DEBU
Cerpen: Abdul Munib Entah dari mana ia hendak memulai ceritanya tentang sesuatu yang dipertanyakanya selama ini tentang siapakah dirinya yang sebenarnya. Orang Kampung Cihimpit kenapa memanggilnya Raden. Sebuah gelar atau julukan milik keluarga kerajaan yang tak layak disematkan pada anak petani di kampung seperti dirinya.

Cerpen: Abdul Munib
Entah dari mana ia hendak memulai ceritanya tentang sesuatu yang dipertanyakanya selama ini tentang siapakah dirinya yang sebenarnya. Orang Kampung Cihimpit kenapa memanggilnya Raden. Sebuah gelar atau julukan milik keluarga kerajaan yang tak layak disematkan pada anak petani di kampung seperti dirinya.
Yang dia tahu moyang-moyangnya adalah hanya petani desa. Mulai bapaknya, Simbah, Buyut, Canggah, Wareng, Udeg-udeg, Gantung siwur, Garopak senthe sampai ke atas moyangnya semua petani biasa. Ia kadang berpikir apakah orang-orang di kampungnya hanya sedang ngepreng dirinya saja.
Suatu ketika sampailah ia di kampung hulu, di bantaran sebuah sungai penuh bebatuan, tempat yang diceritakan oleh Simbah Putri. Dia mencari satu nama yang disimpannya, Pak Guru Danu Reja. Dia menanyakan apakah di kampung ini dulu sekali pernah tinggal seorang dari kedaton. Pak Guru tak menjawabnya langsung, tapi dia mengajak Debu jalan-jalan menyusuri sungai Nokelok. Katanya memang dulu pernah ada tokoh yang tersembunyi di kampung itu, Raden Sastradikarama. Tapi orang kampung pantang menyebutnya apalagi menceritakannya.
Debu semakin pusing tapi tambah penasaran. Kata Pak Guru, Debu harus pergi jauh ke barat ujung kulon pulau itu untuk menanyakannya langsung pada pemilik cerita. Orang itu sudah berumur sekitar empat ratus tahun. Debu tambah bingung mosok hari gene ada manusia umurnya ratusan tahun.
Tapi fitrah manusia dituntun oleh rasa ingin tahu yang tersimpan dalam dirinya. Singkat cerita Debu sampai ke suatu kampung jauh di pelosok pegunungan karang. Orang yang dicarinya dapat ia temukan. Tapi ia hanya diberi waktu sedikit. Dan disuruhnya untuk melakukan tapa. Tapi bukan tapa menyendiri di gua tanpa makan minum. Tapa yang dimaksudnya adalah tapa pencarian diri ke dalam.
"Hari ini kamu jauh-jauh mencari saya, itu pencarian keluar. Tak ada apa-apa di luar. Karena semuanya ada di dalam dirimu sendiri. Semua naskah lontar tentang yang kau cari masih utuh semua tersimpan di Kerajaan Udang Karang," ujar kakek berjenggot putih yang panjangnya terjuntai ke bawah. Herannya badannya tetap gempal dengan kulit hitamnya yang khas.
Mulai dari situ, Debu tak lagi bertanya kepada siapapun tentang cerita yang terkait dirinya dan muasal moyangnya. Petunjuk terakhir mengarahkan pencarian ke dalam dirinya. Ia kemudian gandrung kepada filsafat. Seluruh buku filsafat dilahapnya habis. Tapi ia temukan para pelajar filsafat terjebak di langit pemikirannya dan tak mampu turun ke bawah ke lumpur-lumpur sawah kehidupan nyata masyarakat. Mereka hanya suka berdebat, tidak bangkit karena gagal memformulasikannya ke dalam apa yang harus dikerjakan.
Banyak para agamawan yang mengklaim sebagai ahli tapi tak mampu mengurai Haqiqah Annubuah. Ya hakikat kenabian. Tanpa makrifat akan hal ini agama manusia akan dipaksakan untuk menghadirkan metafisika kedalam sosok manusia jasad. Tanpa makrifat terhadap hakikat kenabian, agama manusia akan terlunta-lunta ketika nabinya telah tiada. Jalan sendiri menyusuri lorong-lorong tafsir-tafsir yang banyaknya seperti pasir di pantai. Debu cukup lama menyimak agama manusia.
Debu menatap dirinya dalam cermin batin. Segalanya yang berupa bahan baku atau maddah adalah cangkang telur kehidupan dunia marcapada. Jelajah ke cakrawala mayapada dunia filsafat, ternyata hanya alam raya dualisme yang menampilkan layar kebhinekaan esensi. Hampir-hampir ia kehilangan dirinya di sana. Namun, ketika ia memaksa masuk kedalam ketunggalan eksistensi, ia masuk kedalam labirin tanpa cahaya di maqam manakah dia berada.
Dia mencoba menapaki jalan freewill, jalan upaya tasyri yang segala pemahamannya tentang metafisika ia tak boleh ikut pemahaman siapapun. Harus pemahamannya sendiri yang ia cari sendiri. Kalau waktu dan tekad cukup untuk dirinya menjadi seorang rujukan maka ambilah, jika tidak ada seseorang yang hidup untuk membuat rujukan detail atau landasan gerak ibadah perorangan atau hukum transaksi sosial harus diikutinya.
Tapi pencarian Debu sudah memakan waktu hampir setengah abad. Dulu bapaknya sudah menghabiskan keringatnya di sawah untuk puluhan ton gabah padi membiayainya di pesantren. Manusia dan hadapannya tentu akan menembus segala perjalanan waktu. Debu tertunduk bertegakur di depan komputer redaksi yang sudah menemaninya tiga puluh lima tahun terakhir ini.
Kegandrungan Debu kepada bangsa baru yang diwarisi moyangnya menambah beban pencariannya. Bagaimana bisa dirinya, Tuhannya dan bangsanya terrumuskan dalam suatu formula yang dapat dimanifestasikan kedalam sebuah karya yang dapat menjadi legasi, bukan saja di bumi melainkan juga di langit. Merintis manusia merdeka yang bertanggung jawab.
Bahkan dalam serahkan debu-debu kosmos, dimana alam semesta berserak dalam gerak fisika horisonnya, dirinya dituntut mempertahankan prinsip kelayakan. Dimana amanat rasionalnya menuntut gerak vertikal, dimana itu semua mustahil tanpa ia memakrifati siapa dirinya, kemana tujuannya, dengan apa dan cara bagaimana ia dapat mencapai tujuan, bahkan siapa sang penunjuk jalan sekarang.
Sampai Debu menemukan sebuah puisi di laman Facebook tentang sebuah wasiat seorang ayah kepada anaknya. Tertulis begini :
Surat Wasiat Seorang Ayah
Nak, dalam keadaan seperti apapun
Jangan tinggalkan Imanmu
Meski kau harus gugur
Meski kau harus hancur dan lebur
Berkeping-keping
Dan dari kepingan itu terbelah lagi
menjadi lebih kecil lagi dari debu,
Sehingga bahasa pun kesulitan untuk mengatakan itu rupa apa,
hingga tubuhmu tak dikenali oleh para malaikat karena tak bisa dibedakan dengan debu pada umumnya.
Tak dikenali oleh bidadari, sebab tak punya bentuk, cuma debu-debu begitu saja bertumpuk.
Tak dapat dikatakan karena yang lebih kecil dari pecahan atom, neutron, elektron, dan proton belum punya nama dalam terminologi ilmu manusia
Dalam keadaan seperti itupun nak, tetap jangan tinggalkan Imammu
Bantu dia menuntut darah Datuknya yang belum terbalaskan
Bukan karena dia butuh bantuanmu
Melainkan hanya itu yang terlayak bagi seorang lelaki kapan dan dimana pun di muka bumi sebagai anak manusia sepertimu
Maka akan mulialah rahim yang telah mengandungmu
Jangan cari ayah ke mana
Ayah didekatmu tak jauh dari debu juga
di jejak bekas injakan telapak terompah Imanmu.***
Bagikan artikel ini



