NABIRE - Bertempat di Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah, memperingati Hari Malaria sedunia pada 25 April 2024, dan diikuti oleh kader-kader serta Puskemas yang ada di 8 kabupaten, lintas sektor kesehatan di provinsi Papua Tengah bersatu untuk mengeliminasi malaria, terkhususnya di Papua Tengah.


Dukungan pendanaan dari global fund yang tentunya dukungan itu juga terbatas dan bermitra dengan teman-teman di kesehatan dari level nasional kementerian kesehatan, kemudian ada dari provinsi Papua Tengah, Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire dan ada 8 kabupaten wilayah Papua Tengah.


"Peringatan ini untuk mengingatkan kita kembali, bahwa kita punya tujuan besar itu eliminasi malaria di tahun 2023 untuk Indonesia, tapi Papua induk menargetkan kalau tidak salah tahun 2028 nanti pasti teman-teman di Papua Tengah akan memikirkan kapan untuk mengeliminasi malaria" ungkap SR Primari Papua, Krina Tohariadi.


Adapun kegiatan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah diantaranya, yaitu tujuan kegiatan sendiri untuk menekan angka kematian karena malaria dan jumlah sakit akan malaria. Untuk pendekatannya sendiri seperti apa didukung oleh global fund, itu ada melalui dinas kesehatan penyediaan logistik serta ekalasisten, kemudian melalui Persatuan Karya Dharma Kesehatan Indonesia (Perdhaki) dan teman-teman di kabupaten, jadi setiap kabupaten itu ada mitra lokal, kebetulan di Nabire Ibukota Provinsi Papua Tengah itu, ada Yayasan Kristus Sahabat Kita," katanya.


Penguatan kader menjadi terpenting dalam memperingati hari Malaria, karena kader-kader inilah yang akan menolong masyarakat dan tentu punya semangat serta komitmen yang tinggi agar bisa mengendalikan malaria di Papua Tengah khususnya.


Program-program yang sudah berlangsung ini diharapkan agar masyarakat bisa mengurangi kasus malaria di rumah dan sekitarnya sehingga bisa untuk memberantas malaria.


"Program ini sudah berlangsung dari tahun 2015, kemudian direncanakan akan sampai 2016. Nah ini masyarakat harus siap nanti kalau ada pendanaan diharapkan masyarakat harus bisa swadaya memerangi Malaria bahkan mengurangi kasus malaria di tempat masing-masing, sehingga momen hari Malaria kita buat setiap tahun mengingatkan kembali dan menguatkan untuk memberantas malaria," kata Krina Tohariadi.


Ungkapnya, kasus malaria yang terjadi tentunya sangat mengkhawatirkan bagi masyarakat terkhususnya di Papua Tengah yang merupakan daerah otonomi baru, tentunya penanganan kasus malaria ini agar terus dilakukan untuk mengurangi kasus malaria terjadi.


"Indeks penurunan kasus malaria, kita masih pakai data lama, penurunannya ada, cuma setiap kabupaten angka penurunannya tidak terlalu signifikan. Ini yang kita selalu monitoring dan evaluasi untuk kenapa belum turun secara signifikan. Kenapa ada yang stagnan, rencana ada 2 kabupaten yang kita sudah kejar untuk eleminasi malaria, mungkin di tahun ini karena angkanya hampir sudah dibawah satu kasus," tandasnya.


Di sini akan dicek, apakah malaria impor atau malaria setempat. Kalau impor kan dari luar dan datang dan menjadi kasus, jika tidak ada kasus lagi kita mendorong untuk eleminasi malaria tentunya ada tahapannya secara administrasi, sehingga ada ketentuan dapat sertifikasi eleminasi malaria itu yang provinsi Papua Tengah mau kejar.


Adapun harapan disampaikan Krina Tohariadi, agar indeks penurunan kasus malaria di Papua Tengah terjadi. Bila dirasa demam segera untuk periksa malaria dan lingkungan rumah, seperti tempat genangan air dan sampah. Jika menemukan hal tersebut kubur tempat itu biar tidak terjadi induk baru, semak sampah itu harus dibersihkan dan masyarakat sudah bergiat, komunitas sudah bergiat, terus stakeholder lain itu mereka akan mensupport melalui kualitas sanitasi, dan kualitas hidup, karna dampak malaria itu sangat merugikan bagi ekonomi dan pendidikan dan Papua ini menyumbang 80% malaria untuk Indonesia," tutupnya.(edi)