Disiplin Bukan Sekadar Aturan, Tapi Jalan Menuju Masa Depan

NABIRE - Suasana khidmat upacara bendera hari Senin, (29/9/2025), di SMA Negeri 1 (Smansa) Nabire terganggu oleh sebuah fenomena yang memprihatinkan. Di mana, gelombang keterlambatan massal yang melibatkan 50 hingga 60 siswa.
Peristiwa ini bukan hanya sekadar pelanggaran tata tertib, tetapi menjadi cermin mendalam atas budaya disiplin yang masih perlu dibangun bersama.
Berdasarkan laporan investigasi di lapangan, puluhan siswa tersebut tiba secara berbondong-bondong di gerbang sekolah saat upacara telah berlangsung.
Mereka terlihat bingung, menggerombol di sekitar lapangan, bahkan mengantri tidak tertib di depan guru piket untuk melapor. Kekacauan ini secara nyata mengganggu konsentrasi dan kekhidmatan seluruh peserta upacara.
Kepala sekolah Smansa Nabire, Yanus Arwam, menegaskan pentingnya kolaborasi tiga pihak. "Kami akan perkuat kolaborasi segitiga emas: sekolah, orang tua dan siswa. Aturan seperti larangan membawa Hp sudah disepakati bersama dengan tanda tangan orang tua," ujarnya.

Menanggapi insiden ini, Yanus berkomitmen untuk melakukan evaluasi menyeluruh. "Kami akan tinjau ulang sistem piket dan koordinasi dengan pihak berwenang untuk mengatur lalu lintas di sekitar sekolah, khususnya pada hari senin," tegasnya.
Sementara itu, Guru BK, Ahmad Sofyan menambahkan, terkait soal tim medis dengan sumber daya terbatas yang terbatas. Guru bimbingan dan konseling Smansa 1 Nabire, dengan suara lirih menjelaskan tantangan yang dihadapi. "Hanya ada dua guru BK untuk menangani 1.200 lebih siswa. Rasio ini tidak ideal untuk pembinaan disiplin yang optimal," katanya.
Sofyan menekankan pentingnya keteladanan dan kolaborasi. "Sebelum mendisiplinkan siswa, guru harus disiplin dulu. Keteladanan adalah kurikulum tersembunyi yang paling powerful. Kami juga butuh kolaborasi semua guru, bukan hanya mengandalkan BK," urai Sofyan.

Dari angket yang dibagikan kepada siswa yang terlambat, terungkap pola penyebab yang kompleks. Alasan klasik seperti ‘alarm tidak berbunyi’ atau bangun kesiangan masih mendominasi. Namun, ketika puluhan siswa mengalaminya secara bersamaan, ini mengindikasikan lemahnya kesiapan mental menyambut hari pertama sekolah setelah libur akhir pekan.
Faktor eksternal yang paling menonjol adalah kemacetan parah di lingkungan sekolah pada pagi hari itu. Kendati demikian, solusi personal yang ditawarkan siswa, seperti menyetel alarm lebih awal atau mempersiapkan seragam semalam, dinilai tidak memadai untuk mengatasi masalah yang sudah berskala massal ini. Diperlukan intervensi sistematis dari seluruh pihak sekolah.
Sebelumnya, pihak sekolah telah memiliki seperangkat aturan yang jelas. Terkait keterlambatan, ada toleransi 10 menit. Namun, untuk ketidakhadiran hingga tiga kali, orang tua wajib dipanggil. Jika pelanggaran berulang sanksi terberat berupa ‘surat pindah’ dapat dikeluarkan.
Selain sanksi, sekolah juga mengedepankan pembinaan. Untuk pelanggaran seperti baju tidak dimasukkan atau membawa Hp, langkah pertama adalah pengingatan dan penyitaan. “Setiap hari pun saya lakukan pengingatan, memberikan penguatan positif,” jelas Sofyan mengenai seragam.
Sementara untuk Hp, pihak kesiswaan akan menyita dan hanya mengembalikannya setelah memanggil orang tua untuk menimbulkan efek jera
Menjawab strategi peningkatan disiplin di luar sanksi, Sofyan memiliki filosofi yang mendasar. “Sebelum mendisiplinkan siswa, tentu langkah pertama yang harus dilakukan adalah gurunya dulu harus disiplin. Kalau gurunya sudah disiplin, Pasti siswa juga akan ikut disiplin,” paparnya. Pernyataan ini menyiratkan bahwa disiplin bukanlah perintah satu arah, melainkan budaya yang dibangun bersama dari keteladanan menuju Senin yang lebih tertib.
Insiden keterlambatan massal ini harus menjadi momentum refleksi bersama. Sekolah direkomendasikan untuk mengevaluasi sistem piket di hari Senin, mensosialisasikan ‘zero tolerance’ untuk keterlambatan upacara dan berkolaborasi dengan pihak eksternal untuk mengurai kemacetan.
Program seperti ‘Senin disiplin’ dengan insentif bagi kelas terbaik juga dapat menjadi pendorong. Yang pada akhirnya, seperti tersirat dalam judul, disiplin bukanlah sekadar hukuman atau aturan yang membelenggu.
Melainkan, ia adalah jalan yang disepakati bersama untuk menciptakan lingkungan nyaman dan membentuk pribadi yang bertanggung jawab, sebuah bekal berharga untuk menapaki masa depan yang lebih gemilang.(siswa/siswa kelas XI SMAN 1 Nabier dari kelompok 3)
Bagikan artikel ini



