Buku Rekam Jejak Perjuangan Masyarakat Moni Menuju Intan Jaya Siap Beredar
INTAN JAYA - Buku yang berjudul rekam jejak ‘Sebuah Refleksi’ perjuangan Masyarakat Moni menuju Intan Jaya yang ditulis oleh Nenu Tabuni, S.Sos siap dilounching (diluncurkan) pada tanggal 17 Agustus 2015, usai upacara HUT Kemerdekaan RI ke-70 di Ibukota Kabupaten Intan Jaya
Bagikan
INTAN JAYA - Buku yang berjudul rekam jejak ‘Sebuah Refleksi’ perjuangan Masyarakat Moni menuju Intan Jaya yang ditulis oleh Nenu Tabuni, S.Sos siap dilounching (diluncurkan) pada tanggal 17 Agustus 2015, usai upacara HUT Kemerdekaan RI ke-70 di Ibukota Kabupaten Intan Jaya, Sugapa. Untuk itu si penulis Nenu Tabuni, yang ditemui Papuapos Nabire Jumat (14/8) menuturkan, dalam semangat HUT RI ke-70 tahun 2015 selaku intektual asal Kabupaten Intan Jaya ingin membagi kepada sesama teristimewa masyarakat Intan Jaya dengan peluncuran buku perdana ini.
Sehingga diharapkan selesai upacara peringatan HUT RI, selaku penulis akan memberikan buku ini kepada Bupati Kabupaten Intan Jaya Natalis Tabuni,SS.,M.Si yang selanjutnya dibagikan secara gratis kepada semua peserta upacara, baik itu PNS, TNI/Polru, para tokoh, mahasiswa atau pelajaran dan masyarakat luas.Dengan harapan selaku penulis agar semua masyarakat bisa membaca ,karena buku ini merupakan sejarah bagi orang Moni yang berawal dari Kabupaten Dati II Paniai dulu di Nabire kemudian pindah ke Kabupaten Paniai di Enarotali hingga menentukan Kabupaten sendiri Intan Jaya.Dan ini merupakan buku pertama yang ditulis oleh Nenu Tabuni selaku kaum intelektual asal Intan Jaya, sehingga kedepan diharapkan ada lagi generasi muda Intan Jaya asal Suku Moni yang bisa menulis dan mengangkat pembangunan daerah dalam bentuk tulisan.Tambahnya, dalam isi buku ini telah mengangkat sejarah masyarakat Intan Jaya dalam penyelenggaraan pemerintah semenjak orde lama hingga reformasi saat ini atau sekarang dengan menitik beratkan pada 6 pokok pikiran yakni : I. Intan Jaya dalam sebuah perjalanan sejarah, II. Sejarah yang tidak memihak, III. Hujan Berkah Reformasi 198I, IV. Daerah Otonom Baru Intan Jaya, V. Intan Jaya hari ini dan VI. Merawat harapan di Bumi Intan Jaya.Lanjut Nenu, tidak bisa dipungkiri bahwa era reformasi menjadi gerbang pembuka untuk perjalanan bangsa Indonesia saat ini dan dimasa yang akan datang, maka tidak bisa dipungkiri pula di usia reformasi yang masih terbilang muda itu berbagai persoalan masih terus membayang.Sudah tiga kali estafet kepemimpinan nasional berjalan yaitu Presiden BJ. Habibie, Abdul Rahman Wahid, Megawati Soekarno Putri dan Susilo Bambang Yudhoyono, namun demikian bangsa ini masih belum luput dari persoalan pokok kemiskinan, pengangguran, pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), korupsi, kekerasan atas nama suku dan agama serta berbagai macam persoalan lainnya.Sebab rasa, sarannya tidak ada yang lebih istimewa di dunia ini selain dari pada pengakuan yang tulus akan harkat dan martabat sebagai manusia yang ‘bebas dan merdeka’ dan pengakuan adil dan setara bagi siapapun di atas bumi ini atas nama kemanusiaan.Karena apa yang kita proyeksikan, jelasnya, tentang Intan Jaya kedepan sangat tergantung dari cerita-cerita sejarah tersebut termasuk apa yang kita buat untuk Intan Jaya hari ini berangkat dari perenungan sejarah yang telah dilewati bersama. Sebab, tidak ada yang lebih tulus dari pada sebuah niat untuk membuktikan diri demi tanah tumpah darah Intan Jaya.Dan lagi tidak ada waktu untuk terus meratapi sejarah masa lalu, dan cukup jadikan titik pijak untuk belajar dan menerimannya menjadi bagian dari sebuah perjalanan hidup sambil terus berjuang saat ini dan hari ini untuk kesejahteraan masyarakat Intan Jaya. “Karena bagaimana pun peluh dan keringat masa lalu juga harus dibayar dengan perjuangan yang tak pernah henti untuk membuatnya menjadi lebih maju dan bermartabat lagi, dengan demikian buku ini bisa menjadi rujukan sejarah untuk generasi sekarang dan yang akan datang,” imbuhnya. (des)
Bagikan artikel ini



