyak jumlah pohon kopi, maka semakin banyak pula masyarakat meraut uang. Karena, pohon kopi itu sumber uang sekarang tinggal bagaimana keberpihakan pemerintah dengan dana otsus yang cukup besar ini. Dana Otsus itu untuk masyarakat akan tetapi kenapa pemerintah tidak tetapkan anggaran untuk belanja kopi. Standar internasional harga kopi Rp. 40.000 perkilo, jika Pemerintah Dogiyai dengan dana Otsus dengan harga yang lebih besar, maka masyarakat siapa yang tidak mau tanam kopi.  “Dana Otsus ini untuk masyarakat, kalau kita belanja kopi dari masyarakat maka kita tidak salah pakai dana Otsus itu. Karena, dana kita sudah pakai sesuai keberpihakan kepada masyarakat, yayasan P5 sudah ada di Moanemani tinggal bagaiaman pemerintah bekerja sama dengan yayasan P5, untuk kelola kopi.  Hal seperti inilah yang harus dipikirkan oleh pemerintah, kalau tidak demikian potensi yang ada hanya tinggal begitu saja. Sebelum Nabire masih bergabung dengan Nabire kopi Dogiyai cukup terkenal, namun pemerintah lebih dekat dengan masyarakat di Dogiyai tetapi tidak menggali potensi yang ada,” terangnya.  Sejumlah SKPD yang sasarannya ke petani tetapi sampai saat ini potensi daerah tidak digali. Kalau begitu, imbuh Meky, apa saja yang dikerjakan oleh sejumlah SKPD  di Dogiyai. Masyarakat tidak bisa mandiri, tidak bisa sejahtera. Pembinaan kepada masyarakat tidak terarah, masyarakat Dogiyai mau dibawah kemana?.  “Kelompok produktif tidak ada, petani yang produktif sampai saat ini belum ada, maka pemerintah daerah Dogiyai kerja apa,” jelasnya seraya menambahkan, angan ciptakan program yang tidak berpihak hanya untuk kejar uang. Kalau begitu sekarang apa tolak ukur untuk bangun orang Papua, kalau petani kita belum produktif, belum mandiri, belum sejahtera.  Jadi, sekarang kalau kita mau kembali ke produksi kopi yang lebih baik lagi, harus betul-betul ciptakan gerakan penanaman kopi setiap hari jumat turun ke kampung-kampung, tinggal koordinasi dengan kepala-kepala distrik, kepala-kepala kampung untuk menanam kopi, jangan pikirkan lahannya karena masyarakat punya lahan yang cukup luas. (hendrik anouw)