Amerika Game Over, Kok Bisa ?

Esai : Abdul Munib*
Kekhawatiran penulis terkenal Amerika terhadap Dunia Pasca-Amerika menandakan tidak akan ada lagi Negara Adidaya itu nantinya. Menurut Thomas Friedman, seluruh tanda telah menunjukan ke arah sana.
Yang benar-benar membuat saya khawatir, katanya, adalah bahwa di akhir karier menulis saya, saya harus menghadapi dunia pasca-Amerika. Itu dikatakan Thomas Friedman, seorang penulis terkenal AS, dalam kegamangannya.
Dirinya amat khawatir jangan -jangan waktunya sudah amat dekat runtuhnya negara adi daya itu. Indikator-indikatornya sudah mulai bermunculan. Kekuatan otot-ototnya sudah melemah. Upaya-upayanya untuk tetap dipersepsi sebagai kekuatan adi daya, mengalami realitas gagal maning gagal maning.
Thomas menilai bahwa bentuk peperangan asimetris yang kita hadapi sungguh luar biasa dan mengkhawatirkan. Kita kehilangan jet-jet tempur karena kita menyerahkannya kepada sekelompok orang bersendal jepit di Houti Yaman. Sementara aksi genosida Zionis yang didukung Amerika, terus berjalan didepan penyaksian mata internasional dapat dengan drastis menurunkan pamor nama baik Amerika dan Blok Baratnya pada umumnya.
Siapakah Thomas Friedman itu ? Thomas Friedman adalah kolumnis terkenal The New York Times dan penulis buku-buku geopolitik dan globalisasi. Ia dikenal karena analisisnya tentang tatanan global dan masa depan kekuatan dunia. Kini ia sudah bicara dunia setelah Adidaya Amerika, akan terjadi seiring melemah AS. Makna dunia Pasca-Amerika adalah
Istilah post-American world (dunia pasca-Amerika). Ungkapan ini sering digunakan untuk menggambarkan kemungkinan menurunnya dominasi global Amerika Serikat, bukan berarti AS menghilang, tetapi dalam arti tidak lagi menjadi satu-satunya penguasa tatanan dunia. Kekalahan oleh ‘orang bersendal jepit’ (flip-flop wearers)
ini metafora yang keras untuk menggambarkan ketidakmampuan kekuatan militer konvensional AS menghadapi taktik perang gerilya atau non-konvensional dari kelompok-kelompok kecil seperti di Afghanistan, Irak, atau bahkan dalam serangan siber. Komentar ini menunjukkan kerapuhan strategi militer tradisional AS terhadap ancaman asimetris modern.
Propaganda lawan menyajikannya sebagai bukti keruntuhan dominasi AS. Namun penting untuk menyadari bahwa kutipan ini digunakan secara selektif untuk mendukung narasi tertentu, dan bisa jadi di luar konteks aslinya. Ini kritik terhadap Dominasi AS vs Ketertiban Global.
Kekhawatiran Friedman tidak semata tentang jatuhnya AS, tetapi lebih kepada kekosongan kekuasaan global yang mungkin terjadi. Ia menyoroti bahwa jika tidak ada negara yang mampu menjaga ketertiban dunia, kekacauan bisa meningkat. Bukan berarti kekuatan baru seperti China, Rusia, atau Iran otomatis membawa stabilitas, menurutnya.
Kesimpulan dari pernyataan Thomas Friedman mencerminkan kecemasan intelektual terhadap transformasi global bukan sekadar kekalahan militer, melainkan hilangnya struktur global yang selama ini digerakkan oleh AS.
Kehancuran zionis dalam Perang Gaza bukanlah terletak pada gedung-gedung militer yang hancur dirudal musuh-musuhnya. Melainkan runtuhnya ilusi kehebatan 'Negara Israel' yang selama ini dihembuskan oleh Pers Barat. Melelehnya topeng Kedigdayaan menunjukan kerapuhan rezim itu yang tak kuasa menemukan dan membebaskan tawanan warganya dari tangan milisi Hammas yang bukan tentara reguler sebuah negara. Dunia tahu kini Zionis dan pelindungnya, yakni Amerika, ternyata tak ada apa-apanya.
Hari-hari yang ditunggu di depannya, adalah hari-hari game over Kejayaannya mengendalikan dunia sejak kebangkitan Barat di abad pertengahan dulu. Hari esok peradaban ini hampir dipastikan bukan lagi punya Barat yang unipolar. Melainkan milik Timur yang multipolar. Sebagai karpet merah yang digelar menjemput munculnya Sang Pemimpin Ratu Adil, karunia terbesar Tuhan untuk umat manusia. Dan seseorang tak akan terzalimi di era kepemimpinannya.
*Esais adalah Penanggung-Jawab Koran Harian Papuapos Nabire dan Papuapos TV
Bagikan artikel ini



